
"seperti nya sudah saat nya kembali bukan??" tanya maung Jaya kepada Panji.
"belum kek, aku masih ingin bertanya bagaimana aku bisa mengendalikan semua elemen semudah membalikkan tangan??" kata Panji.
maung Jaya berpikir sejenak.
"baik, mari ikuti aku"
maung Jaya membawa Panji ke sebuah ruangan rahasia.
"apa kau melihat air terjun kecil itu??" tunjuk maung Jaya.
"iya kek, Panji lihat"
"silahkan bersemedi di sana"
"semua tergantung kepadamu"
"maksud nya tergantung apa kek??" tanya Panji tak paham.
"hadapi diri mu sendiri"
"semua elemen mu akan menjadi lawan mu"
"aku tak mengerti kek"
"kau akan mengerti saat memasuki alam pikiran mu sendiri" kata maung Jaya dan meninggalkan Panji.
Panji berjalan dan mendekati air terjun kecil itu dan mulai duduk di bawah air, Panji mulai berkonsentrasi dan memasuki alam bawah sadarnya.
"akhirnya kau datang juga bocah" suara itu mengagetkan Panji yang telah berada di ruangan seperti awan.
lima orang mendekati Panji dan sama sama memegang tubuh Panji.
"aku tubuh api akan membakar mu" tubuh api mulai menjalari seluruh tubuh Panji.
"akkkhhhhh" jeritan Panji begitu keras bahkan sampai terdengar ke luar ruangan itu.
"kakek ada apa dengan Panji??" tanya Welang gelisah.
"jangan di ganggu biarkan dia menyatukan semua elemen dalam tubuhnya.
"tapi kek??"
"sudah, sebaiknya kita tunggu"
"ini akan menentukan semua perjalanan Panji selama ini" kata maung Jaya.
api di tubuh Panji terus membakar kulit nya dan menyusup ke dalam tulang dan ototnya. panas nya bukan main.
"bagaimana apa kau akan menyerah bocah??" tanya tubuh api yang menjalari tubuh Panji.
"tidakkk...!!!!"
"ini belum seberapa"
"blarrrr"
"aku tubuh petir"
tubuh petir juga masuk dan rasa panas dan sengatan listrik menyatu dalam tubuh Panji.
"akkkhhhh...!!!!"
jeritan Panji semakin keras dan itu cukup membuat suara nya serak karena terlalu keras berteriak.
api dan petir terus menyakiti tubuh Panji dan menunggu kata kata menyerah dari mulut Panji. belum selesai siksaan Panji dari atas datang bongkahn tanah yang terus menghantam tubuh Panji dan itu bagaikan batu besar yang menimpa tubuhnya.
"aku tubuh tanah"
"bersiap lah"
__ADS_1
segumpal an tanah mulai membalut tubuh Panji dan mengurungnya serta menghimpit tubuh nya.
jeritan sudah tak terdengar dari mulut Panji. tanah itu terus mengurung dan menghimpit tubuh Panji. belum lagi selesai tanah itu berubah menjadi lumpur dan masuk ke semua lubang di tubuh Panji, Panji bahkan tak bisa memuntahkan lumpur itu dan terus masuk mengisi perut nya.
"menyerah lah bocah"
"kau tak mungkin menampung kami dalam tubuhmu" kata tubuh tanah.
"tidak, aku memiliki beban dalam pundak ku"
kata Panji dengan terbata bata.
"aku tubuh angin...!!!
"whuussss"
tubuh angin menghempaskan tubuh Panji bagaikan bola, sedikit pun Panji tak mampu untuk mempertahankan tubuhnya. segala hal itu di terimanya dengan memantapkan hatinya hanya untuk menyelamatkan benua dan seluruh penghuninya.
"kalian terlalu keras kepada anak ini"
"tubuh es" dan elemen terakhir pun mulai masuk melalui seluruh pori pori tubuh Panji. semuanya yang masuk seperti jarum jarum kecil yang menyiksa. dan ini mau tak mau Panji berteriak sekeras kerasnya.
"akkhhhhhh....!!!"
dan itu lah batas kesadaran Panji, setelah itu semua nya gelap. saat Panji dalam alam bawah sadar dia tak mengetahui tubuhnya mengeluarkan lima warna dan berganti ganti keluar terus menerus.
"aku dimana??"
