Perjalanan Menuju Langit

Perjalanan Menuju Langit
eps 171 kata ampun


__ADS_3

"hahahahah, manusia daratan..."


"merasa sok hebat, baik aku terima"


"silahkan kau hajar aku sampai aku meminta ampun" kata maung Badar jumawa.


Maung Badar merasa sangat percaya diri karena selain bertarung di wilayahnya, juga di depan Laras dan ayahnya maung Angke.


"apa kau sudah siap??" tanya maung Badar.


"sejak tadi aku sudah siap" jawab Panji yang sudah berhasil melawan emosinya.


"bersiaplah..." teriak maung Badar dan melesat terbang dengan kecepatan terbaiknya. tinju nya di arahkan ke wajah Panji seperti ingin langsung mengakhiri pertarungan.


"tappp...!!!"


Tinju maung Badar dengan mudah di tahan dengan telapak tangan Panji. hanya satu tangan, dan Panji belum mengerahkan setengah dari tenaga dalam nya.


Panji memainkan tubuhnya dan menghentakkan tenaga ke tangannya, itu sudah cukup membuat maung Badar mundur.


"jangan buru buru, kita banyak waktu untuk bermain main" ledek Panji, Panji sudah mengetahui sampai dimana batas kemampuan maung Badar.


Maung Badar dengan wajah yang merah padam karena malu kembali menyerang dengan kecepatan penuh. tinjuan dan tendangan di arahkan ke anggota tubuh vital Panji.


Panji dengan mudah berputar putar melayang ke udara menghindari semua serangan maung Badar, Panji bersalto di udara dan mendarat di tanah tepat di belakang maung Badar.


Maung Badar berbalik dan kembali menyerang.


"plakkkk...."


Maung Badar tak sadar dan sebuah tamparan sudah mendarat di mulut nya.


"itu tamparan karena kamu sudah berani menghina ibu ku" kata Panji.


Maung Badar kaget, dia tak tahu kapan Panji memberikan tamparan itu, wajah nya mulai pucat dan mulai ragu untuk melawan Panji. maung Badar bahkan ragu untuk meneruskan pertarungan.


"kenapa berhenti??"


"ayo lanjutkan" tantang Panji


"tunjukkan jika kamu itu laki laki" ejek Panji


Maung Badar menelan ludah dan mencoba menguatkan hatinya.


Maung Badar menambah tenaga dalam dengan sisa tenaga dalam yang di miliki nya.


"hiatt...."


Maung Badar kembali menyerang untuk kesekian kalinya. tapi belum sampai serangan nya, wajahnya kembali terkena tamparan keras.


"plakkk...."


kali ini Panji mengeluarkan setengah tenaga dalam nya. belum selesai, Panji memberikan pukulan penutup tepat di mulut maung Badar.


"krekkk..." bunyi gigi gemerutuk yang hancur terdengar.


"bammm..." Panji meneruskan dengan tapak petir ke dada maung Badar.


Pemuda siluman harimau itu terlempar ke belakang. dari sela sela bibir nya keluar cairan kental berwarna merah.

__ADS_1


"kenapa diam??" tanya Panji sinis.


"aku...!!!"


Saat itu lah maung Badar tak merasakan lagi gigi nya. sebagian giginya telah rontok. maung Badar menutup mulut nya dan muntah di tangan nya, dan terlihat di telapak tangan nya beberapa gigi nya yang runcing sudah tanggal dan lepas dari posisinya.


Maung Badar tak meneruskan ucapan nya, wajahnya menjadi takut melihat Panji.


"apa kau akan memohon ampun??" tanya Panji dan mengambil satu ranting pohon dan berjalan mendekati maung Badar.


Maung Badar mundur dengan wajah yang pucat.


"kurang ajar..."


"sering..."


Dari kerumunan terdengar suara makian dan sesosok siluman harimau bersalto dengan pedang di tangan nya.


"kau harus mati..." teriak sosok itu dan menebas pedangnya tepat ke leher Panji.


"Trang....."


pedang lelaki seperti membentur baja keras, lelaki itu yang ternyata ayah maung Badar, maung Angke langsung kaget bukan kepalang.


Bagaimana tak kaget, pedang nya yang sudah di aliri tenaga dalam tinggi di tahan dengan ranting kecil tepat beberapa centi dari leher Panji.


Maung Angke mundur juga dengan wajah pucat.


