
"mas, mama besok akan balik pulang, tapi mama sebenarnya ingin sekali bertemu Tante Sundari." ucap Hanum sambil memainkan jarinya didada suaminya yang sedang berbaring disampingnya.
"tapi itu tidak mungkin sayang, Elang Permana pasti bisa mengenali mama," jawab Galang.
"kira-kira kamu punya ide untuk membebaskan Tante tidak mas," tanya Hanum.
"sangat sulit untuk melakukan hal itu sayang," jawab Galang.
"aku punya ide mas," Hanum pun langsung duduk dan menjelaskan ide nya.
"ide apa sayang,?" Galang penasaran.
"aku akan menghubungi bik Narsih pembantu dirumah Elang permana. kita minta dia untuk membantu kita. kita buat rencana untuk Tante, seakan-akan Tante kabur dari tempatnya dikurung." Hanum mengungkapkan rencananya.
"tapi bagaimana mungkin sayang, aku rasa rumah itu pasti ada cctvnya." jawab Galang.
"mangkanya kita coba tanya bik Narsih mas," tegas Hanum.
"tapi bik Narsih apa gak akan mengadukan ke majikannya.?" Galang masih belum yakin.
"bik Narsih berpihak kepada kita mas, buktinya bik Narsih menceritakan ini semua ke kita." jelas Hanum.
"baiklah, kita coba nanti ya," Galang pun mengiyakan keinginan istrinya.
"begitu dong, memang suamiku ini paling pengertian deh," Hanum memuji Galang.
"sudah kita istirahat dulu aja, besok kita bicarakan lagi hal ini. mas bener-bener capek hari ini yank." tutur Galang.
"ya sudah mas tidur saja dulu, aku mau menemui mama sebentar." ucap Hanum.
"mau apa menemui mama yank?" tanya Galang.
"aku mau bicarakan rencana kita." Hanum bersemangat.
"baiklah, kamu temui mama dulu, tapi jangan lama-lama ya yank, kamu juga harus istirahat, jangan tidur terlalu larut," ucap Galang.
"iya iya mas, sudah mas tidur saja dulu," ucap Hanum sambil berjalan keluar kamarnya.
Galang pun cuma bisa tersenyum mendengar jawaban istrinya.
tok tok tok " ma apa mama sudah tidur.?"
"belum nak, masuklah." jawab Bu win.
Hanum pun masuk dan merebahkan dirinya disamping mamanya.
"ma, Hanum ada ide untuk membawa keluar Tante Ndari ma," ucap hanum.
"bagaimana bisa nak.?" tanya Bu win.
"Hanum akan hubungi bik Narsih ma, dia pembantu dirumah Elang Permana, aku yakin dia bersedia membantu kita." jelas Hanum.
"apa bik Narsih?" tanya Bu win lagi.
"iya ma, bik Narsih. apa mama mengenalnya?" tanya Hanum.
"mbak Narsih adalah pembantu dirumah nenek dan kakekmu nak, ternyata sampai sekarang dia masih ikut dengan kak Ndari toh," ucap Bu win.
" berarti mama juga mengenal bik Narsih ya, baguslah," Hanum merasa rencananya akan berjalan lancar.
"ma, Tante Ndari itu dulu seperti apa sih ma,?" tanya Hanum.
"tantemu itu dulu sangat baik dan sayang sama mama, mungkin waktu dia mengusir mama, dia hanya sedang cemburu karena mengira yang diucapkan kak elang adalah kebenaran." tutur Bu win.
"apa mama dan Tante hanya 2 bersaudara?" Hanum kembali bertanya.
"iya nak kami hanya dua bersaudara,"
__ADS_1
"ma, aku ingin melihat keluarga kita berkumpul kembali.selama ini aku mengira di dunia ini hanya mama lah satu-satunya keluarga yang aku miliki setelah ayah, uti dan kakung meninggal." hanum mengungkapkan keinginannya.
"iya nak, setelah sekian lama, semoga saja kita bisa berkumpul dengan tantemu." tutur Bu win.
"tapi aku takut rumah itu banyak cctv nya ma, hal itu bisa membuat kita ketahuan jika mengeluarkan Tante Ndari." jelas Hanum.
"boleh mama tau, alamat Tante mu yang sekarang,?" tanya Bu win.
"di jalan merpati no 3 ma," jawab Hanum.
"rumah itu, ternyata mereka juga masih tinggal disana." ucap Bu win.
"apa itu rumah nenek dan kakek Hanum ma,?" Hanum kembali bertanya.
"iya nak, itu adalah rumah kakek dan nenekmu, jika rumah itu belum direnovasi, mama tau bagaimana cara mengeluarkan tantemu dari sana." jelas Bu win.
"benarkah ma,?"
"dulu nenek sama kakekmu sering pergi keluar kota, disaat ada kesempatan Tantemu perna menyuruh orang membuat jalan rahasia dirumah belakang yang dulunya ditempati para pelayan. tujuannya adalah untuk jalan kita kabur saat ingin main ke rumah teman. semoga jalan itu belum ditutup oleh tantemu," tutur Bu win.
"waa ma, apa bik narsih tau jalan rahasia itu.?" tanya Hanum.
"tentu saja dia tau. dan coba kau tanya mbak Narsih apa jalan rahasia itu masih ada,?"
"baiklah ma, besok aku coba hubungi bik Narsih, ya sudah ya ma, Hanum balik ke kamar dulu," pamit Hanum.
"iya nak, kamu harus banyak istirahat. lihatlah perutmu semakin membesar saja. pasti cucu nenek sangat sehat didalam sini ya." ucap Bu win sambil mengelus perut putrinya.
"selamat malam ma," ucap Hanum sambil mencium pipi mamanya.
"iya selamat malam nak," balas Bu win.