"apa aku masih dalam ruangan rahasia??" gumam Panji lirih.
"seluruh tubuhku sangat sakit sekali"
"apa aku telah berhasil menguasai dan mempergunakan ke lima elemen sesuka hati ku??" gumam panji lagi.
Panji kembali bersemedi untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang kehabisan tenaga karena di siksa lima tubuh elemen. dan saat itu lah Panji merasakan lain di dalam tubuh dan juga tenaga dalam nya, dia dengan mudah mampu mengendalikan semua elemen yang telah di milikinya.
"seperti nya aku berhasil"
"dan ini bukan mimpi"
Panji membuka matanya dan keluar dari ruang rahasia. di luar telah menunggu maung Jaya, maung Angga, dan juga Welang.
"bagaimana keadaan mu Panji??" tanya maung Jaya.
"aku lapar" kata Panji.
"apa??"
"jadi perut mu yang kau pikirkan??" tanya Welang tak percaya.
"udah Welang, siapkan makanan untuk Panji"kata maung Angga dan memapah membantu Panji berjalan.
"sebaiknya kau istirahat dulu Panji"
"tubuh dan jiwa mu sepertinya sangat keletihan" kata maung Jaya
"iya kek, semuanya sangat melelahkan"
"mari aku antar" kata Welang.
"tak usah, aku bisa sendiri" kata Panji dan itu sedikit membuat Welang cemberut.
"dasar pemuda sombong" kata Welang cukup keras.
Panji tak menggubris kata kata Welang dan masuk kamar.
"apa menurut ayah dia berhasil??" tanya maung Angga
"aku tidak tahu, tapi seperti nya dia berhasil menguasai semua tubuh elemen" jawab maung Jaya.
"pemuda yang luar biasa"
__ADS_1
"ingin rasa nya ku angkat jadi menantu" kata maung Angga.
"dia sudah bertunangan dengan putri kemenakan mu Angga"
"sebaiknya lupakan saja" kata maung Jaya.
"dia juga memiliki gadis lain kek" kata Welang tertunduk.
"kalau dia mau apa salah nya ayah"
"seorang pemuda seperti dia tak ada salahnya memiliki tiga atau empat istri"
"dan aku yakin Welang menyukai nya"
"iya kan putri ku??" tanya maung Angga kepada Welang.
"aku, ayahhhhh??"
Welang langsung menunduk malu.
"sudah, sebaiknya kita tunggu dia bangun besok pagi"
"kalian juga istirahatlah"
"lima hari kita menunggu nya keluar dan kita kekurangan waktu istirahat"
"baik ayah"
"ayo Welang" kata maung Angga menarik tangan Welang yang berat untuk meninggalkan rumah kakeknya.
tanpa Panji sadari lima hari dia bersemedi untuk menguasai semua tubuh elemen.
"terima kasih telah memberikan semua yang aku butuhkan kek??"
"aku tak akan melupakan kalian" kata Panji saat Panji berniat untuk meninggalkan pulau es.
"tidak, aku tak melakukan apa pun"
"semua ini karena usaha tak kenal lelah mu" kata maung Jaya.
"apa kau akan kembali Panji??" tanya Welang masuk tanpa komando.
"eh Welang, iya aku akan kembali"
"kenapa??" tanya Panji.
"apa kita akan bertemu lagi??" tanya Welang
"aku tidak tahu, tapi bagaimana pun aku ingin bertemu dengan kalian"
"kalian sudah aku anggap keluarga ku" kata Panji.
"Panji, apa kau ingat waktu aku katakan aku mau menjadi yang ketiga di antara gadis mu itu??"
"iya aku ingat candaan mu itu Welang, kenapa??" Panji balik bertanya.
"aku tak bercanda Panji, aku serius dengan kata kata ku itu" kata Welang dan memeluk Panji.
"Welang aku...!!!" Panji diam dan membiarkan pelukan itu terjadi cukup lama.
"pergilah Panji, aku harap kau berhasil dengan tujuan mu" kata Welang dengan mata berkaca kaca dan melepaskan pelukannya.
"terima kasih Welang"
"aku permisi kek, paman" Panji bersiap untuk terbang.
"sampai jumpa Welang"
"panjiiii....!!!"
"seratus tahun atau seribu tahun aku akan menunggu mu"
__ADS_1
"jemput lah aku" teriak Welang dengan air mata berjatuhan.
*************