Perjalanan Menuju Langit

Perjalanan Menuju Langit
episode 118 perang sudah di depan mata


__ADS_3

Benua kuning, lima hari yang lalu.


rombongan pengungsi bagaikan lautan memasuki wilayah benua kuning. semua itu rombongan dari benua merah dan sebagian dari benua biru.


para penduduk yang mengetahui dan telah menerima perintah menyambut hangat para pengungsi, kamp kamp untuk para pengungsi dan bahan makanan telah di siapkan.


"prajurit kerajaan merak, segera bergabung dengan prajurit bintang kejora" perintah Mahapatih Seroja.


bersama dengan Mahapatih Demar kedua Mahapatih itu bahu membahu untuk menahan serangan dari benua kegelapan.


"ayo cepat gali...!!!" kata Patih Makdum memberi semangat kepada prajurit dan masyarakat yang membantu membangun pertahanan.


di sekeliling bukit seribu telah di gali parit luas dan juga dalam, sebagai pertahanan memperlambat gerakan benua kegelapan. dari sebelah barat juga telah di bangun pagar tinggi dari kayu besar.


sementara itu di perbatasan dengan benua hitam, ribuan prajurit telah bersiap jika serangan datang dari arah itu, berbagai jebakan juga telah di siap kan mengantisipasi setiap serangan benua kegelapan. setiap tempat yang rawan dari serangan telah di letakkan teliksandi yang bertugas me mata matai setiap pergerakan yang mencurigakan.


"bagaimana Mahapatih??"


"apa pertahanan kita telah siap??" tanya raja Bahar kepada Mahapatih Seroja.


"kami berdua telah bekerja sama, aku yakin benua kegelapan tak akan semudah itu menembus semua pertahanan kita" jawab Mahapatih Seroja.


"dimana raja Satria??"


"dari aku sampai aku belum bertemu dengan dia??"


"apa dia tak tahu keadaan sudah membahayakan??" kata raja Bahar cemas.


"aku telah mengirimkan utusan untuk mencari keberadaan yang mulia"


"tapi sampai sekarang mereka belum kembali"


"anak muda itu, hanya dia harapan kita menghadapi raja kematian" gumam raja Bahar.


"Mahapatih, Mahapatih...!!"


"di perbatasan terlihat hal yang mencurigakan"


"seperti nya para kelompok hitam mulai mendekat" lapor seorang prajurit.


"wasapada, kalau semakin mencurigakan tembakkan panah sebagai peringatan" perintah Mahapatih Demar.


"titik rawan ada tiga tempat, sebaiknya kita membagi tugas" kata Mahapatih Demar.


"iya betul Mahapatih, bagaimana pembagian nya??" tanya Patih Jabat.


"Patih Jabat dan Patih Makdum menjaga dan memimpin pasukan di wilayah barat"


"aku akan memimpin pasukan di perbatasan dan aku yakin yang menyerang dari perbatasan pasti golongan hitam dari benua hitam"


"sementara Mahapatih Seroja akan memimpin pasukan di bukit seribu"


"bagaimana menurut kalian??" tanya Mahapatih Demar.


"aku setuju, dan tak ada lagi waktu membahasnya"


"waktu kita kepepet"


"bawa beberapa panglima dan sebagian lagi menjaga yang mulia" kata Mahapatih Seroja


"baik aku duluan"


"kalian ikut aku" tunjuk Mahapatih Demar kepada beberapa panglima.


"yang lain ikut Mahapatih Seroja dan Patih" lanjut Mahapatih Seroja dan melesat menuju perbatasan.


"aku juga akan ke bukit seribu" Mahapatih Seroja juga melesat di ikuti beberapa panglima.


"kita juga berangkat" ajak Patih Makdum kepada Patih Jabat"


tanpa menjawab Patih Jabat melompat dan melesat di ikuti Patih Makdum, beberapa panglima juga mengikuti.

__ADS_1


di perbatasan.


"akhirnya Mahapatih datang" panglima Dirga langsung menyambut Mahapatih nya.


"bagaimana perkembangan nya Dirga??"


