
Air mata bahagia terus mengalir dari mata Laras, gadis harimau itu sungguh tak menyangka jika Panji akan datang kembali menemui nya.
"apa kakang akan membawa ku??" tanya Laras dengan pandangan yang penuh harap.
"seperti nya iya Laras, tapi aku mau bicara penting dulu dengan ayah mu"
"dan tolong lepaskan pelukan mu"
"apa kau tak malu di liatin ratusan pasang mata itu??" tunjuk Panji ke arah prajurit yang melihat mereka dengan mata cemburu.
"Laras tak peduli kakang, Laras hanya ingin terus dekat dengan mu"
Dengan sedikit memaksa Panji melepaskan pelukan Laras, dan dengan terpaksa gadis harimau itu melepaskan pelukan dari tubuh Panji.
"kau ingin bicara apa dengan Panji??"
"sebaiknya kita di dalam saja" ajak maung Sabda.
Panji tak menjawab tapi terlebih dahulu masuk dan di ikuti oleh maung Sabda dan putrinya maung Laras.
"sebenarnya tujuan ku kemari memiliki dua alasan paman"
"yang pertama aku ingin menanyakan tentang pedang panas matahari dan pedang dingin bulan"
"apa paman mengetahui sesuatu??" tanya Panji
"Pedang matahari, pedang bulan??"
"untuk pedang matahari paman pernah mendengarnya, tapi itu hanya sebuah legenda"
"katanya pedang itu akan muncul di masa depan"
"bukan di masa sekarang"
"sementara untuk pedang bulan aku tak pernah mendengarnya"
"kenapa kau menanyakan itu??" tanya maung Sabda.
"Seperti nya tak ada alasanku untuk menutupinya lagi dari paman"
"ini juga berpengaruh untuk kamu Laras" jawab Panji.
"berpengaruh untuk Laras??"
"Laras tak mengerti kakang"
Laras yang dari tadi di dekat Panji memandang raja muda itu dengan mata yang penuh sorot tak mengerti.
Panji menghela napas panjang dan mulai menceritakan semua, semua pertarungan nya dengan raja kematian Habiyang, dan juga pertarungan dengan dewa sesat Alimpa.
Maung Sabda dan putrinya maung Laras terus mendengar tanpa pernah menyela cerita Panji. raut wajah mereka berubah ubah seiring dengan cerita panjang yang Panji sajikan di telinga mereka.
"begitu lah cerita nya paman"
__ADS_1
"itu akhir dari pertarungan ku"
"dan sekarang di tubuhku ini tertanam pedang dewa yang akan keluar jika aku sudah menguasai tenaga dalam seperti dewa"
"seperti nya itu sungguh di luar jangkauan manusia ataupun siluman"
"tapi kenapa kau mengatakan semua cerita mu berhubungan dengan Laras??" tanya maung Sabda.
"setelah aku membunuh dewa sesat, beberapa hari yang lalu dewa perang yang bernama Agatha menemui ku, dan memberikan aku kutukan yang aku pun tak mengerti"
"dewa perang hanya memberikan aku waktu tiga purnama sebelum membawa ku entah kemana"
"jadi semua nya pasti berhubungan dengan Laras"
"apa mungkin Laras akan mau hidup dengan ku hanya dalam tiga purnama saja"
Laras termenung karena cerita Panji.
"sehari atau dua hari itu sudah cukup bagiku kakang"
"yang Laras tau Laras ingin dekat dengan kakang"
"meskipun hanya sebentar bagi Laras itu sudah cukup" jawab Laras dengan wajah menunduk sedih.
"apa kau yakin Laras??"
"dan satu lagi, aku juga memiliki seorang gadis manusia yang akan mendampingi ku"
"apa kau mau jika kita hidup bertiga??" tanya Panji.
"hhhmmm, sungguh sangat memusingkan ya, tapi jika memang kau mencintai mereka aku tak akan melarang jika kau memiliki lebih dari satu istri"
"tapi aku ingin Laras yang di utamakan" kata maung Sabda.
