Perjalanan Menuju Langit

Perjalanan Menuju Langit
eps 89 Surawijaya


__ADS_3

Panji yang tergantung terlihat pasrah tapi dia sebenarnya mencari cara untuk lepas dari ikatan akar hidup itu. sementara itu ikatan akar itu perlahan lahan semakin erat dan semakin membuat Panji untuk susah bernapas.


"aku di suruh eyang pariga untuk mengambil mustika hijau"


"raja kegelapan telah bangkit"


Panji berteriak keras dengan sisa sisa tenaganya.


"apaaa???"


suara itu terdengar jelas suara kaget.


brukkkk


tubuh Panji jatuh ke lantai tanpa halangan. akar akar itu terlepas saat teriakan itu terdengar.


seorang lelaki gempal keluar entah dari mana , seperti nya lelaki itu keluar dari ruang hampa. lelaki itu mendekati Panji dan menatap tajam penuh banyak pertanyaan.


"aku tak akan mengampuni mu kalau kau berbohong bocah" kata lelaki itu


"apa benar raja kematian telah lepas dari segelnya??" lanjut lelaki itu.


"benar paman, perkenalkan saya Panji"


"aku tak butuh basa basi, panggil aku gajah Mungkur tapi nama asli ku Surawijaya"


lelaki itu akhirnya memperkenalkan namanya.


"asal kau tahu anak muda, ratusan tahun aku menunggu orang yang akan menjemput mustika hijau"


"aku sudah bosan di tempat ini"


"karena mustika itu mengunci semua tenaga yang aku miliki" kata Surawijaya


"mengunci tenaga dalam paman??"


"tapi bagaimana paman masih bisa mengendalikan akar akar itu??" tanya Panji


"itu hanya berkah kecil sebagai penjagaan diri" jawab Surawijaya tanpa menjelaskan secara rinci.


"jadi dimana aku akan mengambil mustika hijau paman??"


"di dalam gua itu"


"tapi kau harus hati hati" Surawijaya menunjuk sebuah lubang yang cukup besar.


"gua??"


"aku hanya melihat sebuah lubang besar paman" kata Panji polos


"di sana lah mustika hijau berada"


"dan ingat mustika itu di jaga oleh seekor naga yang bernama Pancala"


"berhati hati lah"


"hanya dengan membunuhnya kau akan mendapatkan mustika hijau"


"harus bertarung lagi ya??" kata Panji lemas.


"kenapa??"


"apa kau ragu??"


"bukan ragu paman"


"tapi aku sudah lelah sekali"


"seperti nya aku harus istirahat sebelum bertarung dengan naga itu" kata Panji


"hahahaha"


"kau cukup unik anak muda"


"istirahat lah sementara waktu dan pulihkan tenaga mu"


"aku akan mencari sesuatu untuk di makan"


Surawijaya keluar dan meninggalkan Panji


Panji duduk dan mengambil posisi bersila bersemedi memulihkan tenaganya yang tersedot oleh akar akar hidup suruhan Surawijaya.

__ADS_1


Surawijaya datang membawa makanan berupa tumbuh tumbuhan yang sepertinya Panji kenal tapi samar samar.


"semua yang ada di tangan ku ini hanya ada di pulau ini"


"semua ini bagus untuk meningkatkan tenaga dalam dan kekuatan fisik mu" jelas Surawijaya


"makan lah"


"Panji memakan sebuah jamur tanpa di sangka jamur itu terasa sangat pahit.


Panji berniat memuntahkannya tapi langsung di larang Surawijaya.


"telan dan jangan buang"


"itu akan memperkuat otot otot mu"


Panji tak menjawab tapi berusaha menelan jamur itu.


setelah itu Panji memakan sebiji anggur, tapi lagi lagi rasanya bukan seperti yang Panji sangka.


"itu hati ayam hutan"


"tapi bukan ayam hutan sembarangan"


"itu berguna meningkatkan tenaga dalam mu" jelas Surawijaya.


selanjutnya Panji memakan sebiji buah seperti kedondong. Panji sudah yakin rasa nya akan asam tapi di luar dugaan rasanya manis bahkan lebih manis dari pada gula.


"pelan pelan makan nya, kunyah sampai halus baru telan" kata Surawijaya


tapi belum selesai ucapan Surawijaya jeritan telah keluar dari mulut Panji


aaaarrrrggghhhh


"panasssss...."


Panji merasakan panas yang sangat luar biasa saat buah itu memasuki tenggorokan nya. bahkan Panji sampai guling guling menahan rasa panas itu.


