
Berbeda dengan Panji Mahapatih Demar sampai di benua putih tanpa sedikit pun hambatan.
Prajurit penjaga gerbang menahan dan bertanya padanya.
"maaf kisanak ini siapa dan apa tujuan kisanak ke istana??"
"aku Mahapatih dari kerajaan Bintang kejora"
"aku ingin bertemu dengan raja Mahameru" jawab Demar sopan.
Wajah prajurit itu kaget.
"tunggu di sini, aku akan memberitahu pada yang mulia"
Prajurit itu tak menunggu lama langsung menemui raja Mahameru. dan tak berapa lama prajurit itu kembali.
"tuan Mahapatih di tunggu yang mulia di ruang pertemuan"
"mari aku antar" ajak prajurit itu.
Mahapatih Demar mengangguk dan menerima ajakan prajurit itu.
"Salam yang mulia, hamba kemari di utus oleh raja kami"
"raja Satria" ucap Mahapatih Demar dan bersujud pada raja Mahameru.
"berdiri lah Mahapatih, selamat datang di istana ku"
"silahkan duduk"
Mahapatih Demar duduk di samping Mahapatih Jampar, mahapatih kerajaan ganda Lima.
"aku tahu Mahapatih pasti capek, apa tak sebaiknya Mahapatih beristirahat??" tanya raja Mahameru.
"tidak yang mulia, hamba harus segera melaksanakan titah raja hamba, hamba tak memiliki banyak waktu, jika memang sudah selesai hamba akan segera kembali" tolak Mahapatih Demar.
"baik, aku mengerti Mahapatih, katakan saja apa permintaan saja mu itu" pinta raja Mahameru sedikit tersinggung karena tamu nya menolak permintaan nya.
Mahapatih Demar mengeluarkan sebuah buntalan kecil.
"Raja ku ingin memberikan putri yang mulia menerima ini"
"hanya itu yang di perintahkan raja ku yang mulia"
"dan tak boleh orang lain yang menerima nya selain putri yang mulia" jawab Mahapatih Demar.
Wajah raja Mahameru berkerut tak suka karena sikap itu tak di sukainya. pangeran Candra melihat perubahan pada ayahanda nya. pangeran Candra memegang lengan ayahnya mencoba memberikan ketenangan.
"raja mu sungguh tak memiliki rasa hormat pada ku"
"dia mengirimkan mu untuk memberikan buntalan lusuh itu pada putri ku??"
"kau pikir putriku itu apa??"
"gadis sembarang??"
"asal kau tahu, putri ku itu gadis tercantik di benua ini" Amarah raja Mahameru memuncak.
"suami ku, jangan marah"
"apa salahnya kita panggilkan Dyah Pitaloka"
"biarkan dia melaksanakan titah rajanya, jangan mempersulit dia" kata permaisuri iyeng Anggi menenangkan suaminya.
__ADS_1
"tapi Dinda, kanda takut jika isi buntalan itu sesuatu yang akan merusak putri kita" kata raja Mahameru cemas.
"yang mulia tak perlu cemas, isi buntalan ini bukan sesuatu yang membahayakan tuan putri"
"jika tuan putri celaka karena hal ini, nyawa ku jadi taruhan nya" kata Mahapatih Demar tegas karena mendengar ucapan raja Mahameru.
Raja Mahameru memandang istri dan putra nya bergantian.
"apa itu artinya raja mu melamar putri ku??" ucap raja Mahameru.
"mungkin bisa di bilang begitu yang mulia"
"jika tuan putri menerima buntalan itu maka aku akan meneruskan titah dari yang mulia berikutnya"
"tapi jika tuan putri menolak maka aku akan kembali"
"baiklah, jika terjadi sesuatu pada putri ku, kau tak akan selamat atau pun kau tak akan bisa keluar dari istana ini"
"paham...." Suara nyaring raja Mahameru terdengar di seluruh ruangan pertemuan.
"aku siap menerima semua konsekuensi nya yang mulia"
"Candra panggilkan adikmu" perintah raja Mahameru.
Pangeran Candra tak membantah dan melaksanakan perintah ayahandanya.
Seorang gadis yang begitu anggun memasuki ruangan pertemuan, gadis itu memang anggun, apalagi dengan rambut panjang yang terurai bebas menambah keanggunan pada gadis itu. dialah putri keraton, Diyah Pitaloka.
"yang mulia sungguh pandai memilih permaisuri" gumam Mahapatih Demar tersenyum.
"ada apa ayahanda memanggil ku??" tanya Diyah Pitaloka.