"tak ada yang nomor satu atau nomor dua paman"
"mereka berdua akan menjadi permaisuri di kerajaan ku"
"mendapatkan hak yang sama"
"tak akan aku bedakan antara Laras dan Dinda Diyah Pitaloka"
"Bagaimana putri ku??"
"Apa kau tetap bersedia ikut dengan Panji??" tanya maung Sabda.
"hik hik hik, apa kakang akan kembali??"
"atau apa kakang akan selama nya pergi??" tanya Laras dengan air mata yang mulai membasahi lantai.
"itu tak bisa aku pastikan Laras, semuanya tergantung pada keputusan dewa"
"sekarang semua nya terserah pada mu" kata Panji memberikan pilihan pada Laras.
__ADS_1
"aku akan ikut dengan mu kakang, seberat apa pun itu aku akan ikut"
"kapan kau akan membawa ku kakang??" tanya Laras.
"mungkin besok, sekarang kakang harus istirahat"
"aku harap sampai besok kau pikirkan matang matang apa keputusan mu Laras, aku tak akan memaksa mu untuk ikut dengan ku"
"aku kemari karena untuk memenuhi janji ku pada mu"
"semua nya tergantung pilihan mu" kata Panji.
Panji memasuki kamar yang memang di sediakan untuk nya, kamar spesial bagi tamu.
"apa kau yakin dengan keputusan mu Laras??" tanya maung Sabda pada putrinya.
"seperti nya yakin ayah, tapi rasanya sangat berat jika kakang Panji akan pergi lagi"
"itu pun tak tahu kapan akan kembali"
"seperti kata Panji pikirkan baik baik"
"pilihan dan keputusan sekarang ada di tangan mu"
"pilihan terbaik mana yang akan kau pilih akan Panji tunggu esok pagi"
"iya ayah, Laras akan pikirkan"
Kabar kedatangan Panji di dimensi siluman dengan cepat terdengar dan telah sampai di telinga para bangsawan siluman harimau.
Tiga bangsawan yang pernah melamar Laras merasa saat ini saat yang tepat untuk membuat malu Panji, saat Panji akan membawa Laras mereka akan menantang Panji untuk berduel.
Duel itu biasa di lakukan di dimensi siluman harimau, jika ada salah satu yang tak menyukai karena penolakan, saat gadis akan di bawa maka boleh di ajak duel, meskipun tak mengubah apa pun tapi itu biasa nya akan mengubah pandangan keluarga sang gadis.
Itu lah yang di rencanakan salah satu bangsawan siluman harimau, berniat merebut Laras di saat akan di bawa oleh Panji. kabar tentang akan di bawanya Laras esok pagi memang sudah di sebarkan oleh prajurit.
Bangsawan siluman harimau itu yang akan menantang Panji, karena tak terima penolakan Laras bernama maung Badar. Salah satu pemuda terbaik dari bangsa siluman harimau.
Badar dari dulu sudah menyukai Laras, dan kawan kawan nya sering menjodohkan nya dengan Laras, hanya saja Badar datang setelah Laras melabuhkan hati nya pada Panji.
Badar bukan tak terima kalau Laras sudah memiliki pemuda yang di pilihnya, hanya saja Badar dan keluarga tak terima jika itu dari bangsa yang rendah, bangsa manusia, itu semua karena rasa iri dan rasa menganggap Panji manusia lemah.
"sudahlah badar, sebaiknya kau tahan dulu emosi mu"
"besok bisa kau limpahkan semua emosimu pada anak manusia itu"
"sebaiknya malam ini kau makan ramuan penguat kekuatan"
"besok kau bisa dengan puas menghajar pemuda itu di depan Laras"
"dengan begitu kau akan di pandang oleh Laras" kata maung Angke, ayah nya Badar.
"aku pasti akan menghajar nya ayah"
__ADS_1
*************