
Pengawal gedung itu menarik Panji kasar dan memojokkannya di sudut tembok.
"siapa yang menyuruhmu dan apa yang kau cari??"
"aku mencari Ki Jabat, dan aku bukan suruhan siapa pun"
"kau berbohong, jawab jujur"
"aku hanya ingin bertemu dengan Ki Jabat ko susah amat"
"pertemukan aku dengan dia urusan selesai" kata Panji ngotot.
pengawal itu berpandangan.
"baik, aku akan memanggil Ki Jabat, awas kalau kau berbuat macam macam"
salah seorang pengawal masuk ke dalam ruangan dan datang bersama seorang lelaki yang cukup berumur.
"apa yang...???
ucapan lelaki itu langsung terhenti saat melihat golok di punggung Panji, lelaki itu menoleh Ki kiri dan ke kanan.
"kau mencari apa paman??"
aku tak membawa siapa pun, hanya kuda ku yang di luar"
"kuda??"
Ki Jabat keluar dan melihat si kilat.
"masuk lah, kau tamu agung ku"
"guru siapa dia??"
"jangan jangan dia mata mata kerajaan"
"kita binasakan saja guru" kata salah seorang penjaga.
"kalau dia mau dari tadi kalian telah tewas" kata Ki Jabat dingin.
"mari...!!!"
Ki Jabat mengajak Panji masuk dan menghidangkan makanan.
"aku di suruh Ki Rampak menemui paman"
"aku tahu, aku sudah melihat golok guru dalam punggung mu"
"jadi melihat itu aku sudah tahu kau sudah bertemu dengan Ki Rampak.
"maaf paman, kenapa pengawal begitu waspada saat aku menyebut nama mu??"
"aku penasaran"
"aku saat ini buronan kerajaan"
"buronan kerajaan??"
"kenapa paman??"
"aku memimpin pemberontakan terhadap kerajaan"
"kami rakyat kecil tak terima atas keputusan raja yang menaikkan pajak dan mewajibkan militer bagi anak muda kami"
"wajib militer??"
"untuk apa??"
"kerajaan ingin memperluas wilayah, dan ingin menyerang ke benua biru"
"kerajaan tak memikirkan dampak nya"
"rakyat sudah menderita karena pajak yang begitu tinggi"
"belum lagi wajib militer merenggut nyawa anak anak kami"
"jadi kami mengangkat senjata untuk memberontak"
"tapi di sini kan wilayah ibu kota kerajaan"
"bagaimana paman bisa bebas berkeliaran di sini??" tanya Panji
"mereka hanya mengetahui nama tanpa mengenal wajahku"
"bagaimana mungkin??"
"cukup tentang aku"
",apa tujuan mu ke kota ini??"
"aku ingin menerobos istana dan membunuh Mahapatih kerajaan" jawab Panji
"apa??"
"membunuh Mahapatih kerajaan??"
"jangan kau mengada Ngada"
__ADS_1
"kesaktian nya sangat tinggi"
"dialah yang mengusulkan menaikkan pajak demi perang"
"apa aku terlihat bercanda paman??"
"apa masalahmu dengan Mahapatih itu??"
"kami pasti akan membantu mu"
"paman pasti tahu tentang benua kegelapan bukan??"
"iya, kenapa??"
"Mahapatih itu salah satu panglima benua kegelapan"
"aku harus membunuhnya sebelum benua kegelapan benar benar bangkit"
"aku memang tak terlalu mengetahui tentang benua kegelapan"
"tapi dari cerita yang aku dengar benua kegelapan membawa kehancuran bagi seluruh benua"
"kapan kau akan menyusup ke kerajaan??"
mungkin besok atau lusa paman"
"aku harus memulihkan tenaga dalam ku terlebih dahulu"
"kau memang sepertinya sangat kelelahan"
"kau dari mana??"tanya Ki Jabat
"aku baru dari benua hitam"
"benua hitam??"
"pengacau dari benua hitam"
Ki Jabat hampir tak mampu berkata apa lagi melihat ciri ciri Panji membuat dia langsung mengingat cerita yang saat ini menjadi buah bibir.
"ahhh, cerita itu sudah sampai di sini rupanya" kata Panji tersenyum lebar.
"kalau dengan bantuan mu mungkin kami bisa mengalahkan prajurit kerajaan" kata Ki Jabat.
