Pengorbanan Istri Ke 2

Pengorbanan Istri Ke 2
Wasiat


__ADS_3

"mas Robi mulai saja kapan mas siap, sekarang atau besok, asal jangan terlalu lama mas," jawab Hanum.


"baiklah,,, tapi sebentar jika memang perusahaan itu dulunya milik keluargamu, apa kamu rela menjatuhkan perusahaan keluargamu sendiri.?" tanya Robi.


"kenapa aku melupakan hal itu." ucap Hanum.


"atau begini saja, mama dan mama Ndari hubungi saja notaris yang dikuasakan kakek mengurusi surat wasiat kakek. kita atur pertemuan dengan notaris itu. mama ndari masih ingat tidak siapa notaris yang dikuasakan itu.?" lanjut Hanum.


"pengacara Antonie, saya ada nomer telpon beliau nyonya," sahut bik Narsih.


"benarkah bik, kalo begitu sini biar saya hubungi." jawab Hanum.


"ini nyonya," ucap bik Narsih sambil menyerahkan handphonenya.


Hanum pun menghubungi pengacara Antonie melalui hp bik Narsih.


tuuuuttt tuuuuuttt" hallo selamat sore," jawaban dari sebrang.


"iya selamat sore juga, benar ini dengan pak antonie,?" tanya Hanum.


"iya benar, bukankah ini nomer bu Narsih pelayan tuan Sudirjo.?" tanya pak Anton.


"betul pak, dan perkenalkan saya Hanum cucu dari kakek Sudirjo." jawab Hanum.


"oh benarkah.? bisakah Bu Hanum jelaskan ibu dari putri Bu Sundari atau Bu suwindah.?" pinta pak Anton.


"saya putri dari Bu suwindah pak, bisakah kita bertemu untuk membahas masalah surat wasiat kakek saya.?" tanya Hanum.


"bisa sekali Bu, bahkan ini yang saya tunggu-tunggu. kira-kira kapan kita bisa menjadwalkan untuk bertemu." ucap pak Anton.


"kalo tidak ada kesibukan, bisakah bapak menemui kami sekarang, kebetulan semua sekarang sudah berkumpul dirumah saya." pinta Hanum.


"bisa-bisa Bu, ibu kirimkan saja alamat ibu, dan saya akan segera kesana." jawab pak Anton.


"baiklah pak, kami tunggu kedatangan bapak." lanjut Hanum. kemudian Hanum pun menutup telpon dan mengetik alamat lengkap rumahnya untuk dikirim ke pak antonie.


"mas tolong antar aku ke kamar, aku akan beri ASI dulu pada Tara, mumpung pengacara itu belum datang." pinta Hanum pada Galang.


"iya sayang ayo." jawab Galang.


"mbak Hanum apa saya boleh ikut, saya ingin lihat bayi mbak, ?" pinta wati.


"boleh mbak Wati, ayo." jawab Hanum.


"aku juga ikut" ucap Joko.


"kalo kamu nanti dulu bro, istriku mau ngasi ASI bayi kami, jangan macam-macam," sahut Galang


"iya iya gue lupa," jawab Joko kesal.

__ADS_1


Hanum pun masuk ke kamarnya, dilihatnya Devan dan Devi tertidur diantara baby Tara. Hanum tersenyum melihat ketiga anak-anaknya.


"lihatlah mereka mas, semoga sampai nanti mereka selalu rukun ya mas," ucap Hanum.


"iya sayang, amiin." jawab Galang.


"tolong angkat Tara mas, dia harus bangun waktunya dia netek sekarang." pinta Hanum.


"uuppppss anak papa, ayo bangun sayang, biar cepat besar ayo mimik ***** nya dulu." ucap Galang sambil mengangkat anaknya.


kemudian ditaruk dipangkuan Hanum.


benar saja baby Tara langsung meliut-liutkan badannya dan berlahan membuka matanya.


"oooeeekkk ooeeekkk" baby Tara menangis karena merasa tidurnya terganggu.


"ayo ***** dulu sayang," ucap Hanum kepada bayinya.


baby Tara pun langsung menyedot ASI-nya dengan kuat.


"ihh anak papa jangan kencang-kencang sayang, sisain buat papa dong sayang," ucap Galang mengoda anaknya.


"apa sih papa ini, gak malu apa ada Tante Wati loo pa," jawab Hanum sambil menirukan suara anak kecil.


"iya pak Galang ini, masa gak mau kalah sama anaknya?" goda Wati.


"iya,iya boleh lah, lagian jatah Tara kan cuma dua tahun. kalo jatah papanya kan selamanya." jawab Galang.


"papa, Cece mau lihat adik," tiba-tiba Devi bangun.


"ohh Cece dEvi udah bangun dik," sahut Galang.


"iya pa, aku mau lihat dedek" rengek Devi.


Galang pun mengendong Devi mendekat ke adiknya.


"dedek lagi ***** ya pa," tanya Devi.


"iya sayang, biar cepat besar seperti Cece devi." jawab Galang.


"bang Devan bangun bang, lihat dedek lagi ***** bang," Devi mencoba membangunkan Devan.


Devan pun terbangun dan melihat baby Tara yang masih asik netek.


tok tok tok. "permisi nyonya, pengacara antonie sudah datang." panggil bik Narsih.