"aku dan prajurit telah bersiaga Mahapatih"


"


sepertinya mereka ingin mencoba kewaspadaan kita saja"


"iya, tetap waspada"


"jangan lengah"


"pasukan pemanah"


"pasang busurmu dan lepaskan jika ada yang mencoba masuk wilayah kita" perintah Mahapatih Demar.


"baik Mahapatih" jawab para panah dan melaksanakan perintah Mahapatih nya.


di bukit seribu.


"apa kalian melihat pergerakan panglima??" tanya Mahapatih Seroja kepada panglima Odin.


"saat ini belum ada yang berarti Mahapatih, hanya saja kita memang telah di mata matai"


"baik, tetap waspada"


"Mahapatih...!!!"


"sebelah barat telah di serang" lapor seorang prajurit.


"apa??"


"panglima Jambe, cepat bawa sebagian pasukan bantu Patih makdum." perintah Mahapatih Seroja.


sebelah barat.


"pemanah, lepaskan panahmu" perintah Patih Makdum.


"blessss"


hujan panah menghujani prajurit dari benua kegelapan. tapi di luar dugaan, panah panah mental saat mengenai prajurit kegelapan itu.


"bagaimana mungkin??" Patih Jabat kaget.


"prajurit bawa kemari busur mu" kata Patih Jabat.


Patih Jabat menarik busur dan mengalirkan tenaga dalam ke anak panahnya.


"blessss"


"akkkhhhhh"


seorang prajurit benua kegelapan langsung tewas saat busur itu menembus lehernya.


"ternyata mereka hanya akan tewas jika panah nya di aliri tenaga dalam"


"bagaimana ini Patih??" tanya Patih Jabat kepada Patih Makdum.


"seperti nya kita hanya menunggu saja"


"kalau memang mereka mampu menembus dinding itu kita serang langsung" kata Patih Makdum memberi ide.


"itu buruk"


"bisa bisa prajurit kita akan terpukul mundur"


"gunakan panah api" kata panglima Jambe begitu sampai.

__ADS_1


"tapi resiko nya api bisa membakar tembok yang kita bangun" kata Patih Makdum.


"tak ada waktu nya berpikir"


"pemanah siapkan panah api"


"bawa obor kemari" perintah Patih Jabat.


dalam waktu singkat perintah itu di laksanakan.


"lepaskan panahmu" perintah Patih Makdum.


"blarrrr"


panah api melesat dan mulai membakar prajurit benua kegelapan.


"akhhhhh, panas panas...!!!!"


jeritab kepanasan membahana itu cukup menahan prajurit benua kegelapan.


"mundur....!!"


"sudah cukup...!!!"


suara bergema terdengar dan seperti kode, semua prajurit benua kegelapan langsung mundur dari pertempuran.


"Seperti nya serangan itu hanya mencoba kekuatan kita Patih" kata panglima Jambe.


"iya panglima"


"kembali lah ke bukit seribu"


"di sana wilayah paling rawan" perintah Patih Makdum.


"baik"


"mari prajurit"


sekitar sekilo meter dari bukit seribu.


"bagaimana??"


"apa kalian sudah mencoba kekuatan mereka dan kewaspadaan mereka??" raja kematian bertanya.


"sudah yang mulia, aku sudah melihat"


"mereka cukup rawan"


"aku yakin kita akan menguasai benua itu" kata panglima Jalu.


"bagaimana dengan anak muda itu??"


"apa kalian melihat nya??" tanya raja kematian lagi


"belum ada yang mulia"


"hhhhmmmm, kemana bocah itu??" gumam raja kematian.


raja kematian setelah penyerangan benua biru memutuskan memimpin langsung penyerangan ke benua kuning, niat nya untuk membunuh Panji.


"kalian semua, kalau melihat pemuda itu jangan coba menghadapinya"


"dia bagian ku" kata raja Kematian.


"baik yang mulia"


"bocah, kematian mu sudah dekat"


"datang lah"


"dan jemput lah kematian mu"

__ADS_1


**********


like n komen ya


__ADS_2