Perjalanan Menuju Langit

Perjalanan Menuju Langit
episode 121 perang di mulai bg 2


__ADS_3

"bammmm" sebuah pukulan menghantam Patih Makdum dan itu langsung melemparkan tubuhnya cukup jauh. Patih Makdum hanya bisa menatap ke arah panglima Jalu yang memang memiliki kemampuan jauh di atasnya.


"Jabat bantu aku, kita hadapi berdua bedebah itu" teriak Patih Makdum.


"baik...!!!" Patih Jabat langsung meninggalkan pertarungan nya dan membantu Patih Makdum yang sedikit terluka.


"bagus kemarilah kalian berdua, agar aku bisa membunuh kalian secepatnya" kata panglima Jalu.


kedua Patih itu menyerang bekerja sama tapi itu tak banyak mendesak panglima Jalu. bahkan panglima Jalu mampu menangkis semua serangan dan menyerang balik.


"aku harus membunuh salah satu nya setelah itu aku akan mudah menguasai peperangan ini" gumam panglima Jalu dalam hati.


"aku akan membunuh orang tua itu terlebih dahulu"


"tenaga dalam nya tak seberapa"


panglima Jalu berniat membunuh Patih Jabat terlebih dahulu.


"hiatttt...!!!!"


di barengi teriakan panglima Jalu menyongsong serang dari Patih Jabat dan Patih Makdum. dia menahan semua serangan dan pada saat yang tepat panglima Jalu mencabut pedang nya dan mengayunkan dengan cepat, dengan terkejut kedua Patih melompat ke samping dan berpisah, dan itu yang di tunggu panglima Jalu.


"mati lah"


panglima Jalu berteriak keras dan menyerang Patih Jabat dengan serangan penuh nya.


"trangggg"


Patih Jabat masih mampu sejenak menahan serangan panglima Jalu tapi saat serangan kedua Patih Jabat tak mampu lagi menghindar.


serangan itu begitu cepat bahkan Patih Makdum kaget akan serangan itu.


"PATIH JABATTTT....!!!!" Patih Makdum hanya mampu berteriak keras saat melihat pedang panglima Jalu menusuk dada Patih kerajaan Bintang kejora itu sampai menembus ke punggungnya.


"akkhhh" darah langsung mengotori mulut Patih Jabat.


panglima Jalu menarik pedang nya dan tubuh Patih Jabat langsung melongsor ke bawah.


"bukkk" panglima Jalu menendang tubuh Patih Jabat tanpa hormat sedikit pun.


"sekarang giliran mu" kata panglima Jalu dan menjilat darah di pedang nya.


Patih Makdum bergidik melihat kelakuan panglima Jalu.


"dia manusia haus darah"


Patih Makdum memegang erat pedang nya dan mengalirkan tenaga dalam yang cukup besar.

__ADS_1


"trangggg"


panglima Jalu yang mengetahui tenaga dalam nya lebih besar dari Patih Makdum terung mengayunkan pedang nya, sementara Patih Makdum sebisa mungkin menghindarinya Karen setiap terjadi benturan pedang tangan nya kesemutan karena kalah dalam adu tenaga dalam. seperti saat ini.


"trangggg"


"uhhkkk" Patih Makdum mengeluh menahan ngilu, dan saat itu lah kaki panglima Jalu terangkat.


"bukkkk...!!!"


tendangan panglima Jalu menghantam ulu hati Patih Makdum bahkan Sampai melempar Patih itu.


"huaaakkkkk" perut Patih itu rasanya seperti di aduk aduk dan mual bagai mabuk laut.


"hahahahah"


"kematian mu tak akan bisa lagi di hindari"


"kemenangan kami sudah pasti" kata panglima Jalu jumawa.


"matilah...!!!!" panglima Jalu melesat dan mengayunkan pedang nya ke leher Patih Makdum. Patih Makdum yang telah kehabisan tenaga menutup matanya pasrah menerima kematian.


"trangggggg"


saat pedang itu hanya satu inci lagi menyentuh leher Patih Makdum sebilah pedang menahan pedang panglima Jalu dan itu cukup mengagetkan panglima Jalu, panglima itu melompat ke belakang dan terkejut saat melihat orang yang menahan pedang nya.


"kau....!!!"


"pulihkan tenaga mu, aku yang akan menghadapi nya"


"terima kasih Mahapatih" kata Patih Makdum dan pergi ke tempat yang sedikit sepi untuk memulihkan tenaga dalam nya.


"hahahaha, tak ku sangka Demar yang perkasa sekarang telah membelot membela golongan putih" kata panglima Jalu mengejek.


"huhhh, jauh dalam hati mu kau juga sudah bosan hidup seperti itu Jalu"


"tapi karena segel itu kau tak bisa berbuat apa apa"


"tapi untuk apa pembicaraan ini??"


"toh kita akan tetap bertarung bukan??" kata Mahapatih Demar membalas ejekan panglima Jalu.


"setan...!!!"


panglima Jalu langsung mengalirkan tenaga dalam yang besar ke pedang nya, dia sadar Mahapatih Demar salah satu panglima benua kegelapan yang kuat jadi dia tak akan main main lagi.


keduanya sama sama melesat ke depan dan sama sama mengayunkan pedang nya.

__ADS_1


"trangggggg"


"blarrrrr"


kedua pedang beradu dan menimbulkan dentuman keras, prajurit yang bertempur di dekat mereka langsung muntah darah karena tak mampu menahan gelombang dari tenaga dalam kedua nya.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


"bagaimana , apa kau belum menyerah??" kata panglima Gantika kepada mahapatih Seroja.


"lebih baik aku mati dari pada aku menyerah" jawab Mahapatih Seroja dan mencabut kerisnya.


"dengan atau tanpa senjata semua akan percuma"


"kau akan tetap akan mati di tangan ku"


"tak ada salah nya mencoba bukan??" kata Mahapatih Seroja.


"hiaatt...!!!!"


keris Mahapatih menyerang gantika tapi dengan menggenggoskan tubuhnya Gantika melewati semua serangan Mahapatih Seroja. Gantika bagai ular meliuk liuk menghindari setiap serangan Mahapatih Seroja. bahkan saat Gantika menyerang mati matian Mahapatih Seroja untuk menahan serangan Gantika.


"brakkkk"


saat yang tepat pukulan Gantika menghantam dada Mahapatih Seroja.


"arrggggghhhh"


Mahapatih Seroja menjerit kesakitan.


"hanya segitu saja kemampuan mu??"


"mati lah"


"whussss"


pukulan berhawa panas melesat cepat ke arah Mahapatih Seroja, Mahapatih itu yang terluka dalam tak akan mampu menahan atau pun menangkis pukulan itu dan hanya mengangkat tangan menutupi wajah nya.


tapi selarik pukulan putih berhawa dingin mementalkan serangan Gantika di saat saat terakhir.


"cari lah lawan yang sepadan" kata suara keras dari udara.


*****************


sampai di sini dulu ya, besok kita sambung lagi.


"like and komen.

__ADS_1


hanya jempol ko, gak payah kan??"


"terima kasih"


__ADS_2