Perjalanan Menuju Langit

Perjalanan Menuju Langit
episode 112 benua kegelapan mulai bergerak


__ADS_3

Panji terus berdiam diri selama dua hari di kampung Ki bangke.


"kek, aku jalan jalan sebentar ke hutan"


"bosan di rumah ini saja" kata Panji.


"iya, hati hati" kata Ki bangke.


"eh kakek melihat Welang??" tanya Panji lagi.


"kayaknya tadi pergi sama penduduk metik sayuran"


"baik kek, aku jalan jalan ya"


Panji berjalan menyusuri hutan lebat yang di lapisi es bersalju. melihat sebuah tempat nyaman Panji berinisiatif untuk istirahat dan melihat se kelilingnya.


Panji belum duduk tapi suara keras sudah menghentikan nya.


"Hey itu tempat ku"


"cari tempat lain"


suara itu mengagetkan Panji dan menoleh seorang lelaki berusia empat puluh tahunan berjalan ke arah nya.


"maaf paman" kata Panji dan pindah ke samping.


"kau mau kemana anak muda??"


"aku merasa kau bukan penduduk daerah sini??"


"oh, iya paman, aku dari benua daratan"


"benua daratan??"


"apa yang kau cari hingga kau sampai di pulau ini??"


"maaf paman saya Panji, sebelum saya jawab apa boleh saya tahu nama paman??" tanya Panji


"hhmmm," lelaki itu berpikir sejenak.


"aku biasa di panggil Ki Rangkas"


"Rangkas??"


"lagi lagi nama yang cukup aneh, tapi tak se aneh nama Ki bangke"gumam Panji.


"paman pendekar pedang ya??"


"aku lihat paman membawa pedang" tanya Panji


"iya, aku pendekar pedang, dan aku selalu menantang orang yang membawa pedang tapi karena kau tak membawa pedang niat ku mengajak mu bertarung sudah tak ada" kata Ki Rangkas.


"apa paman bersedia mengajari ku jurus pedang??"


"mengajari jurus pedang??"


"hhhmmm


seperti nya aku memang harus memiliki penerus untuk semua jurus ku ini"


"kenapa selama ini aku tak terpikir"


"kalau aku mati siapa yang menjadi penerus jurus pedang ku ini??"


"bodoh nya aku"


"baik aku akan mengajari mu jurus pedang ku" kata Ki Rangkas.


"apakah itu benar paman??" Panji kaget akan sikap Ki Rangkas


"iya, aku tak ingin semua jurus ku hilang kalau aku mati"

__ADS_1


"perhatikan lah"


Ki Rangkas mengambil posisi bersiap.


"jurus ku ini jurus pedang dewa"


"aku yang menciptakan nya, aku harap kau bangga menjadi murid raja pedang dewa" kata Ki Rangkas.


Panji memperhatikan semua gerakan ko Rangkas dan menyimpannya dalam memori ingatan nya tanpa satu gerakan pun tertinggal.


sekarang giliran mu anak muda"


"aku mau lihat sampai dimana kau melihat semua jurus ku"


"baik, Panji bersiap"


"pakai pedang ini" Ki Rangkas melempar pedang nya karena dia tak mengetahui Panji tak memiliki pedang.


"jurus pertama"


pedang ilusi" Panji memainkan jurus pedang pertama dan itu sangat mengagetkan Ki Rangkas.


"dia memahami semua jurus ku hanya dalam sekali lihat"


"ternyata aku tak salah memilih murid"


"dia murid yang sangat berbakat"


Sampai jurus ke sepuluh atau jurus pamungkas barulah Panji berhenti.


"kenapa kau tak meneruskan nya Panji??" tanya Ki Rangkas.


"aku tak mengetahui bagiamana memainkan jurus pedang seribu sayap guru" kata Panji.


