Pengorbanan Istri Ke 2

Pengorbanan Istri Ke 2
Rasa rindu


__ADS_3

Keesokan harinya.


"perasaan aku semalam nonton televisi sama Daniel. kenapa aku sekarang sudah ada dikamar. apa aku ketiduran dan digendong Daniel ke kamar ya.?" ucap Hanum pada diri sendiri.


tok tok tok


suara ketukan pintu mengagetkan lamunan Hanum.


"masuk gak dikunci" ucap Hanum


"pagi Hanum, bagaimana tidurmu nyenyak tidak semalam.?" tanya Daniel.


"hai Niel, iya semalam tidurku nyenyak sekali, kamu ya yang mindahin aku ke kamar semalam.?" hanum juga ikut bertanya.


"iya, gak tega aku jika harus melihatmu tidur di sofa. oh iya ini aku bawakan sarapan untukmu." jawab Daniel


"kenapa kau repot-repot,?" tanya Hanum.


"aku ingin melihatmu kembali sehat, aku juga ingin menebus kesalahanku yang sudah memaksamu untuk ikut naik kuda sehingga berakibat buruk seperti ini." sesal Daniel.


"sudahlah jangan bicara seperti itu, ya sudah bawa sini nampannya, aku akan sarapan..tapi tunggu aku belum cuci muka dan gosok gigi ini." Hanum bergegas menuju kamar mandi.


Setelah selesai cuci muka dan gosok gigi Hanum pun kembali ke kamar dan memakan sarapan yang sudah disiapkan Daniel untuknya.


Hanum sarapan sembari ditemani ngobrol oleh daniel. tak terasa makanan semua ludes dalam sekejap.


"Hanum kamu sudah sarapan nak.?" tanya Bu Diana yang tiba-tiba masuk karena memang pintu tidak ditutup rapat oleh Daniel pas masuk tadi.


"ini sudah ma, ini tadi dibawain makanan oleh Daniel." jawab Hanum.


"iya tante. aku masakin makanan spesial untuk Hanum, sebagai ungkapan penyesalan atas kesalahanku yang mengakibatkan Hanum harus sakit seperti ini." jelas Daniel.


"waa sepertinya masakan Daniel memang cocok buatmu nak. kamu habis sarapan biasanya langsung kamu muntahkan kembali, tapi kali ini sepertinya kamu baik-baik saja," ucap Bu Diana.


"benar juga ya ma, waa keponakan om daniel suka ya sama masakan om nya." tutur Hanum sambil mengelus perutnya.


"aku akan masak tiap hari untuk ponakanku ini kalau memang dia suka masakan ku," jawab Daniel.


"benar nih, nanti malah kerepotan." tanya hanum.


"tidak lah, mana mungkin aku merasa kerepotan ini kan sekaligus untuk menebus semua kesalahanku, aku malah suka karena ada hal yang bisa aku lakukan untukmu dan calon anak kamu." jawab daniel.


"ya sudah kamu bersiap dulu num, lalu kita akan jalan-jalan sembari olah raga pagi keliling pekarangan sini saja." ajak Bu Diana .

__ADS_1


"iya ma,,,sebentar ya Niel kamu tunggu didepan saja, aku mau bersiap-siap dulu." pinta Hanum.


"ih iya, maaf aku sampai lupa." jawab daniel.


Hanum pun bersiap-siap mengunakan celana agak longgar dan juga kaos, tak lupa dia juga mengunakan topi, Hanum memang diajak olah raga ringan setiap hari oleh mertuanya, agar tubuh Hanum tidak terlalu lemah.


Setelah Hanum selesai bersiap-siap pun, Hanum langsung menyusul Daniel dan mertuanya yang menunggu diteras depan. mereka bertiga berjalan pelan sambil bercangkrama menceritakan masa kecil Bu Diana dan bibi Margaret yang memang dari dulu tinggal di situ semenjak kecil.


Hanum merasa lebih sehat dan perasaannya juga semakin senang juga tenang. hari-hari yang dia lalui selalu dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. tapi Hanum masih tetap berharap agar segera bisa berkumpul dengan anak dan suaminya.


"ma aku sudah sedikit lelah, bagaimana kalo kita balik saja," ajak Hanum pada mertuanya.


"iya nak, ayo kita balik, tapi kalau memang kamu capek, kita istirahat saja dulu setelah itu kita balik setelah lelahmu berkurang." usul Bu Diana.


"iya Hanum kita duduk saja dulu disana," Daniel menunjuk bangku disudut pekarangan keluarganya tersebut.


"Iya baiklah," jawab Hanum.


mereka bertiga pun beristirahat sambil memandangi daun-daun yang mulai berguguran.


"sebentar lagi disini musim salju num. apa kamu perna melihat salju turun.?" tanya Daniel.


"aku belum pernah melihat salju niel.kalo merasakan musim dingin sih sudah sering." jawab Hanum.


