
Jauh dari seluruh benua Panji sedang berusaha untuk menemukan mustika putih dan saat ini Panji di berikan pilihan untuk mengambil mustika putih di dalam kawah gunung es yang merupakan gunung api aktif.
"ini berbeda dengan gunung api es, ini murni gunung api"
"apa aku akan mati di sini"
"tapi ko mustika putih berada di dalam gunung api, bukan kah mustika putih ber elemen es, aneh" gumam Panji.
"kalian tunggu di sini" Panji memantapkan hati nya dan mengambil ancang ancang.
"tolong kembali ya"
"aku tak ingin kembali sendirian" kata Welang dan berat melepaskan Panji.
"eh, ko tumben kau menghawatirkan aku??"
"jangan jatuh cinta pada ku??"
"aku sudah memiliki dua gadis yang menunggu ku" kata Panji sedikit nyengir ke arah Welang
"eleh, sok ganteng kali sih" gerutu Welang.
"kembalilah, aku mau menjadi yang ke tiga" kata Welang berteriak keras.
"dasar kau harimau gila" kata Panji dan melompat ke dalam perut gunung api.
"mari kita kembali, kita tak akan mengetahui berapa lama dia berada dalam kawah itu" ajak Ki bangke pada Welang.
Welang menggeleng dan menolak.
"kakek pergi saja, aku akan menunggu dia"
"nanti kalau dia kembali pasti dia butuh makan dan minum, aku harus mempersiapkan nya" jawab Welang.
"dasar kau ini, apa kau tak mendengar kalau dia sudah memiliki dua gadis yang menunggu nya" kata Ki bangke.
"apa kakek juga tak mendengar jawaban ku tadi??"
"aku siap menjadi yang ke tiga" kata Welang.
"eleh eleh, memang benar ya, kau memang harimau gila"
"aku pergi" Ki bangke meninggalkan Welang yang berniat menunggu Panji kembali.
"kemballah secepatnya, atau aku akan menyusul mu" gumam Welang dan menatap ke dalam kawah gunung.
"ihh, ngeri juga"
Welang bergidik dan menjauhi mulut gunung itu.
Panji terus meluncur dan terus meluncur, dia merasa terlalu jauh tapi untuk membuka mata nya Panji merasa berat karena kecepatan laju nya terlalu sehingga untuk membuka mata pun sulit. Panji hanya merasa ini terlalu jauh dan dia tak merasakan rasa panas sedikit pun.
"bukkk"
Panji akhir nya sampai di dasar gunung api, saat Panji membuka mata nya dia bukannya berada di perut bumi tapi berada di sebuah tempat yang sangat indah.
"inikah surga??"
"jangan jangan aku sudah mati terpanggang"
Panji terus memandangi wilayah itu dan tak melihat ujung dari tempat itu.
"kau sudah datang manusia pilihan??" suara halus terdengar dari belakang Panji, Panji kaget dan langsung waspada karena dia tak merasakan kehadiran orang itu. di hadapan Panji berdiri seseorang yang masih sangat muda, usianya bahkan di bawah Panji.
"kau siapa, dan aku berada dimana??" tanya Panji bingung.
"kau berada di dimensi tak berumur manusia pilihan" jawab orang itu.
"dimensi tak berumur??"
"aku tak mengerti maksud mu" kata Panji
__ADS_1
"kau tak perlu mengerti ataupun memahaminya, itu hanya akan mendatangkan mu masalah baru" jawab lelaki muda itu.
"karena kau telah datang, seperti nya tugas ku di mulai"
"tugas mu??"
"namamu saja aku tak tahu, dan tugas apa??" tanya Panji heran.
"manusia pilihan, asal kau tahu seribu tahun aku tersegel dan menunggu kedatangan mu"
"dewa memberi ku tugas untuk ku mengajarkan manusia pilihan jurus tertinggi dari elemen es untuk melawan dan menyegel raja kematian"
"dan nanti nya tugas ku ini kau yang akan melanjutkan nya dan menunggu manusia pilihan lainnya setelah kau menyegel raja kematian"
"aku akan meneruskan tugas mu??"
"tidak, aku akan membunuh raja kematian"
"apaa??"
"membunuh raja kematian ??"
