
melalui pintu rahasia Panji meninggalkan kerajaan dan di luar pintu telah menunggu penasehat Angga bersama kuda si kilat.
"hanya yang mulia dan pejabat penting yang mengetahui pintu rahasia ini"
"berjalan lah terus yang mulia akan menemukan hutan"
"dari sana yang mulia terus saja ke selatan dan pasti akan sampai di benua putih" kata penasehat Angga
"baik, terima kasih paman"
"yang mulia harus hati hati, dan kembalilah secepatnya"
"iya paman, ingat jangan lupa santunan untuk keluarga korban perang" kata Panji dan naik ke pelana kuda si kilat.
"mari kilat, kita kembali berpetualang"
"huueeeekkkkk"
si kilat sepertinya begitu senang karena Panji kembali mengajak nya berpetualang seperti tuannya terdahulu.
"maju...."
si kilat langsung melesat bagai angin seperti namannya melaju bagai kilat.
"sepertinya aku harus dari pinggiran benua putih, aku tak mungkin memasuki Kotaraja karena itu akan membahayakan"
"raja kegelapan akan mencapai puncak kekuatan nya??"
"seberapa kuat ya??"
"sementara saat dia menyerang ku kekuatan nya sudah luar biasa"
"bagaimana kalau sampai puncak??"
si kilat terus melaju kencang tanpa mengenal lelah, bahkan Panji yang minta istirahat saat menemukan sebuah sungai.
"kilat, kita berhenti sebentar"
"makan dan kumpulkan tenaga mu"
"setelah itu kita lanjutkan perjalanan"
"huekkkk"
kilat seperti mengerti perkataan Panji dan mulai makan dengan lahap nya dan minum begitu rakusnya.
"bagaimana kilat apa kau sudah puas makannya??"
"kita teruskan perjalanan ya??" kata Panji mengelus kepala kudanya.
Panji naik ke punggung si kilat dan lagi lagi si kilat kembali berlari bagaikan angin.
tak ada hambatan yang berarti yang Panji lalui selain sekumpulan begundal kecil yang langsung melarikan diri setelah merasakan pancaran energi yang besar dari tubuh Panji.
Panji melihat sekumpulan air yang begitu banyak yang tepi nya bahkan Panji tak mengetahuinya.
"sepertinya kita telah sampai kilat" kata Panji dan turun dari punggung kudanya.
"dari ciri ciri yang di sebutkan paman Demar di sinilah arah menuju pulau es"
"minum lah, kau pasti telah letih beberapa hari ini kau berlari tanpa mengenal capek" Panji lebih dulu memberikan air minum untuk si kilat dan mencari tempat bersandar untuk istirahat memulihkan tenaga nya.
"sebaiknya aku istirahat di sini"
"besok pagi baru lah aku pergi menuju pulau es yang tak jelas itu"
"semoga saja paman Demar tidak berbohong" gumam Panji
__ADS_1
selepas istirahat Panji berjalan menuju ke hutan dan mengumpulkan kayu bakar serta makanan untuk mengganjal perutnya.
"sepertinya malam ini aku akan tidur di alam terbuka"
"sudah cukup lama aku tak tidur di alam terbuka"
bibir Panji tersenyum saat mengingat tidur di alam terbuka. ingatan kembali pada diyah Pitaloka.
"apa Dinda diyah Pitaloka masih di lembah kesunyian ya??"
"aku sudah cukup lama meninggalkannya"
"semoga Dinda baik baik saja" gumam Panji sambil memperbesar nyala api untuk menghangatkan tubuhnya.
"kukkuruyukkk"
suara ayam hutan membangunkan tidur Panji dan melihat si kilat ada di dekatnya.
"ada apa kilat?"
Panji memandang ke sekeliling melihat apakah ada yang mencurigakan, tapi Panji tak menemukan apa pun.
"kilat, sepertinya untuk beberapa saat kita harus berpisah"
"pergilah masuk hutan, dan tunggu aku kembali"
"huueeekkkk"
si kilat seperti mengerti dan tertunduk, perlahan lahan si kilat menjilati tubuh Panji.
"hey, hentikan geli" kata Panji tertawa karena merasa geli karena jilatan dari kudanya.
Panji menampar nampar punggung kudanya.
