Pengorbanan Istri Ke 2

Pengorbanan Istri Ke 2
Penjelasan Bu Diana (1)


__ADS_3

Hari berikutnya nyonya Diana bersiap untuk menemui Hanum di butiknya.


Dihari yang sama Galang dan Hanum disibukkan dengan berbagai urusan pekerjaan agar saat pergi liburan mereka bisa meninggalkan pekerjaan dengan sedikit tenang karena tidak ada urusan pekerjaan yang mengganggu liburan mereka nantinya.


Sengaja nyonya Diana menemui Hanum saat jam makan siang, agar nyonya Diana bisa mengajak keluar Hanum dan bisa sedikit leluasa berbicara.


Hanum menerima ajakkan makan siang bareng dengan nyonya Diana. karena Hanum berfikiran seburuk apa pun nyonya Diana dia adalah ibu kandung dari Galang suaminya.


surga ditelapak kaki ibu mas, jika memang ibumu mau berubah, aku akan berusaha menyatukan kalian lagi, aku harap kamu tidak akan menjadi anak durhaka, karena kamu tidak mau memaafkan ibumu, kau adalah suamiku, aku tidak ingin kau jauh dari surgamu mas,batin Hanum saat menerima ajakkan makan siang bareng dengan nyonya Diana.


Hanum pun menemui nyonya Diana disebuah restoran yang dekat dengan butiknya. Hanum yang kemana-mana membawa serta Tara, tidak luput siang itu pun Tara juga ikut makan siang.


"maaf nyonya harus lama menunggu, tadi Tara masih tidur jadi saya harus menunggu dia bangun." ucap Hanum yang sedikit terlambat karena memang menunggu Tara bangun.


"tidak apa nak, 15 menit menunggu bukan waktu yang lama, dibandingkan dosaku bertahun-tahun harus membuat suamimu menunggu." jawab nyonya Diana.


"jadi," ucap Hanum tertahan.


"iya nak, aku adalah wanita pendosa yang sudah menelantarkan anakku sendirian didunia ini, bertahun-tahun aku juga mencoba mencarinya, tapi baru kemaren aku bisa kembali bertemu dengannya setelah 25thn lebih aku meninggalkannya." tutur nyonya Diana penuh teka-teki.


"maksud nyonya.?" Hanum kembali bertanya.


"Galang pramono suamimu adalah anak kandungku nak, aku adalah mertuamu. aku memang sudah sangat berdosa telah menelantarkan anakku sendirian didunia ini, tapi waktu itu kebodohan benar-benar menguasai hidupku, dan kini hanya tinggal penyesalan yang harus aku rasakan" jelas nyonya Diana sambil berlinangan air mata.


"semalam mas Galang juga sudah menceritakan kepada saya nyonya, tapi jika nyonya berkenan bisa nyonya kasih tau saya apa alasan nyonya sehingga nyonya begitu tega meninggalkan anak kandung nyonya sendiri.?" tanya Hanum.


"baiklah nak aku akan menceritakan semua dari awal" ..


flashback on


Galang kecil siang itu pulang sekolah dengan berlarian masuk kedalam rumah, dia bercerita panjang lebar karena dia mendapat nilai paling bagus di kelasnya hari itu untuk 3 mata pelajaran sekaligus.


"assalamu'alaikum mama, ayah kalian dimana." panggil Galang.


"waalaikum salam nak, kenapa kamu berlarian begitu," tanya mama Galang.


"mam, Galang tadi dapat hadiah dari pak guru, karena Galang dapat nilai paling bagus dikelas untuk ulangan hari ini." jelas Galang.


"waa anak mama memang hebat. mama juga harus memberi hadiah kalo begitu ya, tapi kira-kira apa ya hadiahnya.?" ucap mama Galang.


"bagaimana kalo kita makan bareng sama ayah saja mam, kita ke galery ayah saja habis ini." ajak Galang.


Belum sempat mama Galang menjawab.