"hehehe, sudah terlanjur nikmati saja lah" Surawijaya melihat kesakitan Panji seperti tontonan menarik.


setelah beberapa saat rasa panas itu berubah menjadi rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


"bagus, tulang mu memang telah mencapai tulang tertinggi di dunia persilatan"


"kau akan merasakan perbedaan nya nanti"


"sekarang minum lah"


Surawijaya menyodorkan secangkir air dari bambu


Panji merasa berat untuk menerima minuman itu.


"ini air biasa, hehehe"


Surawijaya terkekeh melihat keraguan Panji.


"ahhh, segar nya" Panji terlihat begitu bahagia setelah meminum air itu. tapi tiba tiba terjadi lagi perubahan di tubuh Panji. tubuhnya bergetar dan bergejolak.


"huuuaaaakkkkk"


Panji memuntahkan cairan berwarna hitam"


"heheheh, itu air suci"


"air itu akan memurnikan aura gelap dari tubuhmu"


"seandainya kau berniat buruk air suci itu akan menghancurkan tubuhmu dari dalam"


"tapi ternyata niat mu tulus"


"dan aku sekarang meyakininya"


"apa tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan untuk menguji ku selain memberikan makanan ini??" tanya Panji


"mengujiku??"


"dengan bertarung aku pasti kalah"


"jadi hanya ini cara yang bisa aku lakukan"


"menguji dengan otak"

__ADS_1


"hahahaha"


"untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun ini aku sangat bahagia"


wajah Surawijaya terlihat sangat senang melihat wajah cemberut Panji.


Panji diam dan menunggu Surawijaya selesai tertawa.


"apa paman mau mengajariku jurus jurus elemen tanah??" tanya Panji tiba tiba.


Surawijaya menghentikan tawanya dan memandang Panji.


"aku merasa kau tak memiliki elemen tanah anak muda, tapi kenapa kau meminta di ajari jurus elemen tanah??"


"saat ini aku telah memiliki empat elemen"


"hanya elemen tanah yang belum aku miliki"


"dengan elemen tanah aku yakin aku bisa mengatasi raja kematian" jawab Panji


"apaa, empat elemen dalam tubuhmu??"


"bagaimana bisa tubuhmu tidak hancur??" Surawijaya bertanya tak percaya


"dalam tubuhku telah tertanam mustika inti api es sehingga tubuhku memiliki kemampuan untuk menampung semua elemen" terang Panji


"baiklah, aku berjanji akan mengajari mu dan memberikan jurus elemen tanah terkuat, tapi setelah kau mengalahkan naga Pancala"


"kenapa paman??"


"kenapa aku harus mengalahkan naga Pancala terlebih dahulu??"


"pletokkk"


Surawijaya tau tau memukul kepala Panji


"kau pendekar kuat tapi pendekar bodoh, hahahah, pendekar bodoh"


"aku tak bisa mengeluarkan tenaga dalam ku selama naga Pancala belum kau kalahkan"


"tadi aku sudah cerita bukan??"


"ehh, maaf paman aku lupa" kata Panji


"bagaimana kondisi mu??"


"aku merasa sangat segar dan tubuhku seperti terjadi ledakan energi yang sangat luar biasa"


"apa kau sudah siap menghadapi naga Pancala??"


"sebenarnya aku ragu paman"


"sebelum kemari aku menghadapi nagatama dan aku dengan mudah di kalahkan nya" cerita Panji


"asal kau tahu nagatama naga terkuat di alam semesta"


"kalau kau mampu menghadapinya naga Pancala hanya akan jadi mainan bagimu"


"ooooo"Panji membulatkan bibirnya.


"ingat untuk berhati hati"


"bagaimana pun naga Pancala sangat kuat walaupun tak sekuat nagatama.


"baik paman, aku siap"


Panji berdiri dan masuk ke dalam lubang yang di tunjuk Surawijaya.


"aku menunggu mu di sini anak muda"


Panji tak menjawab dan berjalan menyusuri lubang, semakin jauh Panji berjalan lubang itu semakin lebar. dan tiba lah Panji di sebuah ruangan yang cukup luas. Panji melihat mustika hijau terletak di tengah ruangan tapi bukan itu yang buat Panji menganga. seekor naga besar berdiri di atas mustika itu dan menatapnya dengan mata merah menyala.


"apa yang kau cari anak manusia??"


"kematian"??


"kemarilah, aku akan berikan kematian yang paling menyakitkan"


rooaaaarrrrr"


naga itu menyemburkan bola api dari mulut nya.

__ADS_1


"sambutan yang cukup menyenangkan bukan??"


***************


__ADS_2