
Panji saat ini berada di taman istana, kabar tentang kembali nya dewa sesat dan telah mulai melakukan keonaran juga sudah Panji dengar.
Panji sempat ingin pergi mencari dewa sesat, tapi setelah di pikir cukup lama Panji memutuskan untuk menunggu, Panji takut saat mencari dewa sesat malah dewa sesat datang ke istana nya.
Panji berpikir jika dewa sesat sampai di istana nya dan membuat keributan, sementara jika dia terlambat maka akan sama seperti saat melawan raja kematian, banyak korban berjatuhan sebelum Panji sampai di istana.
"baik lah, aku harus mengambil keputusan ini"
"aku tak mau prajurit kerajaan mati sia sia"
Panji berjalan keluar dan mencari keberadaan penasehat Angga dan Mahapatih Demar.
"penasehat, katakan kepada semua punggawa dan para menteri, aku menunggu di ruang pertemuan"
"aku menunggu, sekarang juga" kata Panji setelah bertemu dengan penasehat Angga
"ada apa yang mulia??"
"mengapa begitu mendadak??" tanya penasehat Angga.
"kumpulkan saja dulu, sampai di ruang pertemuan aku akan mengatakan nya" jawab Panji
"baik yang mulia, akan hamba laksanakan" jawab penasehat Angga dan melaksanakan perintah yang di berikan oleh raja nya itu.
Panji kembali ke kamar nya, Panji mengganti pakaian nya, Panji memakai baju kebesaran nya, sebuah jubah berwarna keperakan juga sudah menempel di tubuh Panji, di tambah dengan mahkota berbentuk bintang menambah kewibawaan Panji sebagai seorang raja.
Panji keluar kamar dan berjalan, sungguh gagah raja muda itu, para prajurit terkesima melihat penampilan Panji yang berbeda. sangat jarang Panji memakai baju kebesaran nya, dan kali ini mereka melihat bagaimana pantas nya Panji menjadi seorang Raja.
Panji memasuki ruang pertemuan, semua yang ada di ruang pertemuan itu juga terkesima, sama seperti para prajurit, bahkan saking terkesima nya tak ada satu pun yang memberi hormat kepada Panji.
"sungguh raja yang gagah, dan penuh wibawa" begitu lah pikiran dari orang orang yang menghadiri ruang pertemuan.
"terima kasih sudah menghadiri pertemuan yang mendadak ini"
Kata kata Panji yang cukup berwibawa langsung mengagetkan seluruh punggawa dan menteri kerajaan. semua nya langsung berlutut.
"hormat kepada yang mulia raja Satria" teriak semua punggawa dan para menteri.
"cukup, kalian duduk ke tempat kalian" kata Panji.
"kali ini aku tak meminta kalian untuk bicara, cukup mendengarkan saja"
"yang bicara cukup yang aku tanya, selain itu menjadi pendengar saja" kata Panji cukup keras.
Mendengar itu orang orang yang menghadiri pertemuan saling pandang dan tak paham maksud dari raja mereka.
"seperti yang kalian tahu, dewa sesat sudah mulai melakukan teror nya, aku tak mau kalau kalian jadi korban keganasan dari dewa sesat"
"untuk itu, aku memutuskan akan menunggu dewa sesat di istana ini, sendirian"
"aku akan menghadapi nya"
"aku tahu dia akan segera sampai di sini"
"oleh karena itu aku minta kepada kalian, saat pertemuan ini selesai kalian segera meninggalkan istana ini"
"jauhi istana ini sampai pertarungan dengan dewa sesat berakhir" kata Panji
"tapi yang mulai..!!!" seorang punggawa ingin bicara
"diam, aku tadi sudah katakan hanya aku yang bicara"
"kalian cukup diam dan dengarkan" kata Panji berteriak dan menggunakan setengah tenaga dalam nya.
Bangunan istana langsung bergetar karena suara Panji yang begitu bergemuruh, bagaikan angin kencang yang menerpa dada para punggawa
__ADS_1
"bicara Mahapatih" kata Panji saat melihat mahapatih Demar ingin membuka mulut nya.
"apa tidak akan ada satu pun yang menemani yang mulia??" tanya Mahapatih Demar.
"kalian boleh menemani aku di sini, tapi ada syarat nya" jawab Panji
"syarat??"
"apa syaratnya yang mulia??"
"jika syarat itu bisa aku penuhi aku boleh menemani yang mulia??" salah satu panglima berkata dengan antusias
"iya, kalian boleh menemani ku asal syarat ku bisa kalian penuhi" jawab Panji tersenyum.
"apa syarat nya yang mulia??" tanya penasehat Angga
"iniii...!!!!!"
Panji mengeluarkan seluruh tenaga dalam nya, semua yang di ruangan itu langsung pucat saat merasakan pancaran tenaga dalam yang begitu besar.