"kau ingin ikut campur orang tua??" tanya Panji sambil memainkan ranting kecil di tangannya.


Semua yang ada di halaman istana itu sangat kaget, kaget karena Panji menahan pedang maung Angke hanya dengan ranting kecil, bahkan maung Sabda, raja siluman harimau, siluman terkuat di dimensi siluman tak mampu menutupi kekagetan nya.


"dia sudah bukan tandingan manusia atau pun siluman"


Panji berjalan santai dan semakin dekat ke arah maung Badar.


"seperti yang aku katakan, aku tak akan merasa kasihan sampai kau memohon ampun kata Panji dan jongkok di depan maung Badar.


"katakan ampun..." teriak Panji.


"ti...."


"plakkkk...."


Belum selesai ucapan maung Badar tangan Panji sudah lebih dulu di wajah nya.


"akkhhhh...."


Kembali satu gigi maung Badar tanggal dari posisi nya.


"katakan ampun sebelum semua gigi mu hilang" kata Panji dengan ancaman yang menakutkan.


"ti..."


"plakkkk..."


lagi lagi, belum selesai ucapan nya tangan Panji sudah menamparnya, dan seperti sebelum nya gigi maung Badar kembali tanggal dari posisi nya.


"kami mohon ampun, tolong ampuni putra ku"

__ADS_1


Maung Angke berlari dan bersujud di kaki Panji.


"aku tak akan mengampuni sebelum dia yang bicara"


"dia sudah merendahkan ibu ku, apa dia tak memiliki seorang ibu??" tunjuk Panji ke arah maung Badar.


"bammm...."


Panji kembali memberikan tinjuan dan menghantam dada maung Badar, maung Badar terlempar semakin jauh.


"Kaka..." suara Laras tertahan ucapan ayahnya.


"biarkan Laras, memang kadang sikap Panji bisa kita benarkan untuk menghilangkan sikap sombong bangsawan Angke" kata maung Sabda memegang tangan putri nya yang ingin berlari menahan semua perlakuan Panji.


Laras diam dan merenungkan kata kata ayahnya, dan akhirnya Laras memilih tetap berdiri di tempatnya


"bagaimana??"


"sampai kapan kau bertahan??"


"aku bisa saja membunuh mu" kata Panji menakuti maung Badar.


"ammm...pun...." kata maung Badar lirih.


"huhhh, sebaiknya dari tadi kau meminta ampun"


"setelah kau menderita baru kau menyadari kesalahanmu" ejek Panji.


Panji berjalan dan mendekat ke arah maung Sabda dan Laras.


"kakang tak apa apa??" tanya Laras.


Panji menggeleng kepala.


"apa Dinda melihat kakang terluka??"


"kakang sedikit pun tak merasa ada yang kurang dari diri kakang" jawab Panji.


Laras ingin memegang lengan Panji, tapi Panji melarang nya dan berjalan ke depan, berdiri tepat di depan para bangsawan yang sempat menahan langkah nya tadi.


Panji memandang wajah semua bangsawan yang menatapnya dengan tatapan kebencian. Panji mengambil napas panjang.


"APA DIANTARA KALIAN MASIH ADA YANG INGIN MENANTANGKU??"


"APA DIANTARA KALIAN MASIH ADA YANG TAK TERIMA AKU MEMBAWA LARAS??" teriak Panji tepat di depan wajah para bangsawan siluman harimau.


Semua diam dan tak ada yang menyahut.


"AKU MASIH MENUNGGU JIKA ADA YANG INGIN MAJU" kembali Panji berteriak, dan kali ini dia yang menantang.


"AKU MENUNGGU" Teriak Panji dan mulai mengeluarkan tenaga dalam nya.


Panji melayang ke udara dan di sana lah pancaran tenaga luar biasa mulai terasa, pancaran tenaga yang bahkan jauh melebihi tenaga dalam maung Sabda.


Wajah semua orang pucat, dada mereka bergetar karena tenaga dalam luar biasa yang Panji keluarkan. Panji memamerkan tenaga dalam nya hanya sebentar, ya hanya sebentar, setelah itu Panji kembali turun ke tanah.


"dengan diam nya kalian aku rasa kalian setuju jika aku membawa Laras" ucap Panji tersenyum simpul.


"mari Dinda..." ajak Panji dan memegang tangan Laras.

__ADS_1


**************


like n komen ya sahabat.


__ADS_2