
"lama sekali tabib Somali mengambil bahan yang aku minta??"
"apa gudang kerajaan begitu jauh??" Panji bertanya sendiri.
"tabib Somali baru pergi yang mulia udah tanya"
"tunggu saja sebentar lagi" kata Mahapatih Demar
Panji memandang Mahapatih Demar dengan tatapan mata yang tajam, seperti tak suka dengan perkataan Mahapatih Demar.
suara langkah berlari terdengar dari luar.
"ini yang mulia, hamba sudah membawa semua permintaan yang mulia" kata tabib Somali dengan napas ngos ngosan, seperti nya tabib kerajaan itu berlari karena permintaan Panji yang sangat mendesak.
Tabib Somali memberikan buntalan kecil kepada Panji. Panji dengan cepat membuka membuka buntalan itu.
"ambil dan bawakan peralatan pengobatan mu tabib" pinta Panji
Tabib Somali tanpa menjawab mendekatkan semua peralatan pengobatan nya.
Tangan Panji sangat cepat bergerak dalam meracik berbagai macam tanaman obat yang dia racik untuk mengobati luka panglima Andra. tabib Somali dan Mahapatih Demar menganga dengan mulut terbuka, mereka tak menyangka tangan Panji akan segesit itu.
"sudah selesai" kata Panji dengan keringat yang membasahi baju nya.
Panji mendudukkan panglima Andar dan menyalurkan hawa murni, setelah itu Panji memasukkan ramuan obat ke mulut panglima itu.
"tuk tuk tuk"
Panji menotok urat leher panglima Andar dan memaksa ramuan obat masuk.
"kalian pegang kedua tangan nya" perintah Panji pada Mahapatih Demar dan tabib Somali
setelah itu Panji kembali menyalurkan tenaga dalam lewat punggung panglima Andar. saat Panji menyalurkan tenaga dalam hawa di ruangan itu berubah ubah.
Mahapatih dan tabib Somali juga merasakan nya, tangan mereka yang memegang panglima Andar merasakan bagaimana besar nya tenaga dalam panji.
Hawa kadang panas, berubah menjadi dingin dan tiba tiba listrik yang kecil menyetrum tangan mereka. tabib Somali seandainya bukan karena perintah dari Panji dia sudah melepaskan tangan nya dari tubuh panglima Andar
Tapi itu perintah raja nya, jadi tak ada alasan untuk menolak, apalagi untuk melawan, sehingga tabib Somali menahan semua nya.
"sudah cukup, kalian boleh melepaskan tangan nya" kata Panji
Panji menepuk pelan punggung panglima Andar.
"huakkkk...!!!"
Dalam ketidak sadaran panglima Andar memuntahkan cairan hitam pekat.
"dia sudah melewati masa kritis nya"
"tabib, oleskan cairan ini di sekitar dada nya yang terluka" kata Panji memberi perintah.
"baik yang mulia"
Tabib Somali mengerjakan semua perintah dari raja Satria.
__ADS_1
"biarkan dulu dia istirahat, jika dia sudah sadar berikan ramuan ini"
"rawat dia baik baik, aku menyimpan banyak pertanyaan untuk dia" kata Panji kepada tabib Somali.
"baik yang mulia" jawab tabib Somali.
"apa saat dia sampai, dia membawa sesuatu??" tanya Panji
"ada yang mulia, ini..!!!"
Mahapatih Demar memberikan buntalan yang di bawa panglima Andar.
Panji menerima buntalan itu dengan tersenyum.
"kau masih terjaga dengan rapi rupa nya" gumam Panji saat melihat isi buntalan itu. selendang sutra pemberian Diyah Pitaloka.
"apa yang mulia pernah melihat luka itu??" tanya Mahapatih Demar.
"tidak, tapi aku rasa aku tahu siapa pelaku nya" jawab Panji
"yang mulia tahu pelaku nya??"
"siapa yang mulia??" tanya Mahapatih Demar penasaran
"dewa sesat"
"aku yakin hanya dia yang mampu melukai panglima Andar sampai separah itu"
"tak ada lagi selain dia" kata Panji.
Mahapatih itu memang telah mulai merasa cemas, karena masa masa damai akan berkahir.
"sampai kapan kedamaian ini bertahan yang mulia??" tanya Mahapatih Demar
"aku tak tahu Mahapatih, seperti janji ku dulu, selama aku memiliki kekuatan aku akan menghadapi dewa sesat"
"aku akan menjaga keutuhan benua ini"
"apa yang mulia yakin mampu menghadapi dewa sesat??"
"aku tak tahu, kalau tak di coba bagaimana mungkin akan kita tahu"
"dewa pasti akan membantu ku" jawab Panji
"apa yang mulia akan mencari nya??" kembali Mahapatih bertanya.
"tidak, kali ini aku akan menunggu nya, aku tak mau seperti perang melawan raja kematian"
"aku terlambat, sehingga banyak korban yang jatuh"
"biar dewa sesat yang datang sendiri, lagian dewa sesat sudah berkata, akan datang menemui aku"
"jadi lebih baik aku menunggu" kata Panji
Jawaban Panji membuat Mahapatih Demar merasa tenang, itu karena dengan ada nya Panji di istana mereka memiliki kekuatan untuk melawan dewa sesat. Mahapatih Demar tahu, saat ini Panji manusia terkuat di seluruh benua.
__ADS_1
Panji keluar dari ruang pengobatan.
"Mahapatih, tarik semua prajurit yang ada di perbatasan" kata Panji memberi perintah
"kenapa yang mulia??"
"bukan kah tugas mereka menjaga perbatasan" tanya Mahapatih Demar heran.
"untuk saat ini musuh yang di hadapi sangat lah kuat, berapa banyak prajurit akan percuma"
"hanya menambah korban saja"
"tarik secepatnya" kata Panji mengulang perintah nya.
"baik yang mulia, akan aku suruh para panglima menarik semua prajurit nya" jawab Mahapatih Demar.
"dan setelah itu kosongkan istana ini, aku akan menunggu dewa sesat sendirian di sini" kata Panji.
Mahapatih Demar menatap Panji tak percaya.
"tidak, aku akan tetap di sini"
"aku akan bersama raja ku" kata Mahapatih Demar melawan.
"tapi Mahapatih...
"tidak yang mulia, biarkan aku bersama yang mulia"
"walaupun sedikit aku berguna yang mulia, aku mohon ijinkan aku menemani mu" pinta Mahapatih Demar.
"yang mulia, panglima Andar sudah sadar"
Tabib Somali memotong pembicaraan Mahapatih Demar dan raja Satria
Panji berjalan ke arah panglima Andar.
"maafkan aku yang mulia, aku gagal" kata panglima Andar.
"sudah, kau bisa berhasil kembali itu yang harus kau syukuri"
"siapa yang melukai mu panglima??" tanya Panji
"raja kematian yang mulia" jawab panglima Andar.
"dia sudah kembali ke benua"
"dewa sesat" gumam Panji
*****
like n komen sahabat.
terima kasih masih terus mengikuti perjalanan ini.
dan selamat istirahat
__ADS_1