
Suara auman harimau menandakan bahwa hari telah berganti di dimensi siluman harimau.
Panji yang dari tadi bangun membuka matanya yang sedang bersemedi, Panji menyerap sedikit kekuatan alam yang berada di dimensi siluman harimau.
"tenaga di dimensi ini sangat berbeda dengan tenaga di benua, di sini aura nya berbeda" gumam Panji.
"kakang udah bangun??" terdengar suara pelan dari luar pintu kamar Panji.
Panji tak menjawab tapi membuka pintu kamar nya.
"Dinda??"
"kenapa??" tanya Panji setelah Panji membuka pintu nya.
"tak ada kakang, hanya saja Laras ingin bicara berdua dengan kakang"
"kemari lah" ajak Panji melangkah ke luar. Laras mengikuti di samping Panji.
"aku tahu Dinda pasti ingin bicara soal yang kemarin"
"aku tak akan memaksa Dinda, seperti yang aku katakan, semua tergantung kepada Dinda"
"iya kakang, Dinda memang ingin bicara soal itu"
"awalnya Dinda ragu, tapi setelah Dinda melihat kebelakang dan bagaimana Dinda menunggu kakang, Dinda sekarang yakin untuk ikut dengan kakang"
"meskipun waktu kita hanya sebentar, itu sudah cukup untuk Dinda" jawab Laras pasti.
"baik kalau begitu Dinda, nanti kita akan pergi setelah meminta restu kepada ayahanda mu"
"yang pasti nya kita akan masih harus kembali kemari, kanda akan memperkenalkan mu dengan rakyat kanda" kata Panji.
"semuanya terserah pada kakang, Dinda ikut apa saja, kemana pun Dinda ikut" jawab Laras malu.
Setelah membersihkan tubuhnya Panji dan Laras menemui maung Sabda di ruangan nya.
"kalian berdua masuk lah, aku tahu kalian akan kemari, aku sudah menunggu dari tadi" kata maung Sabda dari dalam.
Panji bersama dengan Laras berjalan sangat pelan, berjalan seperti menghadap seseorang yang di tuakan, iya pastilah maung Sabda akan jadi mertua Panji.
"Bagaimana keputusan mu putriku??" tanya maung Sabda pada Laras putri nya.
"ayahanda..."
Laras berjalan ke depan maung Sabda, Laras memeluk erat tubuh kekar raja siluman harimau itu.
"Laras akan mengikuti kakang Panji, keputusan Laras sudah bulat" jawab Laras dengan suara yang parau menahan air mata.
Maung Sabda dengan kasih sayang mengelus rambut panjang putrinya, kesedihan terlihat jelas di wajahnya.
"ayahanda paham putri ku"
"ayahanda tak akan menghalangi niatmu, jika itu membuatmu bahagia ayah rela, kebahagian mu kebahagian ayahanda juga" kata maung Sabda yang juga menahan air matanya.
__ADS_1
"ayahanda..." air mata Laras jatuh tak tertahan.
"Panji, jaga putri ku, dia tak mengetahui apa pun, tolong bimbing dia jadi istri yang baik untuk mu" punya maung Sabda.
Panji hanya mengangguk tak menjawab.
"Panji, setelah kalian meresmikan pernikahan kalian, kalian harus kemari untuk mengikuti adat dari siluman harimau"
"aku harap kau tak melupakan siapa Laras" kembali maung Sabda bicara.
"pasti paman, setelah semua selesai di benua aku akan membawa Laras kemari" jawab Panji tegas
"seperti nya kalian sudah mau berangkat ya??"
"aku akan mengantar kalian" kata maung Sabda berdiri dari tempat duduknya.
Saat Panji Laras dan maung Sabda bicara, di halaman istana telah menunggu bangsawan Angke, mereka menunggu saat yang tepat untuk menantang Panji.
Di antara bangsawan itu ada maung Badar yang sudah dari tadi siap untuk bertarung melawan Panji. keyakinan sangat besar, apalagi dia salah satu pemuda terbaik dari bangsa siluman harimau, itu menambah keyakinan dan kepercayaan dirinya.
