
Keesokan harinya Galang pun pergi kekota guna menemui istrinya. sebelum sampai dirumah Galang mencari sesuatu untuk oleh2 buat anak dan istrinya.
Galang membeli makanan juga mainan untuk anak2nya.
setelah dirasa cukup Galang pun melanjutkan perjalanannya pulang kerumah.disepanjang berjalanan Galang tak henti2nya berharap jika nanti saat bicara pada yanti, Yanti mau menuruti permintaannya tinggal dikampung.
Sudah hampir tengah hari Galang sampai dirumahnya, sesampai di rumah keadaan rumah sangat sepi, dia berfikir kalo istrinya sedang menjemput anak bungsunya sekolah.
Galang membuka pintu dengan kunci cadangan yang dia bawa.
Tak selang waktu lama Galang mendengar mobil datang, benar saja istri dan anak bungsunya baru datang.
"loooo Dev itu kayak motor papa ya," Yanti berbicara pada anaknya.
"iya ma, hoorreee papa pulang," Devi turun dan berlari masuk kedalam rumah.
tapi tidak dengan Yanti,
tuuuut, tuuuut ,tuuuut
"ya hallo" suara diseberang menyahut
"hallo sayang, maaf sayang hari ini jangan kerumah ya, suamiku pulang, nanti kalau dia sudah balik aku pasti hubungi kamu yank".
"tumben sekali suamimu hari kerja pulang yank,?"
"aku juga gak tau, ya sudah aku tutup telponnya daaa sayang"
tanpa menunggu jawaban Yanti pun mematikan sambungan telponnya.
untung mas Galang datang sebelum mas Rendra ke sini.batin Yanti sambil masuk kerumah.
"Tumben pa belum akhir pekan sudah pulang,?"
"kau ini biasakan masuk mengucapkan salam."
"iya assalamu'alaikum ,puas, Devi mana?"
"waalaikum salam, Devi masuk ke kamarnya tadi bawa mainan yang aku belikan."
Galang menjawab sambil memandangi penampilan istrinya yang beruba.
"kenapa kau pandangi aku seperti itu pa, jangan bilang kau pulang awal karena menginginkan hak mu sebagai suami."
"aku hanya melihatmu, penampilanmu banyak berubah. apa kau masih saja suka berhura2 seperti dulu, lihatlah barang2 yang kau pakai. semua serba mahal.ingat ma, tiap aku kirim sebagian tabung , apa kamu tidak ingin memiliki rumah sendiri,?"
"apa sih pa, uang darimu selalu aku tabung kok, siapa juga sudah foya2. barang2 ini semua pemberian teman2ku. mereka semua kan suaminya tajir2 tidak seperti suamiku. uang bulanan aja cuma sedikit buat istri."
"ma, bukan papa pelit, sebenarnya uang bulanan itu juga tidak sedikit, bahkan lebih dari cukup jika untuk memenuhi kebutuhanmu dan anak2 juga masih bisa ditabung andai gaya hidupmu tidak seperti ini."
"kalo tujuan papa pulang hanya mengajak berantem lebih baik papa balik saja sana"
"kau selalu saja berbuat kurang ajar pada suami, "
"habis papa juga selalu saja mulai pertengkaran."
"sudah ayo kita duduk disana ada hal penting yang akan aku sampaikan padamu."
Galang mengajak Yanti duduk disofa ruang keluarga.
"mau ngomong hal penting apa pa, apa papa sudah bisa bikin Hanum jatuh cinta dan akan menikah, iyakan?"
"kau ini sudah berapa kali aku bilang, aku tak akan melakukan rencana konyol mu itu."
"terus hal penting apa lagi yang ingin papa omongkan ?"
"diam dulu dengarkan aku bicara.. ma, aku balik ke kota sebenarnya aku ingin mengajakmu ikut pindah bersamaku,"
"apa pa, gak gak, aku gak mau tinggal dikampung dikontrakan kecilmu itu "
"dengarkan aku bicara jangan memotong pembicaraanku dulu."
"iya iya aku dengar, ya sudah lanjutkan"
__ADS_1
"Hanum punya rencana kalo mama mau ikut pindah bersamaku, Hanum akan memberikan rumah yang sesuai untuk mama, tapi jika mama memang mau ikut pindah denganku, aku harap mama menolak tawaran Hanum tersebut. aku akan mencarikan kontrakan yang lebih besar dan aku akan belikan setiap ruangan AC biar mama gak kegerahan. perabot juga mama bisa pilih sesuai keinginan mama,"
"kenapa aku harus menolak tawaran Hanum , ini kesempatan kita punya rumah sendiri pa, gak harus bayar kontrakan setiap tahun."
