
Dua gadis yang mencintai Panji berjalan dan mencoba untuk saling mengenal.
"apa maksudmu dengan kakang Panji di kutuk??" tanya Pitaloka.
Laras menceritakan semua yang di ceritakan Panji padanya, tanpa mengurangi dan juga tak menambahi.
"jadi setelah menikah kita hanya memiliki waktu sebentar dengan Panji??" tanya Pitaloka.
"iya, begitu lah, tapi aku walaupun hanya sebentar aku akan menemani kakang Panji"
"aku tak tahu dengan diri mu"
"aku juga akan menemani kakang Panji, meskipun hanya sebentar, bagi ku itu sudah sangat cukup"
"aku yakin kakang Panji akan kembali"
"aku percaya kakang Panji akan melewati semua itu"
"aku akan memiliki anak dari nya yang akan meneruskan kerajaan nya" kata Pitaloka.
"aku juga harus memiliki anak dari kakang Panji, untuk meneruskan kerajaan ayahku di dimensi siluman"
"jadi meskipun kita memliki anak dari kakang, tak terjadi perebutan kekuasan" kata Laras.
"tapi kenapa ya harus terjadi pada kita??" ucap Pitaloka yang masih tak terima dengan semua nya.
"sudahlah, sebaiknya kita terima saja, aku sudah mencoba untuk ikhlas"
"kau juga harus"
Pembicaraan keduanya, yang merasa mengalami nasib yang sama membuat keduanya mencoba untuk akrab, meskipun mereka akan bersaing tapi mereka tak ingin menjatuhkan satu sama lain, kedua nya sama sama ingin Panji nyaman di dekat mereka.
*********************
Tiga hari berlalu begitu cepat, Pitaloka sudah mulai menerima semua yang akan Panji hadapi di hari yang akan datang, meskipun berat tapi Pitaloka menerima untuk mencoba ikhlas.
Panji datang dan menghampiri Laras dan Pitaloka, mereka bertiga selalu bersama, Panji tak mau salah satu dari calon istrinya cemburu jika dia memberikan perhatian lebih.
"apa kalian sudah makan??" tanya Panji.
"kalau belum mari makan" ajak Panji
Keduanya seperti anak kecil berlari ke arah Panji. Laras dan Pitaloka memegang tangan Panji kiri dan kanan.
Ke tiga nya duduk dan siap untuk makan.
"kakang kenapa gak makan??" tanya Pitaloka
"hhhmmm, bagaimana aku akan makan kalian berdua memegang kedua tangan ku" jawab Panji
__ADS_1
Laras dan Pitaloka langsung melepaskan tangan Panji dengan wajah merah merona.
Sementara keluarga kerajaan yang makan hanya tertawa, tak mampu menahan untuk tertawa, sungguh sesuatu yang menurut mereka sangat lucu. raja muda itu jadi bahan ketawaan karena calon istrinya yang ingin selalu di dekat nya.
lima hari berlalu sangat cepat.
Umbul umbul pesta perayaan berdiri tegak di seluruh benua kuning, keramaian sangat terlihat, begitu ramai, para tamu dari kerajaan lain sudah berdatangan. ada apa dengan benua kuning??"
Ya, hari ini pernikahan raja satria dengan Laras dan Pitaloka, memang sungguh mengherankan tapi itu hal yang lumrah, sangat lumrah jika seorang raja memiliki dua orang istri atau lebih.
Tapi yang mengherankan para tamu undangan Panji akan memiliki dua permaisuri. itu sangat jarang terjadi, bahkan tak pernah terjadi.
Di antara tamu undangan itu ada dari kerajaan pelangi, dari pulau pelangi. Delima juga ikut karena merasa penasaran dengan istri Panji.
Saat melihat Pitaloka dan Laras sadar lah dia jika kecantikannya kalah dari dua gadis itu. tapi dia tak tahu jika Panji tak melihat dari segi kecantikan saja, Panji melihat dari ketulusan cinta.
Bunga bunga yang indah semakin indah, seperti ikut mendukung pernikahan itu, suatu pesta yang sudah jarang terjadi karena terlalu sering nya perang di benua.