Hanum pun kembali kekamar dan langsung beristirahat. Galang pun juga sudah tertidur dengan pulasnya.
keesokan harinya Hanum yang terbiasa bangun awal pun juga sudah melakukan rutinitasnya setiap hari.
"kebiasaan deh mas," ucap Hanum.
"masak apa sih yank, wangi banget baunya." tanya Galang.
"bikin pancake mas, mas mau sarapan pakai pancake apa pakai nasi.?" tanya Hanum.
"pakai pancake aja, kayaknya enak tuh," jawab Galang.
"ya sudah tunggu di ruang makan gih, sebentar lagi juga sudah siap kok."
"ok nyonyaku sayang," jawab Galang.
"oh iya mas, tolong panggil mama ajak sarapan bareng ya," Hanum meminta tolong.
"apa mama masih dikamar yank.?" tanya Galang.
"iya mama belum keluar kamar mas," jawab hanum.
Galang pun memanggil mertuanya untuk diajak sarapan bareng,
tok tok tok "ma" panggil galang.
tapi tidak ada sahutan dari dalam kamar mama mertuanya.
"ma apa mama masih tidur?" tanya Galang.
tapi tetap tidak ada sahutan. Galang pun memutuskan membuka pintu kamar mama mertuanya. dilihatnya sekeliling kamar itu dan galang tidak mendapati mertuanya didalam kamar tersebut.
Galang pun mencari disekitar rumah tapi Galang tidak menemukan mertuanya dimana pun.
"yank, sepertinya mama sedang keluar," ucap Galang.
__ADS_1
"pergi kemana mas, apa mama tidak ada dikamar,?" tanya Hanum.
"tidak yank, mas juga sudah berkeliling rumah mencari mama tapi mama juga gak ada, tapi sebentar mas tak coba tanya penjaga didepan." ucap Galang.
"iya mas coba tanyakan mereka, pasti mereka melihat mama." jawab Hanum.
Galang pun keluar rumah menuju ke pos penjagaan dirumahnya.
"pak Sukir apa bapak melihat mertuaku keluar rumah.?" tanya Galang pada pak Sukir.
"iya tadi habis subuh nyonya Winda keluar pak, pas saya tanya katanya cuma sebentar, nyonya Winda juga tidak mau diantar dia membawa mobil sendiri pak," jawab pak Sukir.
"ya sudah terima kasih." Galang pun menjawab dan masuk lagi kedalam rumah.
"yank kata pak sukir, mama keluar sehabis subuh tadi, mama juga pergi bawah mobil sendiri, pak Sukir menawarkan diri untuk mengantar pun ditolak." tutur Galang.
"tumben sekali mama seperti ini, atau jangan-jangan mama mau menemui Tante Sundari.?" Hanum menduga-duga.
" bagaimana mama mau menemui Tante Sundari yank, itu sangat bahaya." Galang pun akhirnya panik.
"mama semalam cerita sama aku, mama dan Tante Ndari punya jalan rahasia untuk keluar masuk dari rumah itu. dan mungkin mama mau memastikan jalan rahasia itu masih berfungsi atau tidak." jelas Hanum.
"memang mama perna tinggal dirumah itu yank,?" tanya Galang.
"rumah itu adalah rumah almarhum kakek dan nenekku mas," jawab hanum.
"kalo gitu kamu coba telpon mama sayang, aku khawatir jika mama kepergok Elang Permana." ucap Galang.
Tanpa menjawab Hanum pun mengambil ponselnya dan menghubungi mamanya.
beberapa kali Hanum menelpon tapi tak kunjung diangkat oleh mamanya.
"apa tidak nyambung sayang,?" tanya Galang.
"nyambung tapi tidak diangkat sama mama." jawab Hanum.
"baiklah mas kita tunggu beberapa saat jika mama belum juga kembali terpaksa mama harus mencari mama dirumah itu." tutur Galang.
Hanum dan Galang pun menunggu kabar dari mamanya.
Ditempat lain.
"syukurlah ternyata pintu ini masih bisa dibuka.hari masih gelap aku yakin.elang masih tidur." ucap Bu win pada dirinya sendiri.
Bu win pun membuka pintu rahasianya dulu, pintu itu sebenarnya hanya pintu biasa yang digali didalam rumah belakang, menyambung ke luar pagar rumah tersebut, ya seperti ruangan bawah tanah yang menghubungkan luar dan dalam lingkungan rumah itu.
Bu win pun mencoba masuk dan benar dugaan Bu win semau masih seperti dulu. Bu win terus merangkak naik dan dilihatnya Sundari sang kakak sedang tertidur diatas tikar, wajahnya yang sudah agak keriput dan badan yang kurus tidak membuat Bu win pangling dengan kakak kandungnya.
"kak Ndari, kenapa kakak jadi seperti ini.?" Bu win membelai pipi kakaknya.
"siapa kamu?" tiba-tiba Bu Ndari bangun.
"kak ini aku, Winda," jawab Bu win.
"tidak, tidak kamu bohong, pergi kamu pergi." Bu Ndari seperti orang ketakutan dan berlari kepojok ruangan tersebut.
"huuuusss kakak jangan keras-keras kalau bicara ya, coba kakak lihat aku baik-baik. aku adikmu kak, aku suwindah." Bu win mendekati Bu Ndari.
"Winda, bener kamu Winda,?" Bu Ndari mengingat adiknya.
tiba-tiba dari pintu rumah belakang itu terdengar seperti ada yang memasukkan kunci dan mencoba membuka.
Ceklek, ceklek suara kunci pintu yang diputar.
Winda bingung harus sembunyi dimana karena memang rumah belakang itu tidak ada perabotnya sama sekali kecuali meja kecil dan tikar.
bersambung.
__ADS_1