" ma, Hanum sudah banyak berbuat baik kepada kita, jangan selalu memanfaatkan kebaikannya. tapi aku juga tidak memaksamu ikut bersamaku kesana, karena jika kamu gak ikut aku yang akan tinggal disini dan soal pekerjaan aku akan kerja dikantor pak Robi. jadi aku bisa tiap hari pulang dan tinggal bersamamu dan anak2,"
Galang berbicara sambil mendekat ke istrinya dan mengelus2 rambut istrinya seperti seorang ayah menasehati anaknya .
kemudian hasrat laki2 nya mulai muncul saat berbicara dengan pelan tanpa amarah lagi.
dia mulai mencium pipi istrinya dari samping.
sebenarnya Yanti ingin menolak saat Galang mulai menarik wajah Yanti menghadap kepadanya, saat ada sedikit penolakan dari yanti, galang merubah posisi berdiri dan mengangkat tubuh istrinya kegendongannya dan berjalan menuju kamarnya.
"mau apa pa?"
"mama pasti tau, aku laki2 normal ma, sudah lama aku tidak melakukannya, aku harap kali ini jangan banyak alasan, berikan hak ku ma, "
Yanti pun tak kuasa menolak keinginan suaminya, karena itu kan menjadi kecurigaan nantinya.
Galang merebahkan istrinya diranjang kamarnya kemudian berjalan menuju kamar anaknya terlebih dulu.
dilihatnya anaknya tertidur sambil memegang mainan barunya, Galang pun kembali ke kamarnya dan mengunci pintu.
Yanti pun mau tidak mau harus menuruti keinginan suaminya.
Yanti yang awalnya menolak pun akhirnya juga ikut hanyut dipermainan suaminya, Yanti memang mengakui permainan suaminya jauh lebih hebat dari Rendra selingkuhannya. tapi demi uang Yanti harus rela melayani Rendra.
setelah sekian lama akhirnya Galang sampai dititik permainannya dan langsung merebahkan dirinya di ranjang disisi istrinya.
"bagaimana ma dengan keputusanmu," tiba2 Galang melanjutkan pembicaraannya yang tadi sambil berbalik menghadap istrinya,
"aku belum bisa memutuskan pa,lebih baik kita bersihkan diri dulu "
"tapi aku masih mau lagi ma,"
"jangan aku sudah capek, lagian sebentar lagi aku harus menjemput Devan,"
"baiklah ayo kita mandi habis itu kita jemput Devan bersama2, nanti kita ajak anak2 jalan ,lama kita tidak jalan2 bareng "
-----
Ditempat lain.
"ma semua oleh2 buat anak panti sudah siapkan?"
"sudah nak, ayo kita berangkat nanti keburu siang."
"baru juga pukul 7 pagi ma, apa mereka semua tidak sekolah.?"
"ya sekolah nak, tapi rata2 yang tinggal disana masih sekolah dasar. jadi pulangnya awal, naa sampai disana kita siapkan kejutan pada mereka biar mereka senang saat pulang sekolah nanti."
"ohh gitu ya sudah ayo kita berangkat."
sesampainya Hanum dan mamanya dipanti asuhan tersebut, Hanum dan mamanya disambut oleh ketua panti Bu Hilda,
"pagi Bu Winda, senang sekali Bu win hari ini mengunjungi kami, loo ini pasti nak Hanum yang sering ibu ceritakan ya, waaa cantik sekali."
"iya Bu saya Hanum, masak sih saya cantik ibu terlalu memuji deh,"
Bu win dan Bu Hilda cuma tersenyum melihat Hanum tersipu malu.
"mari masuk dulu Bu, jam segini masih sepi karena anak2 masih disekolah nak Hanum. nanti saat mereka pulang pasti senang ada wanita cantik mengunjungi mereka"
"ah ibu bisa aja,"
Hanum , mamanya dan Bu hilda akhirnya masuk ke ruangan seperti tempat untuk menjamu tamu yang datang.