"kau akan membangkitkan dewa sesat" lelaki muda itu kaget akan perkataan Panji.
"aku juga akan membunuh dewa sesat" kata Panji ringan.
"jangan, kau akan mendapatkan kutukan" cegah lelaki muda itu.
"kutukan??"
"aku tak peduli, aku hanya ingin kedamaian di seluruh benua"
"biarlah aku yang terkutuk dari pada nantinya raja kematian akan bangkit dan kejadian yang sama akan terulang kembali"
"aku....!!!"
lelaki muda itu terdiam dan menatap keteguhan hati Panji.
"mungkin benua tak akan seperti ini" sesal lelaki itu.
"dulu, apa maksud mu dulu??" Panji heran dengan perkataan lelaki itu.
"aku adalah orang pilihan sebelum dirimu"
"aku resi Raspati"
"apa??"
"ka..kau eyang resi Raspati??"
"bukan kah dia telah tewas saat menyegel raja kematian??" tanya Panji.
"iya benar aku telah tewas, tapi itu hanya raga ku"
"jiwa ku menjadi penerus sebelum aku, penjaga mustika putih"
"kemarilah" resi Raspati merangkul Panji, Panji merasakan kehangatan masuk ke dalam hati nya karena rangkulan itu.
"kehangatan ini??"
"aku sudah lama tak merasakan ini, sungguh teduh dan menyenangkan perasaan ku"
resi raspati membawa ke ruangan di tengah tempat itu.
"aku akan memberikan semua yang aku miliki kepada mu Panji"
"bersiaplah"
"tunggu resi??"
"maksudnya aku akan berlatih di sini??"
__ADS_1
"berapa lama??"
"benua dalam bahaya resi" kata Panji berniat menolak.
"tidak, kau tak akan berlatih"
"kau cukup menerima saja, semua akan tersimpan dalam pikiran mu"
"tersimpan dalam pikiran ku??"
"bagaimana aku menggunakan nya kalau aku tak berlatih??" tanya Panji.
"elemen es yang akan mengajari mu"
"kemarilah mendekat"
Panji mendekat ke arah resi Raspati.
"keluarkan semua senjata yang kau miliki"
"itu hanya akan mengganggu proses penggabungan jurus ku dengan pikiran mu"
"ehh, baik lah"
Panji mengeluarkan pedang langit, pedang darah, golok petir dan keris liuk tujuh dari dalam tubuh nya.
"kau seperti toko senjata Panji, begitu banyak pusaka dalam tubuhmu"
"heheeh, aku pun tak mengerti mengapa semua pusaka ini menurut kepada ku"
"itu semua berguna saat menghadapi raja kematian"
resi Raspati memegang tangan Panji dan mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Panji.
"jangan di lawan, biarkan mengalir di seluruh aliran darah mu" kata resi raspati saat melihat Panji sedikit berontak.
"apa kau sudah bertemu dengan Ki Rangkas??" tanya resi raspati tanpa menghentikan penyaluran dan pemindahan jurus nya pada Panji.
"sudah resi, apa resi juga yang menyuruhnya??" tanya Panji.
"hehehe, kami harus memastikan kalau manusia pilihan kuat untuk menghadapi raja kematian"
"semua yang kau alami ini bukan lah sebuah kebetulan"
"itu semua sudah kami rencanakan jauh sebelum kau lahir"
"golok petir, pedang darah"
"semua nya sudah di takdir kan untuk mu"
"jadi eyang Sasongko??" tanya Panji
"hehehehe, dia juga termasuk salah satu murid ku"
"hanya saja dia terlalu mengikuti nafsu dunia nya"
"tapi kau telah berhasil mengembalikan nya menjadi baik, itu sudah cukup untuk nya"
"pemindahan telah selesai"
"aku yakin di otak mu telah banyak bermain main jurus jurus elemen es"
"pergunakan itu dengan semua jurus yang kau miliki untuk menyegel raja kematian"
"pikirkan lagi niat mu, apa kau akan menyegel atau membunuh raja kematian"
"dan ini mustika putih"
resi Raspati memberikan sebuah kristal berwarna putih.
Semua nya gelap, dan Panji tak mengetahui berapa lama dan dimana dia berada. semua nya gelap.
__ADS_1
**********