"oh iya nak, kapan kira-kira Galang datang kemari, apa dia masih sibuk.?" tanya Bu Diana.


"iya ma, David asistennya akan melangsungkan pernikahan minggu-minggu ini. jadi gak ada yang bantuin mas Galang, terus orang kepercayaan kami Joko juga lagi sibuk ngurusi istrinya yang baru melahirkan." jawab Hanum.


"ya yang terpenting kamu jaga kesehatanmu agar kita bisa segera balik ke Indonesia." lanjut Bu Diana.


"memang apa salahnya sih Tante jika Hanum melahirkan disini.?" tanya daniel.


"kalo Tante sih setuju-setuju saja, tapi Hanumnya mau tidak tinggal berjauhan dengan suaminya." jawab Bu Diana.


"tidak ma, aku tidak mau, aku tetap ingin melahirkan dekat suamiku, berbagi kebahagiaan dan kesusahan dengan pasangan kita jauh lebih membahagiakan dari hal apapun." sahut Hanum.


"tu kamu dengar sendiri kan Niel. mana mungkin kakak iparmu ini mau. haaa haaaa " Bu Diana menjelaskan sambil tertawa.


"mangkanya kamu segera mencari pasangan agar tau rasanya hidup bahagia berbagi dengan orang yang kita cintai." tutur Hanum.


"belum ada yang cocok, andai kamu punya saudara kembar num, mungkin aku mau menika dengan saudara kembarmu itu," ucap Daniel sambil melihat kearah langit.


"sudah deh Daniel, jangan aneh-aneh, ayo ma kita pulang, Hanum sudah hilang kok rasa capeknya.." Hanum beranjak pergi dari bangku tersebut agar Daniel tidak lagi berbicara ngelantur.

__ADS_1


Mereka bertiga pun berjalan pelan menuju rumah, menikmati udara pagi yang masih sejuk dengan pemandangan perkebunan nan hijau di kanan kiri jalan yang mereka lewati.


"jadi opa dan oma dari dulu seorang petani ya ma,?" tanya Hanum.


"iya nak, mereka adalah petani juga peternak yang sangat rajin. makanya opa mempertahankan pekarangan ini agak tetap bisa menyalurkan hobbynya disini." jawab Bu Diana.


Disaat mereka asik ngobrol tiba-tiba Bu Diana dikejutkan getaran disaku celananya yang berasal dari ponselnya.


Bu Diana pun pamit agak menjauh untuk menerima panggilan telpon tersebut. dan menyuruh Daniel dan Hanum balik terlebih dahulu.


"num, bagaimana rasanya ada bayi dalam.perut kita,?" tanya Daniel.


"kalo masih awal-awal begini ya belum ada yang dirasa Niel, nanti setelah 4 bulan baru ada pergerakan." jawab Hanum.


"nanti pas sudah bergerak-gerak boleh aku memegangnya kah num.?" tanya Daniel.


"gimana ya Niel, nanti saja pas kamu punya pasangan kamu bisa pegang perut istrimu, kalo kamu pegang perut aku nanti apa kata mas Galang. heee here," jawab Hanum sambil tersenyum.


"num apa kita salah mengagumi wanita yang sudah menika.?" tanya Daniel lagi.


"tidak salah, tapi jika kita memaksa memiliki yang tidak pantas untuk kita miliki baru itu salah, mengerti kan.?" jawab Hanum.


Daniel hanya tersenyum mendengar jawaban Hanum. dalam batin Daniel kenapa dia merasakan debaran cinta untuk yang pertama kalinya malah dengan kakak iparnya sendiri.


andai aku bisa memilikimu, mungkin aku akan jadi laki-laki yang paling bahagia num, tapi sayang itu semua hanya mimpi.batin Daniel.


"mama tadi kenapa begitu lama ya, apa ada masalah dengan mama dan keluarganya ya.?" ucap Hanum.


"sudahlah kita duluan saja, nanti kalau tante sudah balik kita bisa menanyakan langsung." jawab Daniel.


Akhirnya Daniel dan Hanum masuk kedalam rumah dan membersihkan diri dikamar masing-masing. Hanum kemudian menghubungi suaminya karena merasa sangat merindukan suaminya.


"hallo mas," ucap Hanum.


"hai sayang, kamu lagi apa," tanya Galang.


"mas aku benar-benar kangen,, tolonglah mas kamu kemari.meski cuma sehari aku mohon mas," tak terasa butiran bening menetes dari sudut mata Hanum.


"iya sayang, jangan menangis. mas usahakan akan ke segera kesana. jangan lagi menangis ya." ucap Galang.


"mas gak bohong kan,? mas harus janji ya," tanya Hanum.


"iya sayang, malam ini juga mas akan berangkat, tapi berjanjilah jangan menangis." ucap Galang yang juga sangat merindukan istrinya sebenarnya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2