"ayo silahkan duduk" ajak Bu hilda.
mereka bertiga pun ngobrol masalah apapun dipanti, mulai anak2 panti, bangunan panti yang butuh direnofasi serta kendala2 lain yang sedang dihadapi panti saat ini.
"untuk masalah apapun Hanum akan membantu Bu, berapa anak yang tinggal dipanti ini Bu?"
__ADS_1
"ada sekitar 50 anak mbak Hanum , dan rata2 mereka masih TK dan SD, tapi ada juga yang masih bayi. agak sedikit kuwalahan mbak soalnya gak ada tenaga yang membantu."
"kalo saya lihat pekarangan panti ini lumayan luas, siapa yang bantu membersihkan Bu, "
"saya sama suami dan dibantu anak2 panti juga mbak Hanum."
"begini Bu Hilda , nanti kalo diizinkan akan membantu renofasi tempat ini. terus kita bikinkan taman bermain disebelah samping yang lahan kosong tadi, terus untuk keperluan makan dan sekolah juga yang lain, insyaalloh saya yang akan memenuhinya buat ibu dan anak2 juga. saya akan Carikan tenaga yang akan membantu disini, untuk urusan gaji, Bu Hilda juga tidak usah khawatir, saya yang akan menggaji mereka."
"oh benarkah mbak Hanum, jika memang seperti itu kami sangat berterima kasih sekali."
Disaat asik ngobrol datang anak kecil laki2 yang mungkin masih kisaran umur 5thn.
"loo Bagas tidak sekolah" sapa Bu win mama Hanum.
deg seketika Hanum gemetar,
"Bagas " ucap Hanum sambil terkejut.
"iya nak anak ini namanya Bagas sama ya dengan mendiang nama anakmu, ayo Bagas beri salam sama Tante Hanum. dia anaknya Oma."
"hallo Tante" sapa Bagas ke Hanum.
"ha ha halo juga Bagas," Hanum masih tergagap kaget.
" sini mendekat sama Tante, kenapa Bagas tidak sekolah sayang, ?"
"Bagas pokoknya gak mau sekolah kalo tas Bagas belum diganti. tas Bagas kan sudah sobek, malu diketawain teman tiap hari." keluh bagas.
"ya sudah sebenarnya Tante tadi juga bawah oleh2 banyak tuuu dimobil."
"num sepertinya mama lupa nak tidak beli tas untuk mereka"
"oke deh bagaimana kalo Bagas dan Tante pergi beli tas buat Bagas dan teman2 sekarang.?"
"tapi Bagas inginnya beli dikota seperti teman2 bilang, di malll yang besaaaarrr"
"tapi kalo ke kota kan jauh sayang,"
"tapi Bagas ingin Tante," Bagas bicara sambil tertunduk menunjukkan kesedihannya.
"Bagas tidak boleh seperti itu ya sayang, itu tidak baik," tutur Bu Hilda,
"iya bunda," jawab Bagas ke Bu Hilda.
tiba2 Hanum merasakan ada tetesan air ditangannya yang sedang memangku Bagas.
"loo Bagas menangis ya," Hanum mencoba mengangkat wajah Bagas.
"andai aku punya orang tua seperti teman2 sekolahku, pasti mereka mau mengajakku ke mall kan Tante?"
"sudah2 mulai saat ini semua yang tinggal disini punya mama, Bagas dan adik2 juga kakak2 yang tinggal disini harus memanggil Tante dengan sebutan mama. sekarang karena mama sudah ada disini, mama akan mengabulkan keinginan Bagas. ayo sana siap2 mama akan ajak Bagas ke mall yang ada dikota , bagaimana setujukan."
"bener Tante,?"
"kok Tante"
"iya lupa , bener mama akan ajak Bagas kekota sekarang?"
"iya nak ,sana ganti baju dulu biar tambah ganteng.,"
"baik ma,"
"maaf Bu hilda bolehkan saya ajak Bagas kekota,"
"iya boleh mbak Hanum , maaf ya sangat merepotkan"
"ah gak kok Bu.. ma apa mama mau ikut,?" hanum mengajak mamanya.
"gak usah num. mama disini saja tungguin kamu nak."
"tapi Hanum kan lama ma"
"gak apa nak, bahkan mama mau kok menginap disini, mama senang disini rame," jawab mama Hanum.
__ADS_1
" mama Bagas sudah siap"
bersambung lagi deh, πππ