"owh begitu ya"


"asal kau tahu, jurus jurus yang baru kau pelajari itu tak terpengaruh elemen"


Ki Rangkas mengulang jurus pedang seribu sayap. pedang nya terbang bagai memiliki mata, dan ikut menemaninya kemana pun dia melangkah.


"jurus ini bisa kau pergunakan dengan menggunakan tiga sampai lima pedang"


"tergantung seberapa banyak tenaga dalam yang kau miliki" jelas Ki Rangkas.


"baik guru, aku paham"


Panji kembali mencoba dan kali ini dengan tenaga dalam yang memang sangat besar pedang itu menari di atas samping dan belakang Panji.


"luar biasa, dengan jurus ini aku semakin yakin untuk membunuh raja kematian" kata Panji dalam hati nya.


"sebagai guru aku mewariskan pedang itu untukmu" kata Ki Rangkas.


"hehehe, maaf guru, bukan nya Panji menolak tapi pedang ini akan hancur jika Panji menggunakan tenaga dalam yang lebih besar ke dalam pedang ini" kata Panji menolak.


"hahahah, ternyata kau mengetahui kualitas pedang"


"apa kau memiliki pedang murid ku??" tanya Ki Rangkas.


"iya guru, murid memiliki pedang"


"tapi saat ini sedang Panji sembunyikan"


"dan seperti nya kalau Panji keluarkan, guru tak akan mengajari Panji jurus berharga tadi"


"hahaha, jurus pedang dewa memang di wariskan untuk mu"


"aku pamit"


Ki Rangkas tiba tiba menghilang dari pandangan Panji.


"ehh,...!!"

__ADS_1


Panji kaget bukan kepalang melihat kepergian Ki Rangkas.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


di benua hitam.


"Gantika, bagaimana luka mu??"


"hamba telah sembuh yang mulia"


"semua berkat yang mulia" kata Gantika gemetaran, bukan takut tapi pancaran tenaga dan aura yang semakin pekat keluar dari tubuh raja kematian.


"bagus..."


"kau panglima tertinggi yang masih hidup"


"kemampuan mu juga ada di atas semua panglima yang tersisa"


"tapi kau mampu di kalahkan pemuda itu"


"apa saja yang kau lakukan selama ini??" raja kematian sangat marah melihat anak buah nya di pecundangi Panji


"maaf yang mulia, hamba mengaku salah"


"anak muda itu sangat sakti, dan seperti nya dia telah mengumpulkan semua mustika"


"apa kita tak memusnahkan anak muda sebelum dia semakin kuat yang mulia??" tanya Gantika.


"dulu aku tersegel karena kecerobohan ku"


"aku tak mungkin kalah kalau bukan karena resi keparat itu pura pura mati"


"sekarang tak akan ada yang bisa menahan ku untuk menguasai seluruh benua"


"panggil kan Gariga kemari" kata raja kematian pada seorang pengawal.


"baik yang mulia"


"ada apa yang mulia???"


panglima Gariga juga merasakan gemetaran di hadapan raja kematian.


"pergilah ke benua kegelapan"


"bawa semua anak buah kita"


"sudah saat nya kita menguasai seluruh benua ini"


"panglima Gariga kaget tapi tak berani membantah.


"baik, aku akan segera ke benua kegelapan yang mulia" kata panglima Gariga.


"kenapa masih di sini"


"berangkat sekarang juga" perintah raja Kematian


"ba..baik yang mulia" panglima Gariga gugup tapi langsung keluar.


"dan kau Gantika, suruh salah satu pengawal menjemput panglima Jalu"


"tugasnya sudah cukup"


"benua biru sudah dalam kehancuran"


"benua itu yang terlebih dahulu kita serang"


"setelah itu benua merah dan terkahir benua kuning"


"baik, akan hamba utus pengawal terbaik kita" kata Gantika dan keluar dari ruangan utama.


"saat nya pembalasanku"

__ADS_1


"bersiaplah manusia manusia sombong" kata raja kematian dengan suara keras.


__ADS_2