"Bu Diana, Bu Diana," tiba-tiba datang orang kerumah dengan tergopoh-gopoh.


"iya pak ada apa,?" jawab mama Galang.

__ADS_1


"suami ibu kecelakaan, motornya bertabrakan dengan mobil dijalan raya depan." ucap orang itu.


"apa,?" mama Galang dan galang terkejut.


"iya Bu, cepat ibu lihat, sepertinya keadaanya sangat parah." jelas orang itu.


Tanpa bertanya lagi Galang dan mama nya langsung berlarian keluar untuk melihat keadaan pak munif ayah Galang.


"ayaaahhhh" teriak Galang dan mama Galang melihat pak munif tergeletak tak berdaya dan tubuhnya penuh darah.


"ibu mohon maaf, korban akan segera kami bawah kerumah sakit agar segera mendapat pertolongan. tangan korban luka parah." jelas petugas medis yang bertugas.


"iya pak, cepat tolong suamiku," ucap Bu Diana kemudian Bu Diana memeluk tubuh Galang untuk sama-sama saling menguatkan.


Pak munif pun segera di bawah kerumah sakit terdekat, tapi saat dokter yang menangani pak munif keluar dari ruangan pemeriksaan, dokter itu membawa kabar yang sangat tidak diinginkan oleh siapapun atau lebih tepatnya kabar buruk.


"maaf Bu, apa ibu keluarga dari korban kecelakaan itu." tanya dokter tersebut.


"iya pak, saya istrinya, bagaimana keadaan suami saya dok,?" tanya Bu Diana.


"dengan sangat terpaksa kita harus segera melakukan tindakan untuk tangan suami ibu, kita harus mengamputasi tangan suami ibu karena tulang tangan kanannya hancur akibat terjepit benda yang sangat keras." jelas dokter tersebut.


"apa dok, harus diamputasi,? terus bagaimana suamiku bisa melukis lagi jika tidak punya tangan." Bu Diana sangat terkejut.


"tapi jika tidak dilakukan malah akan membahayakan korban sendiri Bu, bisa saja korban akan mengalami infeksi yang juga kan membahayakan nyawanya sendiri." jelas dokter itu lagi


pihak rumah sakit meminta Bu Diana untuk menandatangani berkas yang menyatakan pihak rumah sakit diperbolehkan melakukan tindakan kepada pasiennya atas izin keluarga.


Bu Diana pun sudah menanda tangani berkas tersebut dan kembali menunggu suaminya diruang tunggu depan ruang operasi.


Bu Diana memeluk tubuh Galang yang sedari tadi tidak berhenti menangis karena takut ayahnya akan meninggalkannya untuk selamanya.


4 jam berlalu akhirnya, operasi itu pun selesai. pak munif pun dipindahkan ke ruangan pemulihan paska operasi. Bu Diana dan galang dengan setia menunggu pak munif hingga tersadar.


pak munif pun baru tersadar setelah keesokan harinya.


"ma, Galang," ucap pak munif saat membuka matanya.


"ayah, ayah sudah sadar," Galang berlari mendekat.


pak munif pun ingin mengusap kepala anaknya seperti yang sering dia lakukan. tapi dia terkejut karena dia tidak bisa mengangkat tangannya. dia perhatikan kembali tangannya dan


"kemana tanganku, apa yang yang terjadi dengan tanganku ma, katakan kemana tanganku ma," pak munif terus bertanya pada istrinya.


"ayah yang tenang ya, dokter terpaksa mengamputasi tangan ayah karena tangan ayah hancur akibat kecelakaan itu," jawab Bu Diana.


"tidaaaaaakkkkkkkkk" teriak pak munif.