"iya bik sebentar lagi saya keluar." jawab Hanum.


"ya sudah Cece, sama Abang jaga dedek lagi ya, dan mbak Wati boleh tidak nitip mereka dulu." lanjut Hanum.

__ADS_1


"iya ma," jawab Devan dan Devi bersamaan.


"boleh mbak." jawab Wati.


"ayo mas, kita temui pak Anton, tolong bantu aku berjalan." pinta Hanum.


"sebenarnya kamu tidak usah memaksakan semua harus selesai sekarang loo sayang, aku takut melihat kondisimu yang belum pulih seperti ini. apa tidak sakit dari tadi kamu buat gerak terus." tutur Galang.


"gak apa-apa kok mas, cuma perih sedikit itu sudah biasa kan." jawab Hanum.


karena tidak tega melihat istrinya berjalan menahan perih. Galang pun mengangkat tubuh istrinya.


"mas turunin. malu dilihat orang," ucap Hanum.


"ngapain malu, aku ini kan suamimu sayang," jawab Galang sambil mencium kening istrinya.


Galang pun mengangkat tubuh istrinya hingga ke ruang tamu, dimana yang lain berkumpul menunggunya.semua mata melihat kemesraan mereka hanya bisa geleng-geleng kepala.


Galang mendudukkan istrinya disofa kemudian ikut duduk disampingnya.


"maaf pak menunggu, saya Hanum yang tadi menelpon bapak." Hanum memperkenalkan diri pada pengacara almarhum kakeknya.


"oh iya saya antonie Bu." jawab pak anton.


"karena kedua putri pak Sudirjo sudah berkumpul maka saya bacakan surat wasiat pak Sudirjo sekarang saja bolehkan." lanjut pak Anton.


"iya pak kami siap mendengarkan." jawab Hanum.


"saya atas nama Sudirjo menyatakan dan menyerahkan semua harta saya untuk kedua putri saya Sundari dan suwindah. dengan pembagian 50% Kepemilikan atas nama Sundari dan 50% kepemilikan atas nama suwindah..untuk semua aset yang saya miliki. mereka berdua berkewajiban mengelola bersama dan selanjutnya menyerahkan kepada keturunan mereka yang masih ada ikatan darah. jika salah satu dari mereka tidak memiliki keturunan maka pihak yang tidak memiliki keturunan wajib memberikan bagiannya kepada anak dari saudara kandungnya tersebut, setelah anak dari saudaranya tersebut menginjak usia yang cukup untuk bisa mengelolah semua aset yang saya berikan. demikian surat ini saya buat tanpa ada paksa'an dari pihak manapun."


"demikianlah Bu Ndari dan Bu Winda isi surat wasiat dari pak Sudirjo. sebelum beliau menulis surat ini. beliau memang sempat berbicara kepada saya, bahwa pak dirjo mengetahui jika suami dari Bu Ndari tidak bisa memiliki keturunan. dan pak dirjo juga tahu bahwa Pak Elang telah menjebak Bu Winda agar Bu Winda diusir dari rumah milik orang tuanya sendiri. maka beliau membuat surat wasiat demikian karena pak dirjo ingin kembali menyatukan kalian berdua." jelas pak Anton.


"win, kakak benar-benar minta maaf ya, semua ini terjadi karena kebodohan kakak yang membuat orang tua kita meninggal dan membuatmu harus jauh dari kami." sesal Bu Ndari.


"sudahlah kak, kita lupakan semua yang telah berlalu, yang terpenting sekarang kita sudah bersama lagi, ingat kakak jangan lagi menyimpan kenangan buruk itu dihati kakak, agar kakak bisa segera menghilangkan rasa trauma itu, agar kakak bisa kembali seperti dulu lagi, Sundari yang ceria, kuat dan penyayang kepada semua keluarganya." tutur Bu win.


"pak saya ingin menyerahkan semua bagian saya untuk keponakan saya Hanum. sesuai isi surat wasiat itu. Hanum sudah mampu mengurus semua saat ini. kami mama-mamanya cukup melihat kemampuannya dalam mengelolah peninggalan almarhum kakek dan neneknya saja. bukan begitu win."ucap Bu Ndari


"iya pak, saya juga menyerahkan semua bagian saya kepada anak kandung saya." sahut Bu win.


"baiklah jika memang saya dipercayakan mengurusnya, semua akan saya persiapkan dokumen penyerahan kekuasaan dan kepemikikan untuk Bu hanum." jawab pak Anton.


"iya pak, kami percayakan semua kepada bapak" lanjut Bu Ndari.


'baiklah saya permisi dulu kalo begitu, saya segera persiapkan dokumen untuk kalian tanda tangani nantinya." pamit pak anton.


"iya pak, sebelumnya kami ucapkan banyak terima kasih." jawab Hanum.


"iya mari semua, saya balik dulu." ucap pak Anton sambil kembali balik menuju ke kantornya.

__ADS_1


"akan aku pastikan setelah dokumen-dokumen itu aku tanda tangani dan semua beralih atas namaku, aku akan membuat Elang Permana dan Yasmin tidak lagi punya akses untuk bertindak seenaknya dengan harta peninggalan kakek dan nenek. juga akan aku buat mereka mendekam selamanya dipenjara karena sudah membunuh kakek dan nenek juga ayah." jelas Hanum.


bersambung


__ADS_2