
Blaaaarrrr"
benturan itu menggetarkan dinding gua dan debu debu beterbangan, saat debu itu menghilang dua tubuh terbaring lemas. naga Pancala dan Panji benar benar telah kehabisan tenaga dalamnya.
Panji berdiri dengan susah payah, begitu juga dengan naga Pancala
"aku akan mengambil mustika itu dan meninggalkan tempat ini"
"jangan lagi halangi aku" kata Panji menatap naga Pancala dengan napas tersengal-sengal.
"tidak akan semudah itu"
"kau harus melewati aku" naga Pancala tetap tak mengalah
"baik, kita lanjutkan pertarungan kita"
"aku tahu kau sudah tak memiliki tenaga dalam, begitu juga dengan aku" Panji mengaku
"hiaaattt..."
bukkkk"
bakkk"
kedua kembali bertarung, tapi kali ini tanpa Tenga dalam, mereka bertarung murni dengan kekuatan fisik.
bukkk"
tinju naga Pancala mengenai wajah Panji, dan itu membuat naga Pancala tersenyum lebar.
"kau tak memiliki pengalaman bertarung sebanyak yang aku miliki"
"menyerah lah"
"bugghhkk"
belum selesai ucapan naga Pancala tendangan Panji menghantam perutnya.
ukkkhhhh"
naga Pancala merasakan perutnya seperti di aduk aduk Karen tendangan itu.
"kau memang berpengalaman"
"dan kau juga banyak bicara" ejek Panji.
setelah sekian lama bertarung tanpa pemenang.
hiaaattttt"
keduanya sama sama maju.
bamm"
kedua nya sama sama mengayunkan pukulan terkuatnya,
bukkkk"
dan Panji dan naga Pancala kembali tersungkur jatuh ke tanah.
"haahhh haahhh haaahhhh"
napas Panji benar benar menandakan rasa leleh yang sangat dalam.
"apa hanya sampai di sini???"
"tidak, aku tak akan menyerah"
Panji merangkak menuju mustika hijau berada, tapi lagi lagi naga Pancala menghalanginya.
"jangan ke sana, kau sudah tak memiliki tenaga dalam"
Panji tak paham maksud dari kata kata naga Pancala dan terus merangkak.
naga Pancala mengumpulkan sisa tenaga nya dan menangkap kaki Panji.
"lepaskan"
"aku harus mengambil mustika itu"
"tidak akan semudah itu" naga Pancala menjawab merintih.
"bukkkk"
Panji mendorong kan kaki nya dan melepaskan pegangan dari tangan naga Pancala.
Panji kembali merangkak, seinci demi se inci, sejengkal demi sejengkal, dan saat Panji telah dekat dengan mustika hijau Panji menatap naga Pancala dengan tatapan kemenangan. tapi di luar dugaan respon naga Pancala sebuah senyum yang mencurigakan.
tangan Panji meraih mustika hijau tapi.
blaaarrrr
__ADS_1
akkkkhhhhh"
Panji terdorong terbuang cukup jauh dan jatuh, Panji berusaha untuk tidak pingsan dan menatap naga Pancala"
"apaa maksud semua ini naga Pancala??" tanya Panji sedikit merintih menahan sakit di sekujur tubuh nya.
"apa kau pikir aku tidak membuat penghalang??"
"aku ini tidak bodoh, tapi aku tak menyangka kau sekuat itu??"
"semangat mu aku akui luar biasa"
"Surawijaya"
naga Pancala berteriak keras memanggil Surawijaya"
tak berapa lama Surawijaya masuk ke gua dan melihat dua manusia terbaring lemah.
"kalian lagi tiduran ya??"
"aku ikut ya"
Surawijaya mempermainkan naga Pancala dan ikut berbaring di tanah.
"aku pikir tiduran di sini menyenangkan"
"ternyata sama saja dengan gua depan" kata Surawijaya dan berdiri.
"bantu aku sahabat" kata naga Pancala.
Surawijaya dengan cepat membantu naga Pancala untuk duduk.
"bantu anak muda itu" kata naga Pancala dan dia mulai bersemedi memulihkan tenaga dalam nya.
"tumben kau perhatian kepada orang lain selain aku Pancala" kata Surawijaya dan menolong Panji duduk.
seperti hal nya naga Pancala Panji juga bersemedi memulihkan tenaga dalam nya.
"sebaiknya aku menyiapkan makanan, saat mereka selesai bersemedi mereka pasti kelaparan"
Surawijaya keluar dan mencari makanan untuk makan malam.
