Perjalanan Menuju Langit

Perjalanan Menuju Langit
episode 113 menyerang benua biru


__ADS_3

Saat Panji berada di pulau es raja kematian telah mulai mengumpulkan semua anak buah nya, dan berniat menyerang benua biru dan juga kerajaan kayu upam.


panglima Gantika yang memimpin langsung penyerangan ke benua biru.


"Mahapatih Mahapatih, bagaimana ini??" raja Satya langsung menemui Mahapatih Hardy, Mahapatih baru setelah mereka mengkudeta kerajaan.


seribu prajurit dari benua kegelapan setara dengan seratus ribu prajurit biasa, mereka membantai siapa saja yang ingin melawan mereka, dalam beberapa jam jalan jalan telah di berwarna merah, mayat bergelimpangan tak terurus.


"hahahaha"


"bunuh semua" perintah panglima Gantika.


melihat itu Mahapatih Hardy memerintahkan prajurit nya untuk menyerang.


serangggg"


ribuan prajurit berlari dari istana dan menyongsong pasukan benua kegelapan. perang besar terjadi, melihat pasukan nya lebih banyak Mahapatih Hardy merasa kemenangan akan mereka dapatkan tapi saat melihat lagi wajahnya pucat putih. prajurit nya tak berdaya menghadapi semua prajurit benua kegelapan.


gantika maju ke depan dan menyerang panglima Hardi.


"eitss"


Mahapatih Hardy menangkis dan berkelit, dan berbalik menyerang Gantika. gantika menunggu serangan dari Mahapatih Hardy. saat Mahapatih itu sudah dekat dengan cepat Gantika melompat ke udara, dan langsung menghujam dengan tendangan tepat di punggung Mahapatih Hardi.


"krakkk"


bunyi tulang hancur begitu tubuh Mahapatih itu membentur tanah, dan mati.


"Jalu, Jalu tolong aku"


raja Satya berlari ke arah panglima Jalu.


"kemarilah yang mulai" kata Jalu dengan wajah jahatnya.


"bukkk" pukulan panglima Jalu menghantam dada raja Satya, setelah itu dengan mudah panglima Jalu mencengkeram leher raja Satya dan mengakarnya ke udara terus menyandarkan nya di dinding istana.


"apa kau tak mengetahui siapa diriku yang mulia??"


"aku ini panglima terkejam dari benua kegelapan..!!!


"darah adalah kesukaan ku"


"kematian adalah hiburan bagiku" kata panglima Jalu dengan jahatnya.


"apa maksud mu Jalu??"


"lepaskan aku..!!!"


"uhuk uhukkk"


"hahaha"


"brukkk"


tubuh raja Satya dilempar begitu saja bagai tak penting.


Jalu mendekat ke arah raja muda itu dan menendang perut nya.


"akhhhh"


raja Satya menjerit menahan perih di perutnya.


"kau.. kau lebih jahat dari pada aku"

__ADS_1


"hahahaha, kenapa baru sekarang kau menyadarinya??"


"aku bisa saja menguasai istana ini"


"tapi aku ingin kalian menghancurkan nya sendiri"


"dan tugas ku di istana ini telah selesai"


"mati lah"


Jalu langsung memukul dada raja Satya dengan kekuatan penuh sampai dada raja itu hancur dan darahnya muncrat ke wajah panglima Jalu.


"ohh segar nya" panglima Jalu tanpa jijik menjilati darah yang muncrat ke wajahnya.


"sudah Jalu, apa kau masih suka meminum darah??"


"apa tidak ada yang lebih menyenangkan dari pada minum darah" kata panglima Gantika dan itu tak di gubris panglima Jalu.


semua prajurit telah menyerah, dan semua ketakutan dan menundukkan kepalanya.


"bagaimana dengan prajurit yang menyerah??" tanya panglima Gariga.


"hahahaha, kau sudah tahu Gariga"


"untuk apa kau tanyakan"


"baik" panglima Gariga menatap prajurit yang menyerah dengan bengis.


