Perjalanan Menuju Langit

Perjalanan Menuju Langit
episode 109 pembicaraan biasa


__ADS_3

"kenapa kau begitu kaget anak manusia??"


"apa kau tak tahu cincin di tangan mu itu adalah mahar untuk mu dan itu sudah cukup menjadikan tunangan untuk putri maung Sabda"


"atau kau tak mengetahui kau telah di tunangkan dengan siluman harimau??"


"hahahaha, licik kau maung Sabda"


Maung Jaya tertawa melihat kebingungan Panji.


"lupakan itu, apa tujuan kemari??" tanya maung Angga memastikan


"sepertinya aku tak perlu menjawab nya"


"aku yakin kakek atau paman pasti sudah mengetahuinya" jawab Panji


"tapi karena paman telah bertanya baik aku akan menjawab nya"


"aku ingin mengambil mustika putih" lnjut Panji.


"mustika putih ya??"


"apa sudah seribu tahun??" tanya maung Jaya.


"aku tak tahu kek apa sudah seribu tahun"


"tapi yang pasti raja kematian telah bebas dari segelnya"


"sudah berapa lama dia bebas??"


"sudah hampir tiga tahun" jawab Panji


"sepertinya aku tak bisa lagi menundanya"


"ayo ikuti aku" kata maung Jaya dan berdiri yang di ikuti Panji, mereka memasuki kamar maung Jaya.


"buka jubah harimau mu"


"aku akan mengubah nya menjadi perisai untuk seluruh tubuhmu"


Panji tak menjawab tapi membuka jubah nya harimau yang kasat mata bagi mata biasa.


Maung Jaya meletakkan jubah harimau di sebuah meja, dan tangan bergerak cepat seperti melakukan sesuatu dan tiba tiba jubah harimau bergetar dan berubah menjadi seperti baju besi, baju besi itu mengelilingi Panji dan melesat masuk tiba tiba dan hilang di tubuh Panji.


"bukkkk"


maung Jaya memukul perut Panji dengan cepat bahkan Panji tak sempat bereaksi.


"bagaimana, kau tak merasakan sakit bukan??"


Panji memegang perut nya yang terkena pukulan dan benar dia tak merasakan sakit lagi.


"hehehe, dengan ini kau tak perlu takut lagi menghadapi para beruang itu"


"siapa sih beruang itu kek??"


"aku tak perlu menjawab nya, tapi asal kau tahu mereka sangat memusuhi manusia"


"apa kau memasuki gua wilayah mereka??" tanya maung Jaya


"iya kek, aku memang memasuki sebuah gua begitu sampai di pulau es ini"


"kau terlalu berani"


"asal kau tahu gua itu menyimpan jurus jurus elemen es"

__ADS_1


"itu lah yang mereka jaga"


"jurus elemen es??"


"aku harus mendapatkan nya kek"


"hahaah, bagaimana kau akan menguasai nya sedangkan kau tak memiliki elemen es" kata maung Jaya terkekeh. tapi tertawanya belum lepas aura di ruangan itu berubah menjadi dingin.


"ini..???"


"ini elemen es murni, elemen es bawaan dari bayi"


"bagaimana mungkin anak manusia ini memiliki anugerah yang begitu banyak??" banyak pikiran yang datang ke kepala maung Jaya.


"mungkin kamu bisa mempelajari nya jika kamu mampu memasuki gua itu"


"aku kemari memang selain mengambil mustika putih juga ingin mempelajari jurus elemen es kek"


"aku akan kuat setelah kembali ke benua ku"


"aku tak mau benua ku hancur karena raja kematian" kata Panji dan mengeluarkan hawa dan aura yang begitu kuat.


"kau.. kau..!!"


"berapa elemen yang ada dalam tubuhmu??"


"aku merasakan pancaran elemen dari tubuhmu terlihat berbeda beda" tanya maung Jaya.


"aku sudah menguasai semua elemen kek"


"dan hanya jurus elemen es yang tidak aku miliki" jawab Panji mantap.


"apa.., semua elemen??"


"kau lebih dari kami" kata maung Jaya mundur karena kaget.


"jadi dimana mustika putih berada kek??" tanya Panji


"mustika itu ada di puncak gunung es"


"minta lah kepada manusia yang di sana"


"manusia??"


"apa di sana juga ada manusia kek??" tanya Panji.


"ya, dan kalau bisa kepada mereka lah kau belajar jurus elemen es, tapi jurus terkuat dari elemen es berada di gua beruang, mungkin gua yang kau masuki" jawab maung Jaya.


"baik mari kita keluar" kata maung Jaya mengajak Panji.


"larasss...???"


"kenapa kau di sini??" kata Panji mendekati Welang


Maung Angga menatap Panji dengan wajah berkerut.


"Laras??"


"siapa yang kau panggil Laras??"


"namanya Welang"kata maung Angga tak suka.


"dia.. dia bukan Laras??" tanya Panji tergagap


"iya nama ku Welang" jawab Welang.

__ADS_1


"Welang??"


"hehehe, apa tidak ada lagi nama yang lebih bagus lagi??" kata Panji seperti bicara sendiri.


"apa??"


"apa ku bilang??"


"jadi maksud mu Namaku ga bagus??" Welang sedikit marah dan berniat memukul Panji.


"hahahaha, kau tak berbeda dengan Dinda Laras"


"sama sama pemarah" kata Panji berkelit dari pukulan Welang. bahkan sesekali Panji sedikit mencolek tubuh Welang dan itu semakin menambah amarah Welang.


"heheeh sudah, jangan berantem"


"Welang cukup" kata maung Jaya dan menangkap lengan Welang.


"dia itu kek, mengejek Welang" kata Welang merajuk. dan masih ingin memukul Panji.


maung Angga hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya.


"jadi selanjutnya kemana tujuan mu anak manusia??" tanya maung Angga


"aku akan ke gunung es paman, mengambil mustika putih"


"setelah itu mempelajari jurus elemen es" jawab Panji.


"gunung es, boleh aku ikut??" kata Welang tiba tiba sedikit memelas dengan wajah di buat buat.


"gak lah, kamu nanti menjadi beban di perjalanan ku"


"aku ingin mempercepat perjalanan ku bukan memperlambat" kata Panji menolak dan melangkah keluar.


Welang mengejar nya.


"aku ikut ya, boleh ya"


"kau kan tak mengetahui wilayah ini"


"anggap lah aku penunjuk arah"


"boleh ya" rayu Welang terus kepada Panji.


Panji berpikir.


"sepertinya aku memang butuh dia untuk menunjukkan arah"


"tapi apa tidak jadi masalah nanti dengan manusia di gunung es??" gumam Panji dalam hatinya.


"boleh, tapi tanyakan dulu kepada ayah mu ya" kata Panji memutuskan untuk membawa Welang.


"baik, aku kan menanyakannya" kata Welang dan berlalu.


"besok aku akan menuju gunung es"


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


like dan komen nya ya"


dan kalau bisa rate bintang lima kirimkan lah"


"aku lihat rate nya makin turun"


"terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2