
Galang pun bergegas untuk mempersiapkan keberangkatannya malam itu juga.
Galang meminta David menyewa jet pribadi milik salah satu rekan bisnisnya. dan harus siap berangkat malam itu juga.
Setelah semua siap, Galang pun berpamitan pada Bu win yang sebenarnya malam itu sudah tertidur dengan lelapnya.
"ma, mama bisa bangun sebentar tidak." Galang mengetuk pelan kamar mertuanya.
"iya nak Galang, ada apa.?" tanya Bu win sambil mencoba membuka matanya.
"maaf mengganggu mama, tapi apa mama bisa keluar sebentar," pinta galang.
"iya tunggu sebentar" jawab Bu win.
Bu win membenahkan baju dan rambutnya yang sedikit berantakan. kemudian bergegas membukakan pintu menantunya tersebut.
"ada apa nak,?" tanya Bu win setelah membuka pintu.
"ma, malam ini Galang mau ke Jerman untuk menjenguk adik ma, kasian barusan dia telpon sambil menangis. Galang nitip anak-anak ya ma," pamit Galang.
"memang apa yang terjadi dengan Hanum nak,?" Bu win mulai panik.
"tidak ada ma, ya maklum saja ma, biasa orang hamil kan bawaannya ingin kumpul dengan suami, tapi ini malah berjahuan." jelas Galang.
"syukurlah kalau memang cuma karena hal itu. ya sudah kamu hati-hati saja ya nak, mama sangat berterima kasih kamu begitu perhatian dengan Hanum." ucap Bu win.
"iya ma, aku berangkat dulu ya ma, assalamu'alaikum." pamit Galang.
"waalaikum salam nak," jawab Bu win.
Galang pun langsung bergegas keluar karena sudah ditunggu oleh David.
setelah Galang masuk ke dalam mobil, David pun melajukan mobilnya menuju ke bandara.
"bos, bos gak lama kan di Jerman.?" tanya David.
"aku juga kurang tahu vid," jawab galang.
"ya bos, jangan terlalu lama lah, bagaimana aku bisa ngurusi sekaligus acara pernikahanku jika bos ngasi segudang pekerjaan tiap hari." David berkata dengan nada memelas.
"ini juga menyangkut urusan rumah tanggaku vid, kita harus mengalah sama wanita hamil tau," jawab Galang.
"lagian kak Hanum nih, hamil pakai acara kelayapan sampai luar negeri segala." celetuk David.
"kau ini, ngomong seenak jidatmu aja." ucap Galang sambil menggetok kepala David.
__ADS_1
"loo salahnya dimana omonganku bos,?" tanya David sambil mengelus kepalanya yang kena getok Galang.
"gak salah tapi omonganmu gak ada sopan santunnya." jawab Galang.
"udah terserah bos saja, turun deh bos ini sudah sampai, tu jet pribadi yang kita sewa, lain kali kalo bisa beli sendiri bos, biar nanti kalau mau kemana-mana gak bikin ribet kayak gini." tutur David.
"betul juga saranmu vid, kau atur lah, pokoknya aku terima beres." ucap Galang.
"kali ini benar-benar salah ngomong aku, malah jadi simalakama sendiri buatku." David berbicara sambil mengacak-acak rambutnya.
Galang pun turun dari mobil lalu berjalan masuk bandara. sesampai Galang dilandaskan pacu langsung disambut oleh 2 pramugari juga pilot yang akan membawa jet pribadi tersebut. karena perjalanan yang akan mereka tempuh sangat lama. Galang memilih untuk tidur karena hari juga memang sudah hampir larut malam.
Sedang dibelahan dunia yang lain. Hanum sesegukan menahan tangis karena merasa begitu rindu dengan suami dan anak-anaknya.
"kamu kenapa nak,?" tiba-tiba Bu Diana sudah duduk disamping Hanum.
"aku kangen anak-anak sama suamiku, satu bulan lebih aku tidak ketemu dengan mereka. terlebih Tara dan Devi, aku bangun mereka baru tidur begitu juga sebaliknya setiap hari hanya seperti itu," jelas Hanum.
"iya sih nak, memang wanita semua hampir seperti itu ya rata-rata." ucap Bu Diana.
"apa lagi disini tidak ada hal yang bisa aku lakukan ma, jadi waktu terasa begitu lama dan membosankan." lanjut Hanum.
"ya semua itu demi kesehatan kamu dan calon anak kamu nak," tutur Bu Diana.
"nak, sebenarnya tadi mama masuk ke kamarmu ini mau ada yang mama bicarakan." ucap Bu Diana.
"ada apa ma, mama ngomong saja, Hanum pasti mendengarnya ma," jawab Hanum.
"sebenarnya tadi mama dapat telpon dari rumah, mengabari kalo ayah Atmojo sedang sakit, mama mau pulang dulu tapi mama juga tidak tega meninggalkan kamu disini." ucap Bu Diana.