Maung Sabda Laras dan Panji keluar dan mulai berjalan, Laras tak membawa banyak barang, karena itu tak di butuhkan nya di dunia Panji.
Panji heran melihat halaman istana di penuhi oleh orang orang yang jelas bukan prajurit istana.
"ada apa ini??"
"apa mereka semua akan mengantar aku dan Laras??" gumam Panji dalam hati nya.
Rasa keheranan yang sama juga di rasakan oleh maung Sabda dan maung Laras, mereka tak menyangka jika para bangsawan akan menunggu mereka di halaman istana.
"ayahanda juga tak mengetahui nya putri ku, sebaiknya kita temui saja mereka"
"mungkin mereka ingin ikut mengantar mu keluar dari kerajaan ini" jawab maung Sabda.
Ketiganya berjalan dan sampai di hadapan bangsawan siluman harimau, bangsawan Angke.
"salam yang mulia, kami kemari sengaja untuk mengantar tuan putri keluar dari wilayah kita ini" kata maung Angke berbasa basi.
"sungguh tak ku sangka jika kalian akan ikut mengantarkan putri ku"
"mari kita antar bersama sama" ajak maung Sabda.
Maung Sabda ingin berjalan, tapi maung Angke tak memberikan jalan.
"ada apa ini??" tanya maung Sabda heran, dia merasa tak di hargai sebagai raja siluman harimau.
"maaf yang mulia, kami tak begitu saja menerima kepergian Laras"
"jadi mau kalian apa??" tanya maung Sabda sudah paham maksud dari maung Angke.
Seorang pemuda bersalto dari tengah tengah gerombolan bangsawan Angke, dan itu sudah cukup menjawab pertanyaan dari maung Sabda.
"hey orang asing, aku menantang mu untuk berduel" kata pemuda kekar yang ternyata maung Badar menunjuk kepada Panji. maung Badar menantang Panji.
__ADS_1
"apa maksudnya ini paman??" tanya Panji pada maung Sabda meminta penjelasan.
"ini salah satu kebiasaan dari kami Panji, kebiasaan dari bangsa siluman harimau"
"kebiasaan kalian??"
"aku tak paham??" tanya Panji.
"jika seorang gadis menolak lamaran dari seorang pemuda maka pemuda itu boleh menantang calon suami dari perempuan itu"
"dan pemuda yang menantang mu itu bernama Badar, dia pernah melamar Laras, tapi lamarannya di tolak oleh Laras" kata maung Sabda menjelaskan.
"aku tak ingin bertarung" kata Panji cukup keras.
"itu harus dan wajib kau ladeni" kata maung Sabda.
"itu kan kebiasaan kalian paman, aku tak ikut dengan kebiasaan buruk seperti itu" tolak Panji.
"hahahah, kenapa??"
"apa kau tak berani meladeni tantangan ku anak manusia??"
"aku tahu, kau takut malu bukan??" Maung Badar mengejek Panji.
"bukan, aku hanya tak ingin bertarung"
"hanya karena itu saja ko" jawab Panji.
"sungguh mengecewakan, kau membuat ku kecewa anak manusia"
"jika kau tak ingin bertarung, sebaiknya kau kembali menyusu pada ibu mu" kata maung Badar semakin mengejek Panji.
"hahahahahah...."
Suara tawa dari para rombongan bangsawan sangat menjatuhkan harga diri Panji.
Mendengar perkataan dan ejekan dari maung Badar emosi Panji langsung naik sampai ke ubun ubun nya. belum pernah Panji di ejek se kasar itu, bahkan sampai membawa bawa nama ibunya.
Dalam amarah Panji berjalan ke arah maung Badar.
"aku pastikan hari ini semua gigi yang kau miliki akan terlepas, aku pastikan kau akan memohon ampun kepada ku"
"asal kau tahu, kau boleh menghina ku"
"tapi jangan menghina ibu ku"
setelah berkata itu aura di dimensi siluman langsung berubah menjadi panas bergantian dengan dingin.
"bersiap lah, sebelum kau memohon ampun aku tak akan berhenti"
Panji menerima tantangan maung Badar.
**************
__ADS_1
Like n komen ya sahabat.