"panglima kami menyuruh untuk membunuh kalian semua"


"tapi aku akan mengampuni orang yang membawa kepala kawan nya kepada ku" kata panglima Gariga dengan suara keras yang di aliri tenaga dalam.


semua prajurit saling pandang dan.


suara jeritan dari belakang begitu mengagetkan dan itu lah awal dari kesuruhan. semua prajurit saling bunuh dan sudah tak memandang lawan atau kawan, semua menjadi musuh.


"hahahaha"


"ayo bunuh, bunuh sebanyak yang kau bisa" kata panglima Gariga membakar semangat dan tersenyum melihat pertempuran prajurit kerajaan kayu Upam. begitu juga para prajurit benua kegelapan, mereka bisa bersantai dan tak perlu susah payah menghabisi prajurit tersisa dari kerajaan kayu upam itu.


dalam satu jam tersisa belasan prajurit kerajaan kayu upam yang tersisa dan di setiap tangan prajurit tergenggam kepala kawan nya dan membawa nya menghadap pada panglima Gariga.


"sekarang kau mengampuni kami kan??" tanya prajurit kayu upam.


"hahaha, seperti nya tidak" jawab panglima Gariga.


"tapi kau bilang tadi kau akan mengampuni setiap prajurit yang membawa kepala kawan kami"


"aku berubah pikiran"


dan panglima Gariga bergerak cepat dan dalam sekelebat belasan prajurit yang tersisa tumbang dengan kepala buntung.


"bodoh, apa kalian pikir aku akan mengampuni kalian"


"ahahahaahaha"


"prajurit, bakar semua mayat mayat itu"


"sebagian lagi cepat menyebar dan bunuh siapa pun yang kalian temui tanpa tersisa" perintah panglima Gariga.


"baik..!!"


prajurit benua kegelapan langsung bergerak dan berbagi tugas, sebagian tinggal di istana dan membakar mayat mayat prajurit kerajaan dan sebagian lagi dengan terpisah mulai membantai penduduk di benua biru.

__ADS_1


jerit kematian mulai terdengar setiap prajurit benua kegelapan memasuki desa desa, mayat mayat bergelimpangan, darah mengalir dari mayat tanpa ada yang mengurus.


karena begitu banyaknya bangkai yang bertebaran membuat para binatang buas keluar dari hutan dan memakan bangkai bangkai dari mayat yang terbunuh. benua biru benar benar telah menjadi lahan pembantai an oleh benua kegelapan.


"hahahaha, satu benua telah kita kuasai dengan mudah"


"kita tinggal menunggu perintah untuk menyerang benua merah"


"aku harap semudah ini" kata panglima Jalu.


"aku pun berharap semudah ini" sambung panglima Gariga.


"cukup, cepat istirahat dan kembalikan kondisi kalian"


"aku ingin setelah dapat perintah dari raja kematian kita langsung menyerang benua merah" kata Gantika.


"apa kau tak bisa santai sedikit pun panglima??"


"diammm"


"aku muak melihat kalian begitu menikmati kemenangan yang tak seberapa ini" kata Gantika dan meninggalkan kedua panglima itu.


"dia tak memiliki seni" gumam panglima Jalu


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


di benua merah.


"yang mulai, sebaiknya kita sebarkan teliksandi kita untuk mengawasi pergerakan para penyerang benua biru"


"firasat ku merasa itu serangan benua kegelapan" kata Mahapatih Segiri kepada raja Bahar yang telah kembali ke takhta nya"


"iya aku setuju dengan Mahapatih" kata Patih Makdum.


"aku juga berpikir begitu Mahapatih"


"kalau begitu perkuat pertahanan"


"dan sebarkan teliksandi kita di seluruh penjuru dan perbatasan dengan benua biru"


"jika benua kegelapan telah menyerang kita sudah memiliki cukup pertahanan"


"baik yang mulia"


"akan aku laksanakan" kata Patih Makdum


"aku harap dia kembali secepatnya dari pulau es"


"hanya dia harapan kita" gumam raja Bahar.


"Panji, segeralah kembali"


"seluruh benua menunggu mu"


******************


author tak meminta banyak ko, hanya like n komen aja


dan kalau bisa tolong donk kasih rate bintang lima.


terima kasih telah mengikuti perjalanan ini"


akhir kata selamat menikmati bacaan yang tak seberapa ini.

__ADS_1


__ADS_2