Panji berjalan di iringi Pitaloka dan Laras kiri dan kanan, wajah mereka begitu serius tapi terlihat sangat bahagia.
Pemuka agama mulai mengucapkan mantra mantra pernikahan, suatu tradisi yang memang sudah biasa, bunga Melati di guyurkan ke tubuh ketiganya, setelah itu mereka di mandikan bunga tujuh kembang.
"kalian sudah resmi jadi suami istri" ucap pemuka agama itu.
Panji tersenyum bahagia, begitu juga dengan Laras dan Pitaloka. keluarga kerajaan dari kerajaan ganda lima juga terlihat sangat puas,.
Panji berdiri dan berjalan menuju kursi pelaminan yang di sediakan untuk mereka bertiga.
"selamat ya kakang untuk pernikahan kakang" ucap delima dengan wajah yang bersedih.
Mata Laras dan Pitaloka menatap delima dengan sorot mata yang tajam.
"siapa dia kakang??"
"apa dia salah satu gadis mu??" bisik Laras setelah Delima menjauh.
Panji memilih diam, karena menurut nya percuma untuk menjawab nya.
Pitaloka juga menatap Panji dengan pertanyaan yang sama.
"berapa banyak lagi korban mu kakang??" bisik Pitaloka dengan wajah cemburu
"nanti kita interogasi Pitaloka" kata Laras.
"awas nanti ya..." Ancam Pitaloka
"hhhhmmmm, perempuan kalau lebih menakutkan dari pada dewa sesat"
"lebih baik aku bertarung dari pada melawan kecemburuan mereka"
__ADS_1
"seperti nya aku terlalu cepat menikah" gumam Panji yang sedikit tertekan karena pertanyaan dari kedua istrinya.
Ketiganya masih terus duduk di kursi pelaminan, bahkan sampai para tamu mengucapkan selamat mereka bertiga masih duduk dengan manis nya.
"kita memiliki dua permaisuri, apa raja kita akan mampu bersikap adil ya??"
Kembali penduduk membicarakan raja mereka. raja memiliki banyak selir itu hal biasa, tapi dua permaisuri??"
Malam menjelang, para tamu mulai di suguhi dengan hiburan kesenian, juga makan yang memang di masak oleh koki istana, masakan yang memang memberikan kenikmatan di lidah.
"Silahkan yang mulia istirahat" kata para pengawal karena melihat Panji sudah merasa kelelahan.
"apa semua acara sudah selesai??" tanya Panji
"sudah yang mulia, sekarang tinggal acara hiburan"
"Sebentar lagi, aku masih ingin menyaksikan acara hiburan ini, sangat jarang bukan" tolak Panji.
"sudahlah kanda, sebaiknya kita istirahat" kata Laras yang seperti capek.
"iya kanda, ayo kita istirahat" Pitaloka mendukung Laras.
Panji yang memang sedikit polos percaya pada kedua istrinya.
"baik, mari kita istirahat" kata Panji dan berdiri dari tempat duduk nya.
Panji berjalan duluan, dan di belakang nya berjalan Laras dan Pitaloka. ketiga nya berjalan sangat pelan.
"apa kanda capek??" tanya Pitaloka membuka baju Panji setelah mereka sampai kamar pengantin.
"iya pasti capek lah Dinda, apa kalian tak capek??" tanya Panji.
"heheheh...."
Laras mengerlingkan mata nya ke arah Pitaloka.
"hey apa maksud nya itu??" kata Panji lirih. tapi itu sudah tak terdengar lagi, dua gadis yang sudah jadi istrinya langsung menerkamnya bagaikan serigala kelaparan.
"hey, aku..."
Panji tak sempat lagi untuk bicara karena sesuatu yang lembut telah menutup ucapannya.
Saat malam makin larut tiga tubuh tanpa busana bertempur malam itu, bertempur dengan keringat yang membanjiri kamar pengantin mereka.
"kalian pasti tahu bukan apa yang mereka lakukan??"
"hehehe, author gak mungkin menuliskan nya, karena author gak ingin menulis cerita yang porno"
**********************
__ADS_1
Like n komen ya sahabat.