"ma, mama lakukan saja kewajiban mama, mengurus suami adalah tanggung jawab seorang istri ma, walau ada anak tapi istri jauh lebih berkewajiban merawat suaminya dikala sakit ma," Hanum pun kembali duduk dan memegang tangan mertuanya itu.
"iya nak, terlebih sebenarnya kami tidak memiliki keturunan, anak kecil yang biasa aku ajak ke butik itu sebenarnya adalah cucu keponakan, yang kebetulan tinggal satu rumah dengan mama." jelas Bu Diana.
"apa lagi seperti itu, sebaiknya mama pulang saja dulu, insyaalloh Hanum tidak apa-apa kok disini," ucap Hanum.
"baiklah, kalau begitu, besok mama akan balik ke Indonesia, jika ayah Atmojo memang kondisinya membaik, mama pasti akan segera datang kesini lagi menemani kamu nak, kamu juga begitu jaga diri juga kesehatan, agak kamu bisa sehat dan bisa balik ke indonesia lagi." Bu Diana kemudian memeluk menantunya itu.
"iya ma, Hanum juga inginnya seperti itu," Hanum pun membalas pelukan Bu Diana.
--------
Hari sudah berganti sore, Hanum juga sudah selesai membersihkan diri dan duduk diteras belakang sambil melihat matahari yang akan berpindah menyinari belahan bumi yang lain.
"kamu sedang melamun Hanum," Daniel membuyarkan lamunan Hanum.
__ADS_1
"kamu Niel, apa kamu tidak pergi ke resto,?" tanya Hanum.
"tidak tahu kenapa tadi rasanya ingin pulang, lagian resto juga kan ada yang mengurusi, jadi aku memilih pulang dari pada bosan disana. oh iya ini camilan seperti semalam yang kamu makan," Daniel menepati janjinya membawakan camilan khas jerman yang sangat disukai Hanum itu.
"waa terima kasih ya Niel, kamu tahu saja aku ingin nyemil," jawab Hanum.
"kan kemaren aku sudah janji, jadi harus ditepati kan," ucap Daniel.
sebenarnya aku pulang cepat karena aku sangat rindu denganmu num,ucap Daniel dalam hati.
Hanum pun memakan camilan yang diberi oleh Daniel tersebut sambil bercengkrama dengan Daniel, sekaligus mereka berdua menikmati pemandangan sore hari.
Senja pun telah tiba Hanum bergegas masuk dan menunaikan sholat magrib, meski keluarga mertuanya beda keyakinan dengannya tapi keluarga mertuanya selalu menghormati keyakinan yang dianut oleh orang lain. setelah sholat magrib dan sekalian menunggu waktu isya datang, Hanum selepas sholat pun langsung menuju ruang makan disana sudah berkumpul semua anggota keluarga mertuanya tersebut.
Karena Daniel tahu kalo Hanum suka dengan masakannya, Daniel juga sudah menyiapkan makanan hasil masakan khusus untuk Hanum.
Benar adanya, Hanum memakan makanan yang disiapkan Daniel dengan sangat lahap.
"syukurlah nak, kalo kamu nafsu makanmu telah kembali, keadaanmu pasti akan segera membaik." ucap Bu Diana.
" iya ini ma, sepertinya anakku ini suka sekali masakan uncle nya." jawab Hanum.
" semoga nanti setelah kamu bisa pulang ke indonesia, anakmu itu gak minta dimasakin terus sama Daniel, bisa-bisa kita nanti harus boyong Daniel juga,haaa haaa" celetuk Bu Diana.
haaaaa haaaaaa semua pun tertawa bersama.
"andai kamu mau lahiran disini nak, opa dan Oma pasti sangat bahagia, opa dan Oma juga ingin melihatnya nanti sebelum ajal menjemput kami, iya kan Oma." ucap opa sambil memegang tangan Oma dengan lembut.
"iya sayang, kamu lahiran disini saja ya," pinta Oma.
"tapi kasihan Tara dan Devi oma, kalau lahiran disini gimana pula dengan urusan kerjaan mas Galang." jelas Hanum yang sebenarnya juga tak tega menolak permintaan tulus Oma dan opa.
"iya juga ya nak," jawab opa.
"bagaimana kalo opa dan Oma ikut kami pulang ke Indonesia.?" usul Hanum.
"tidak nak, disinilah kami memulai hidup kami berdua. dan disinilah kami ingin menghabiskan sisa umur kami bersama-sama." tutur opa
"opa, oma," Hanum berdiri lalu memeluk bergantian opa dan Oma nya dari belakang.
"gini saja sayang, sematkan salah satu dari nama kami untuk anakmu nanti jika lahir. agar kamu selalu mengingat kami." pinta Oma.
"iya Oma, Hanum janji akan menyematkan nama Oma jika anak Hanum perempuan dan menyematkan nama opa jika anak Hanum laki-laki." jawab Hanum sambil mencium tangan Oma yang ada digenggamannya.
bersambung.
__ADS_1