Panji sejenak menahan seluruh tenaga dalam nya, suara derikan dari dinding istana menunjukkan betapa besar nya tenaga dalam Panji, bahkan perlahan lahan dinding istana mulai terlihat bergetar dan retak perlahan lahan.
Saat Panji menarik tenaga dalam nya, wajah wajah pucat dari punggawa kerajaan terlihat jelas di mata Panji.
"itu lah syarat nya, jika ada di antara kalian yang memiliki tenaga dalam sebesar itu maka dia boleh menemani ku dalam istana ini"
"
tapi jika tak memiliki tenaga dalam sebesar itu sebaiknya secepatnya pergi dan menjauh dari sekitar istana"
"aku tak tahu apa kah kekuatan dewa sesat lebih kuat dari kekuatan ku"
"apa kalian paham maksud ku??" tanya Panji
Semua nya diam dan tak ada yang menjawab.
"aku tak ingin melibatkan kalian, ini bukan perang"
"tapi ini pertarungan antara pendekar"
"jika kalian tetap dalam istana ini, maka kalian hanya akan jadi beban untuk ku dalam pertarungan ku melawan dewa sesat"
"aku harap kalian mengerti dan menerima keputusan ku"
Semua nya tetap diam.
"sebelum hari berganti, aku harap istana ini telah kosong"
"jangan menunda untuk meninggalkan istana ini, karena aku pun tak tahu kapan dewa sesat akan mampir di istana ini"
"paham???" teriak Panji.
"iya yang mulia, kami semua paham"
"Pertemuan ini selesai" kata Panji dan langsung pergi keluar tanpa menunggu protes dari punggawa kerajaan nya.
Panji memutuskan kembali ke kamar nya, dan memilih untuk bersemedi, menenangkan diri nya, mencoba untuk benar benar menguasai pengendalian tenaga dalam nya.
"yang mulia, aku ingin bicara" Mahapatih Demar bicara dari luar.
Panji membuka mata nya yang terpejam.
"aku tahu paman pasti akan kemari, masuk saja paman" jawab Panji pelan.
Mahapatih Demar masuk dan langsung duduk di dekat Panji
__ADS_1
"kenapa kau mengambil keputusan seperti itu??"
"itu keputusan terbaik paman, aku tak mau banyak nyawa melayang karena kedatangan dewa sesat"
"dia tak memandang rasa kasihan, setiap yang di lihat dan di temui nya, semua di bantai tak pandang bulu" jawab Panji
"aku yang akan menemani di istana ini Panji" kata Mahapatih Demar.
"tidak paman, paman juga harus pergi dari istana ini" kata Panji
"aku harus pergi??"
"aku akan kemana??"
"rumah ku di istana ini"
"kau juga mengetahui nya Panji" jawab Mahapatih Demar.
"tapi paman" Panji tak terima dengan perkataan Mahapatih Demar.
"kau mengatakan kepada para punggawa untuk mengungsi dan menjauh dari istana, itu mungkin berlaku untuk mereka, tapi bagi ku itu berlaku Panji"
" aku akan tetap berada di istana ini" Mahapatih Demar membantah perintah raja nya.
"paman jangan keras kepala"
"aku tidak keras kepala, dan satu lagi aku tak akan menganggu pertarungan kalian"
"aku hanya akan jadi saksi pertarungan besar kalian"
Panji menatap Mahapatih Demar.
"tapi sebelum nya aku harap paman mengawasi semua punggawa, jangan biarkan satu orang pun tinggal di istana"
"mereka memiliki keluarga"
"pastikan tak ada yang tertinggal" kata Panji.
"siap di laksanakan yang mulia"
Mahapatih Demar keluar dari kamar Panji dan mengawasi semua prajurit yang lesu tak memiliki daya untuk membantu raja nya.
"cepat lah, yang mulia sudah memberi perintah"
"percaya lah yang mulia melakukan itu demi kebaikan kita semua"
"aku tak bisa menerima pengorbanan sebesar ini"
"tapi apa kau mau menjadi beban untuk yang mulia??"
"yang mulia ingin bebas bertarung tanpa ada gangguan dari kita"
"jika kita tetap dalam istana, itu hanya akan mengalihkan perhatian yang mulia"
"asal kalian tahu, yang mulia melakukan semua ini demi kita"
"demi rakyat nya"
Suara penolakan masih terus terdengar, tapi tak ada satu orang pun yang membantah, saat sore belum menemui malam, istana kerajaan bintang kejora telah sepi bagaikan kuburan.
"Sungguh kerajaan yang malang"
*****************
like dan komen ya sahabat,
__ADS_1
Rate nya donk sahabat.
akhir kata selamat beristirahat dan semoga dalam keadaan sehat.