"aku hanya ingin membinasakan panglima benua kegelapan itu"
"setelah itu semua nya urusan kalian"
"ini negara kalian, jadi itu harus kalian urus sendiri"
"istirahat lah"
"terima kasih Ki" jawab Panji dan memasuki kamar.
"auranya lebih kuat dari pada guru"
"sejauh mana kemampuan anak muda ini??"
"aku tak mampu menaksir tingkat kependekaran nya"
"tapi yang pasti dia berada di atas ku"
"masih muda tapi kemampuan nya sangat tinggi"
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
di benua putih.
"hahahaha, aku telah berhasil membangkitkan kekuatan dewa sesat dalam tubuhku"
"dan telah menyegel tubuhnya dalam diri ku"
"dengan ini kekuatan ku akan berlipat ganda dan tak akan ada satu pun yang akan berani membunuhku"
"kalau mereka membunuhku itu sama saja dengan membangkitkan monster dalam diri ku"
"tak lama lagi aku akan menguasai seluruh benua"
"yang mulia"
"Gantika, kau terlalu lama??"
"apa yang membuat mu begitu lama??"
kata raja kematian Habiyang dengan suara serak menakutkan.
Gantika menatap raja kematian.
"tak mungkinnn...!!
Gantika sampai mundur ke belakang.
"kau merasakan nya Gantika??"
"ya, dewa sesat telah aku segel dalam diri ku dan kekuatan nya akan aku gunakan untuk menguasai seluruh benua"
Gantika tak menyangka raja kematian telah kembali berhasil memiliki tenaga dari dewa sesat.
__ADS_1
"yang mulia akan semakin menakutkan"
"aku harus berhati hati"
"kenapa Gantika??"
"apa kau tak merasa senang dengan pencapaian ku??"
"aku sangat senang yang mulia"
"dengan kekuatan itu aku semakin yakin kita akan menguasai seluruh benua"
"bagus, katakan laporan mu"
Gantika dengan hati hati menceritakan semua yang terjadi.
"hhmmm, seperti nya panglima Jalu akan mendapatkan kerajaan kayu upam"
"bagus, terus apa lagi??"
"hamba juga telah menyuruh panglima Sepanu untuk menyerang benua biru"
"dan tak lama lagi kekacauan akan segera terjadi"
"tapi maaf yang mulia"
"maff..???
"kenapa??"
saat perang antara kerajaan Bintang kejora dan kerajaan Merak aku dan panglima Sepanu terpaksa mengorbankan panglima Demar"
"mengorbankan??"
"iya yang mulia"
panglima Gantika kembali menceritakan akan kenapa harus mengorbankan panglima Demar.
"dimana panglima yang lain yang mulia??"
"panglima Darius telah tewas"
"dan aku rasa panglima Saptika juga telah tewas"
"bagaimana bisa yang mulia??" kata Gantika kaget.
"sepertinya anak muda itu semakin kuat Gantika"
"tugasmu sekarang bunuh anak muda itu"
"jangan kembali sebelum dia mati di mati di tangan mu"
"atau aku sendiri yang akan mencabut nyawa mu"
panglima Gantika menelan ludah nya.
"anak muda itu tak bisa di remehkan"
"pertarungan terakhir kami berakhir dengan luka dalam yang aku alami"
"bagaimana sekarang kemampuan nya??"
Gantika teringat akan pertarungan nya dengan Panji.
"dan kalau ada waktu cari panglima Demar"
"ajak dia kembali mengabdi pada benua kegelapan"
"tapi panglima Demar telah tewas yang mulia"
"itulah kebodohan Sepanu, dia menganggap remeh kemampuan orang"
"aku merasa panglima Demar belum tewas"
"tapi dia telah terlepas dari segel kegelapan"
"kalau dia tak mau bekerja sama bunuh dia"
"aku tak mau dia jadi batu sandungan kita"
"baik yang mulia"
Gantika meninggalkan ruangan raja kematian dengan pikiran yang cukup banyak.
"panglima Darius hanya sedikit di bawah ku, mungkin kami seri kalau bertarung"
"tapi anak muda itu berhasil membunuhnya"
"bagaimana ini??"
"sepertinya tugas ini akan berat"
"sebaiknya terlebih dahulu aku mencari panglima Demar dan bersama sama membunuh pemuda itu" gumam Gantika.
"Demar tunggu aku menjemputmu"
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1