"pergilah kilat"
"hueeekkk"
si kilat berbalik dan berjalan pelan menuju hutan, kuda itu merasa berat untuk berpisah dengan tuan nya. si kilat menoleh menatap Panji seperti berkata.
"tuan harus kembali, aku akan menunggu di sini"
"iya kilat aku pasti kembali" teriak Panji mengerti maksud dari kudanya.
"hueeeeekkkkk"
wuuuussssshhhhh
mendengat itu si kilat langsung melesat masuk hutan.
"sepertinya sudah saatnya untuk mencari pulau es" kata Panji dan menggerak gerak kan lehernya sebagai pemanasan.
"arah Utara ya dan ikuti arah angin" Panji kembali mengingat perkataan Mahapatih Demar.
"hupppp"
Panji terbang dan mengandalkan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang telah hampir sempurna. Panji terus terbang cepat dan seperti perkataan Mahapatih Demar mengikuti arah angin.
angin memang benar benar mengarahkan Panji, seolah angin mengetahui Panji menuju pulau es, arah angin tak pernah berubah selalu satu arah dan itu memudahkan pergerakan Panji. Panji juga mengerahkan mata langit untuk mencari keberadaan pulau yang masih misterius itu.
cukup lama Panji terbang dan itu menguras tenaga dalam nya.
"sampai kapan aku bertahan, bisa bisa aku mati jatuh ke dalam laut"
"sejauh memandang hanya lautan yang kelihatan"
"eh apa itu??"
__ADS_1
Panji melihat sebuah gundukan besar mirip pulau tapi semua serba putih.
Panji menambah tenaga dalam nya dan semakin cepat melesat ke arah gundukan itu.
angin kencang yang cukup dingin langsung menusuk tulang Panji.
"tappp"
Panji menjejakkan kaki nya di pinggir pulau.
"huhhhhhuhhh"
Panji langsung kedinginan dan terpaksa menghangatkan tubuhnya dengan elemen api
"semoga di sini tempatnya"
sejenak Panji beristirahat dan memandang di sekitar tempat. semuanya putih dan tertutup es bahkan kayu yang tumbuh pun di selimuti es tebal.
"bagaimana mungkin pohon pohon ini hidup di pulau ini dan juga di selimuti es yang begitu tebal"
"sepertinya akan banyak rahasia yang aku ketahui dari pulau ini"
Panji mulai melangkah walaupun dengan langkah kaku karena dingin.
"harusnya aku bawa baju tebal"
"ini aku malah pakai baju lengan pendek"
"kalau aku bertemu orang pasti aku di kira orang tak waras karena berpakaian seperti ini"
"apa mungkin ada manusia di tempat ini??"
kepala Panji di penuhi berbagai macam banyak pertanyaan.
Panji terus saja berjalan dan berharap menemukan sebuah perkampungan atau sesuatu tempat untuk berteduh, paling tidak menghangatkan tubuh walaupun sejenak.
"gua...!!!"
Panji berteriak kegirangan saat melihat sebuah lubang besar di antara gundukan es. Panji berlari dan memasuki gua itu.
"aneh, gua ini tak di masuki es sedikit pun"
"aku merasa ini seperti tempat tinggal"
"sebaiknya aku tunggu, mungkin ada pemilik gua ini" gumam Panji.
Panji mengatakan itu karena dalam gua ada banyak tumpukan kayu bakar, walaupun sudah sedikit lapuk tapi masih bisa di pergunakan.
"sebaiknya aku menghidupkan api.
Panji berinisiatif untuk menghidupkan api dan menghangatkan tubuhnya.
"maaf untuk pemilik tempat dan kayu bakar ini"
"aku pergunakan sedikit ya"
Panji berbicara sendiri dan mulai menghidupkan api. rasa hangat langsung menjalar di sekujur tubuh Panji.
"ohhh indahnya hidup"
"roooaaaarrrrrrr"
suara raungan keras terdengar dari luar gua dan itu mengharuskan Panji untuk waspada. Panji sedikit mengintip dan melihat sesuatu yang putih besar berdiri di mulut gua.
"apa itu??"
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
untuk hari ini dua episode, selanjutnya saya akan berusaha untuk up dua episode setiap harinya. ikuti terus ya, perjalanan kita masih panjang menuju puncak.