
Hari pernikahan Robi dan Santi telah tiba. setelah selesai ijab kobul dipagi hari, sore harinya pun mereka mengelar acara resepsi.
Hanum datang dengan semua anggota keluarganya. Joko dan Wati pun juga menyempatkan datang ke kota guna menghadiri acara resepsi tersebut.
Susanti dan Robi nampak begitu bahagia diatas pelaminan. begitu juga kedua orang tua Susanti maupun kedua orang tua Robi, yang juga sekaligus mantan mertua Hanum.
"selamat ya Santi dan juga buatmu mas Robi." ucap Hanum.
"iya terima kasih ya num," jawab Robi.
"semoga samawa ya rob," doa galang.
"begitu juga dengan kalian." ucap Robi.
Tiba saatnya Hanum berjabatan tangan dengan mantan mertuanya.
"ma," sapa Hanum.
Tiba-tiba mama Robi memeluk dan menangis dipundak Hanum.
"maafkan mama ya nak, mama begitu berdosa padamu nak," mama Robi begitu menyesali perbuatannya dulu.
"ma, bukannya Hanum sudah sering bilang, Hanum sudah memaafkan mama," jawab Hanum.
" begitu mulia hatimu nak," ucap mama Robi lagi.
"ya sudah ma, aku dan suamiku akan bergabung dengan yang lain ya," pamit Hanum
"iya nak, nikmatilah pestanya ya," jawab papa Robi.
"iya pa," jawab Hanum kemudian bergabung dengan yang lain.
Dalam pesta yang begitu meriah, Galang melihat sosok wanita yang dia kenal, wanita yang telah meninggalkannya dengan ayahnya yang sakit-sakitan dan akhirnya meninggal. wanita yang membuat Galang hidup sebatang kara dan harus menjalani kerasnya hidup sendirian.
"kau melihat siapa mas,?" tanya Hanum.
"aku melihat wanita yang hidupnya hanya dimanfaatkan untuk mengejar duniawi." jawab Galang menahan sakit dihatinya.
"siapa wanita yang kamu maksud mas,?" Hanum samakin penasaran.
Tiba-tiba wanita yang dimaksud Galang tadi pun menghampiri Hanum dan Tara yang ada dipangkuan Hanum.
"loo nak Hanum juga disini ya,?" tanya nyonya Diana.
"iya mempelainya adalah sahabat kami nyonya" jawab Hanum.
__ADS_1
"hai Tara masih ingat Oma kan,?" tanya nyonya Diana.
"ingat, Oma cuka cubit pipi tala, tala gak cuka," jawab Tara membuat nyonya Diana dan Hanum tertawa.
"habis Tara ganteng dan gemesin, Oma jadinya kan gemes," jawab nyonya Diana.
nyonya Diana adalah istri dari Kerto Atmojo, pengusaha yang bekerja sama dengan Robi. nyonya Diana juga pelanggan dibutik Hanum, itulah sebabnya nyonya Diana mengenal Hanum karena nyonya Diana sering membeli pakaian untuknya juga cucunya dibutik Hanum.
"oh iya perkenalkan ini suami saya, mas Galang," Hanum memperkenalkan Galang.
nyonya Diana melihat sosok Galang sangat terkejut. dia merasa mengenali sosok Galang, orang yang sudah dia tinggalkan puluhan tahun.
"saya Galang parmono nyonya," ucap Galang penuh ketegasan.
"sa sa saya Diana." jawab nyonya Diana terbatah-batah.
"yank, mas tinggal dulu ya, mas mau menemuhi orang yang lebih pantas ditemui." pamit Galang.
"maksudnya mas,?" jawab Hanum.
"sudahlah yank, tidak usah memikirkan omongan mas, mas tinggal dulu, Tara kamu ikut papa saja yuk." jelas galang kemudian berlalu pergi meninggalkan nyonya Diana dan Hanum.
"maafkan sikap suami saya ya nyonya," ucap Hanum.
"tidak nak, tidak apa-apa. dia memang pantas memperlakukanku seperti itu." jawab Bu Diana.