"bagaimana kondisi mu anak muda??" tanya naga Pancala sambil menikmati makanan nya.
"kondisi ku sudah baikan eyang"
dan siap untuk bertarung" kata Panji berseloroh.
"aku mengaku kalah"
"apaa??"
"kau di kalahkan bocah Pancala??"
kata Surawijaya dengan mata terbelalak
"apa mata mu itu sudah rabun??"
"tak melihat bagaimana babak belurnya aku di pukuli nya??"
"tapi aku heran, bagaimana bisa kalian berdua kehabisan tenaga dalam??"
"dan juga wajah kalian sampai memar begitu??" tanya Surawijaya
"kami bertarung sampai tenaga dalam kami habis"
"aku pikir anak muda itu akan menyerah setelah kehabisan tenaga dalam"
"tapi di luar dugaan dia malah mengajak bertarung dengan tenaga otot dan fisik"
"apa sekarang kau paham??"
Surawijaya menatap Panji dan tersenyum.
"apa kau merasakan efek dari buah yang kau makan itu Panji??"
"aku sangat merasakannya paman"
"terimakasih"
"Panji, bawalah mustika itu dan pergunakan untuk kedamaian"
"aku sudah melihat bagaimana keteguhan hatimu" kata naga Pancala"
"dan pergilah dari sini secepatnya, sebelum aku berubah pikiran" lanjut naga Pancala.
"aku belum akan pergi dari sini eyang"
"aku masih menagih janji eyang Surawijaya" kata Panji
"janji??"
__ADS_1
"janji apa??"
"apa yang kau janji kan kepada anak muda ini kakek peot??" tanya naga Pancala
"heheheh, aku berjanji akan mengajarkan dia jurus elemen tanah terkuat kalau dia bisa mengalahkan mu"
"aku pikir kau tak mungkin di kalahkan nya"
"tapi sudah lah, aku pasti akan menepati janji ku" kata Surawijaya.
"tunggu dulu??"
"kau akan mengajarkan nya jurus elemen tanah??"
"tapi pemuda itu tak memiliki unsur elemen tanah"
"bagaimana bisa??" tanya naga Pancala.
"aku akan menyerap sebagian energi dari mustika hijau eyang"
"dan aku akan memiliki elemen tanah setelah menyerap energinya eyang" jelas Panji
"jadi karena itu kau memiliki empat elemen dalam tubuhmu??"
"sudah berapa mustika yang kau temukan??" tanya naga Pancala
"baru dua eyang"
"mustika kuning dan mustika biru"
"jadi bagaimana bisa kau memiliki empat elemen kalau baru dua elemen yang kau serap??" tanya naga Pancala heran.
"aku terlahir dengan dua elemen eyang"
"elemen api dan elemen es"
"tapi kenapa kau tak menggunakan elemen es di pertarungan tadi??"
"aku belum memiliki jurus elemen es eyang"
"jurus tarian naga hanya di pergunakan untuk jurus yang menyerang"
"jadi aku menggunakan elemen petir dan elemen api di jurus tarian naga" terang Panji
"setelah kau memiliki elemen tanah kau akan menjadi manusia terkuat Panji"
"raja kematian mungkin bukan lawan mu lagi"
"tapi tetap ingat"
"hati hati melawan nya, golongan hitam penuh dengan tipu muslihat" kata Surawijaya
"iya eyang, akan Panji ingat"
"satu lagi, kau sudah di benua hitam"
"sebelum kembali hancurkan kelompok tengkorak hitam"
"kelompok itu akan semakin besar dan pengaruh nya akan mempersulit langkah mu di kemudian hari"
"hati hati dengan pemimpin nya"
"dia salah satu panglima benua kegelapan" terang Surawijaya
"darimana eyang tahu??" tanya Panji heran
"heheheh, kau pikir aku bisa tahan dalam gua ini saja??"
"hanya dia yang tahan" tunjuk Surawijaya pada naga Pancala.
"lagian dia itu paling suka daging kambing"
"jadi aku harus keluar dari pulau ini untuk memenuhi hasratnya"
"hehehehe"
naga Pancala hanya terkekeh mendengar ucapan Surawijaya.
"setelah kau menghabisi pemimpin tengkorak hitam, pergilah ke benua kuning dan bunuh Mahapatih baru nya"
"Mahapatih baru kerajaan Bintang kejora juga panglima benua kegelapan"
"itu salah satu cara untuk melemahkan kekuatan mereka"
"baik eyang, kau mengerti.
"istirahatlah"
"besok kau akan berlatih" janji Surawijaya.
*******
__ADS_1