"seseorang ingin memberikanmu sesuatu, dan hanya kau yang boleh membuka nya"
"dia utusan dari raja benua kuning" tunjuk raja Mahameru ke arah Mahapatih Demar
"apa yang akan kau berikan pada ku paman??" tanya Pitaloka berdiri agak jauh dari Mahapatih Demar.
"Silahkan tuan putri buka sendiri" jawab Mahapatih Demar berdiri dan memberikan buntalan lusuh itu ke tangan putri Diyah Pitaloka.
Putri Diyah Pitaloka ragu untuk membuka buntalan itu, dia menatap bunda dan ayahandanya, seperti meminta persetujuan. permaisuri iyeng Anggi angguk kepala tanda memberi restu untuk diyah Pitaloka untuk membuka buntalan itu.
Dengan tangan yang gemetar Pitaloka membuka buntalan itu. mata nya berkaca kaca saat melihat isi buntalan itu. kaki nya langsung lemas dan terduduk di lantai.
"kakang...." Desis Pitaloka dan memeluk buntalan lusuh itu.
Tangan Pitaloka menarik isi buntalan itu, selendang sutra pemberian nya sebagai tanda cinta untuk Panji.
"kakang...."
Pitaloka tak memperdulikan orang di ruang pertemuan itu, air mata bahagia keluar dari matanya, Pitaloka melingkarkan selendang itu di lehernya.
"dimana kakang Panji sekarang paman??" tanya Pitaloka.
"Panji??" seru raja Mahameru.
"ya, raja Satria adalah pendekar yang kalian kenal dengan nama Panji"
"saat ini raja Satria penguasa kerajaan bintang kejora"
"apa tuan putri menerima lamaran rajaku??"
"tak ada alasan ku untuk menolak" jawab Diyah Pitaloka dengan wajah yang bersemu merah menahan malu.
__ADS_1
"baik, untuk titah kedua, yang mulia meminta raja dan keluarga kerajaan untuk ke istana"
"aku tak akan memaksa, tapi yang mulia ingin secepatnya"
"apa yang mulia menyanggupi nya??" tanya Mahapatih Demar.
"kalau itu memang Panji, aku akan malu jika menolak, kapan kita akan berangkat??" tanya raja Mahameru.
"hari ini juga yang mulia"
"raja ku tak ada waktu menunggu lama"
"hari ini??"
"apa kau yakin masih memiliki stamina??"
"yakin yang mulia, titah raja ku merupakan perintah bagiku"
"aku menunggu kesiapan kalian untuk berangkat"
"kalau memang itu sudah permintaan mu, maka kami akan mempersiapkan semua nya, kami tak akan pergi begitu saja, kami juga harus menyiapkan sesuatu untuk raja mu"
"Baik aku akan menunggu" kata Mahapatih Demar.
Pertemuan itu bubar, setelah itu terjadi keramaian karena raja Mahameru akan ke benua kuning, sungguh keberangkatan yang sangat mengagetkan dan tergesa gesa.
Semua prajurit bergerak cepat menyiapkan kuda dan tandu, menyilakan perbekalan.
Sementara Diyah Pitaloka di kamarnya memilih baju terbaik yang ingin di pakainya, Pitaloka sangat gugup untuk kembali bertemu dengan Panji.
Tanpa menunggu lama rombongan kerajaan Ganda Lima sudah selesai dan siap untuk berangkat.
Ratusan prajurit mengawal kepergian keluarga kerajaan, untuk pertama kali nya setelah mereka kembali menguasai kerajaan.
Dalam satu malam keluarga kerajaan itu telah sampai di istana bintang kejora yang langsung langsung di sambut dan diperlakukan hormat oleh prajurit istana.
"kakang Panji di mana paman??" tanya Pitaloka pada Mahapatih Demar.
"yang mulia sudah dalam perjalanan kemari"
Belum hilang ucapan Mahapatih Demar, suara prajurit membuat Pitaloka merona merah.
"Yang mulia raja Satria tiba" teriak prajurit penjaga gerbang.
Pitaloka berlari ke arah gerbang dan melihat Panji berjalan dengan seorang gadis, Pitaloka tak memperdulikan gadis itu dan melompat ke pelukan Panji.
"kakang...." Air mata Pitaloka jatuh tak tertahan di pelukan Panji.
"Dinda..."
Kedua nya berpelukan cukup lama, bahkan sampai membuat Laras merasa jengah tak di pedulikan.
"ehemmmm..." kata Laras mendengan cukup keras.
Pitaloka menatap Laras dan melepaskan pelukan nya.
"siapa dia kakang??" tanya Pitaloka menunjuk pada Laras.
"dia...."
"author pun bingung untuk menjelaskan nya.
*************************************
__ADS_1
"like n komen ya sahabat"
"terima kasih masih terus mengikuti perjalanan nya Panji"