"besok saja nak aku jelaskan. besok aku akan datang ke butik. sampaikan saja maafku padanya ya," ucap nyonya Diana kemudian dia berlalu pergi.
apa mas Galang mengenal nyonya Diana ya,? tapi kenapa mereka seperti dalam suatu masalah yang besar. tidak biasanya mas Galang bersikap sedingin itu pada seseorang.batin Hanum.
Hanum menghampiri Galang yang sedang ngobrol sama rekan-rekan bisnisnya.
"selamat malam tuan-tuan.maaf menganggu perbincangan kalian. bisa pinjam suami saya sebentar.?" Hanum pamit mengajak suaminya agak menjauh dari rekan-rekan bisnisnya.
"oh, nyonya Galang, anda cantik sekali malam ini," ucap salah satu dari mereka.
"terima kasih tuan. maaf ya saya mau bicara sebentar dengan suami saya." Hanum langsung menarik tangan Galang sedikit menjauh.
"mas, ayo kita pulang, aku ingin mas menjelaskan sesuatu padaku, dan dimana Tara,?" bisik Hanum.
"Tara sama Joko dan Wati. mereka satu meja dengan mama dan Devi juga." jawab Galang.
"oh kalo gitu kita pamit pulang, mas harus segera jelaskan kepadaku mengenai nyonya Diana mas." Hanum masih berbisik.
"baiklah, aku pamit dulu sama rekan-rekan Bisnisku." jawab Galang.
__ADS_1
Dengan alasan Tara yang sudah ngantuk Hanum dan Galang berpamitan meninggalkan pesta itu lebih awal.
Sesampai dirumah Hanum langsung mengajak Galang untuk masuk ke kamar dan meminta Galang untuk menjelaskan tentang sikapnya juga sikap nyonya Diana tadi.
"mas, apa sebelumnya kau mengenal nyonya Diana.?" tanya Hanum.
"jadi itu yang ingin kamu ketahui.?" Galang balik bertanya.
"iya mas, jangan buat aku penasaran. kita suami istri jika aku tidak menyimpan rahasia apapun darimu, aku juga berharap kamu tidak menyimpan rahasia apapun dariku." jelas Hanum.
"bukan aku sengaja merahasiakan hal ini sayang, tapi aku memang sudah melupakan dan juga kamu tidak perna mempertanyakannya padaku." ucap Galang.
"bagaimana aku mau bertanya mas, sedang aku saja tidak tahu kalo kamu mengenal nyonya Diana."
"iya aku memang mengenal nyonya Diana temanmu itu, dia adalah wanita yang sudah melahirkan aku dan meninggalkan aku dalam kesengsaraan." jelas Galang.
"apa mas,? jadi nyonya Diana adalah ibu kandungmu.?" Hanum sangat kaget.
"iya dia adalah ibu kandungku. ayahku dulu adalah seorang pelukis, memang dia bukanlah seniman terkenal tapi lukisannya lumayan disukai para pecinta seni yang sering berkunjung ke daerah wisata yang termasuk juga kota kelahiranku." Galang berdiam sejenak.
"ibuku yang berkebangsaan indo-jerman adalah wisatawan yang berkunjung kedaerahku, mendengar orang bercerita hasil lukisan ayahku sangat bagus, dia pun ingin dilukis oleh ayahku. dari situlah ayah dan ibuku saling mengenal. setelah lama saling mengenal, mereka pun menjalin hubungan dan berlanjut kepernikahan." Galang berdiam lagi sejenak untuk menata hatinya.
"awalnya kehidupan mereka baik-baik saja, dan bisa dibilang sangat harmonis, sampai usia pernikahan menginjak 1thn aku pun terlahir. tapi setelah usiaku 9thn. ayahku mengalami kecelakaan dan dokter terpaksa mengamputasi tangannya karena tangan ayah hancur terjepit saat kecelakaan itu terjadi," jelas Galang.
"ya ampun mas, terus," Hanum makin penasaran.