__ADS_1


"ayah, ayah tidak boleh bersedih, biarlah Galang yang menjadi tangan untuk ayah selanjutnya yah, Galang mohon ayah jangan bersedih," Galang kecil begitu sayang sama ayahnya.


pak munif pun sedikit terhibur dengan ucapan putranya.


seminggu telah berlalu dan pak munif pun sudah diizinkan pulang.


hari demi hari mereka lalui seperti biasa, tapi demi memenuhi kebutuhan hidup pak munif terpaksa menjual satu persatu lukisan mau pun apa saja yang bisa dijual demi memenuhi kebutuhan keluarganya, kondisinya yang tak memiliki tangan membuatnya susah melakukan aktifitas. hingga suatu hari, saat Galang telat membayar sekolah pihak sekolahan pun memanggil pak munif.


"selamat pagi pak, mohon maaf jika kami memanggil bapak kesekolahan." tutur kepala sekolah Galang.


"iya pak, saya mengerti kenapa saya dipanggil, pasti karena administrasi sekolah anak saya kan pak," tebak pak munif.


"iya pak, itu alasan kami memanggil bapak kemari. Galang harus melunasi administrasi yang tertunggak, jika tidak Galang tidak bisa mengikuti ujian semester kenaikan kelas pak." jelas kepala sekolah tersebut.


"pak bisa tidak memberi kelonggaran waktu pada saya, karena saya belum dapat pekerjaan. nanti kalo saya sudah dapat pekerjaan saya akan segera melunasi semua administrasi anak saya pak" pinta pak munif.


"mohon maaf pak tidak ada maksud saya merendahkan bapak, jika bapak berkenan sekolahan membutuhkan tukang kebun, jika bapak berkenan bapak bisa bekerja disekolah ini, dengan begitu Galang akan mendapatkan biaya sekolah gratis dan bapak juga masih bisa menerima gaji dari pihak sekolahan ya meski tidak besar tapi insyaalloh bisa membantu untuk sementara." jelas kepala sekolah.


"benarkah pak, saya mau pak, saya mau, saya sangat berterima kasih atas tawarannya pak," jawab pak munif.


semenjak saat itu pak munif bekerja disekolah Galang sebagai tukang kebun. Galang tidak malu dengan keadaan ayahnya, Galang malah bangga meski hanya dengan satu tangan tapi ayahnya mampu melakukan pekerjaannya dengan baik.


Tapi tidak dengan Bu Diana. dia yang terbiasa hidup berkecukupan rasanya sunggu tersiksa batinnnya karena kini hidupnya harus beruba menjadi memperihatinkan menurutnya.


"yah, aku juga akan ikut membantu bekerja, paling tidak aku bisa membantu pemasukan keuangan. jika bergantung dari gajimu mana mungkin kita bisa memenuhi kebutuhan yang makin lama makin mahal." tutur Bu Diana.


"terserah mama, asal mama ikhlas membantu ayah, ayah sangat berterima kasih ma," jawab pak munif


Sebulan berlalu semenjak Bu Diana bekerja disebuah perusahaan yang lumayan besar. Bu Diana yang memang orang blasteran memiliki wajah yang cantik dan menawan. bos nya ditempat kerjanya pun tak luput ikut juga terpikat dengan kecantikan Bu Diana tersebut.


Bu Diana menjalin hubungan terlarang dengan bosnya. dan pada suatu ketika bosnya mengajaknya liburan selama 2 hari. hal itu menyebabkannya tidak bisa pulang menemui suami dan anaknya.


pak munif yang khawatir dengan keadaan istrinya pun datang menemui istrinya di tempat kerjanya dengan membawa serta Galang.


"maaf mbak bisa saya bertemu dengan Bu Diana." tanya pak munif pada resepsionis.


"Bu Diana yang mana ya pak," jawab resepsionis yang memiliki tag nama selly


pak munif mengambil dompetnya dan menunjukkan foto istrinya yang ada di dompetnya


"yang ini mbak," jawab pak munif.


"oh Bu Diana sekretaris baru bos kami pak, sebentar saya hubungi beliau dulu ya pak, boleh saya tau nama bapak, biar nanti kalo Bu Diana tanya saya bisa langsung menjawab?" tanya Selly.


"saya munif mbak." jawab pak munif.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2