"karena tangannya yang jadi tumpuhan dirinya untuk melukis telah diamputasi , ayahku pun sangat kesusahan memberi nafkah kepada aku dan ibuku. hidup kami mulai kekurangan. pertengkaran antara ayah dan ibuku hampir setiap hari harus aku saksikan. ayah yang berganti profesi jadi tukang kebun sekolahan tidak bisa memenuhi semua kebutuhan kami. disitulah ibuku mulai ikut bekerja, awalnya ibuku hanya ingin membantu ekonomi keluarga. tapi lambat laun. ibuku beruba, ibuku menjalin hubungan terlarang dengan bos nya sendiri, dan meninggalkan aku juga ayahku."
"perna suatu hari ayahku yang tidak mengetahui jika ibuku berselingkuh mengajakku menemui ibuku ditempatnya kerjanya karena sudah 2 hari ibuku tidak pulang kerumah. ibuku bukannya menyambut kami, malah dia mengusir kami dan bilang tidak mengenal kami. sebenarnya ayah bisa saja membuktikan jika ayah adalah suami ibuku, tapi karena sakit hati yang ayah rasakan, ayah memilih mengajakku pergi dari tempat itu. semenjak itulah ayahku sakit-sakitan..ayah yang ingin memberiku sedikit kebahagiaan dengan membelikan kado ulang tahun buatku memforsir tenaganya untuk tetap bekerja. dan memang tepat pas hari ulang tahunku aku diberi ayahku kado tas sekolah karena ayahku sangat kasihan melihat tas sekolahku sudah sangat usang.bertepatan diusiaku yang menginjak ke 10 tahun ayah meninggal dunia setelah menyerahkan kado ulang tahun kepadaku.
ayah tiba-tiba mengalami sesak nafas, belum sempat mantri yang berdinas didesaku memberi pertolongan kepada ayahku, ayahku sudah terlebih dahulu menghembuskan nafasnya yang terakhir." Galang sudah tidak kuasa membendung air matanya.
"jadi sebab itu kamu hidup sebatang kara didunia ini mas, terus apa ayah tidak memiliki keluarga lain yang merawatmu setelah meninggalnya ayah." tanya Hanum.
" ayahku adalah anak tunggal, tapi ayah memiliki sepupu yang lumayan banyak dari kakek maupun nenek. tapi semenjak ayahku jatuh miskin mereka semua seperti tidak mengenal kami. setiap kami datang berkunjung dalam benak mereka pasti mengira kami ingin meminta pertolongan.itulah kenapa aku memilih pindah ke kota dan bekerja apa saja asal aku bisa sekolah dan melanjutkan hidup menjadi lebih baik. dan Alloh memberiku kehidupan yang sangat-sangat aku impikan semenjak aku mengenalmu, itulah sebabnya aku tidak menceritakan kepadamu, tapi aku sendiri juga sudah melupakan masa laluku yang sangat pahit." jelas Galang.
"aku tidak menyangka nyonya Diana tega berbuat begitu pada mu mas,"
"sudahlah sayang, aku juga sudah melupakan masa laluku, jika kini dia hadir lagi, aku rasa dia juga enggan untuk mengakui aku sebagai anaknya seperti yang perna ia lakukan dulu.kita fokus dengan keluarga kita saja sayang, dari pada kita memikirkan masa laluku, lebih baik kita memikirkan Devi yang masih saja tidak bisa menerima keadaan harus dijauhkan dari Devan." tutur Galang.
"iya juga ya mas, Devan juga tidak lagi bisa dihubungi. atau kita liburan ke London saja mas, sekalian kita menemui Devan disana, agar Devi bisa bertemu dengan abangnya itu." ajak Hanum.
"ide bagus sayang, bagaimana kalo akhir pekan ini kita berangkat.?"
"boleh juga mas, semoga Devi bisa kembali ceria setelah bertemu dengan devan.oh iya kita kan juga belum perna pergi jalan-jalan bersama, jadi kali ini kita semua akan jalan-jalan. sekalian mas ajak David dan juga Saskia." ucap Hanum.
__ADS_1
"iya besok aku akan bicara dengan David."
bersambung.