
"Matilahhhhhh"
Garsi mengayunkan cakarnya untuk serangan terakhir.
"akkhhhhhh"
sebuah cakram melayang dan memotong tangan Garsi dan jeritan itu mengagetkan para beruang dan berlari ke arah Garsi.
"wwwuuutttt"
cakram itu kembali berputar putar dan saat perhatian para beruang teralihkan oleh cakram itu sesosok bayang besar menebas tali pengikat Panji dan dengan kecepatan tinggi membawanya kabur.
"kurang ajar"
"siluman harimau berani berbuat masalah dengan kita" kata raja beruang.
"ini semua gara gara si bodoh ini"
"mati kau" tangan raja beruang dengan cepat merobek dada Garsi dan mengeluarkan jantungnya. dengan mata melotot dan tak menyangka Garsi tewas dengan dada ambrol. tanpa jijik raja beruang memakan jantung Garsi.
"cari persembunyian siluman harimau itu"
"kita harus benar benar memusnahkan mereka" perintah raja beruang.
"baik yang mulia"
dua beruang pergi ke lain arah dan mencari persembunyian dari siluman harimau.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
sesosok tubuh memanggul Panji di pundaknya dan membawa ke belantara hutan.
"Welang siapa yang kau bawa itu??"
"jangan lagi membawa masalah untuk kita"
"apa kau tak melihat jumlah kita sudah semakin sedikit dan itu pun tercerai berai" seseorang yang sepertinya di sepuh kan bertanya kepada orang yang membawa Panji yang bernama Welang.
"maaf kek, kau pun tak sengaja menolong nya"
"aku melihat tanda harimau di tubuhnya jadi aku berpikir dia sebangsa kita tapi setelah menolong nya baru aku menyadari dia anak manusia" jawab Welang.
"sudah terlanjur, bawa dia masuk" jawab orang yang di panggil kakek itu.
"siapa anak muda ini??"
"dia memiliki jubah dan cincin harimau"
"itu artinya dia pernah memasuki dimensi siluman harimau" gumam kakek yang bernama maung Jaya.
"Welang jangan hanya di baringkan, obati cepat luka nya, aku lihat bukan luka luar saja yang di derita anak manusia itu, tapi luka dalam nya pun sangat parah"
"kau hanya menambah masalah membawanya kemari"
"dari lukanya dia habis bertarung dengan para beruang"
Welang tak terlalu mendengarkan perkataan kakeknya tapi dengan cekatan mengobati luka luka Panji.
"bagaimana kau sudah obati luka luar nya??"
"kalau sudah masukkan dia ke kamar hawa untuk mengobati luka dalam nya"
"semoga tubuhnya mampu bertahan"
"baik kek" Welang dengan cepat membawa Panji ke dalam ruangan batu dan meletakkan nya begitu saja di sebuah batu bundar seperti meja.
__ADS_1
"bertahanlah, kau pasti sembuh" kata Welang dan meninggalkan Panji.
dua orang memasuki kediaman maung Jaya.
"ayah, tadi kami melihat cucumu membawa seseorang kemari, siapa dia??" tanya seseorang yang bernama maung Angga.
"hhhmmmm, Welang membawa seorang anak manusia"
"apa???"
"anak manusia??" tanya istri maung Angga kaget.
"aku pun kaget tapi anak manusia itu memiliki tanda siluman harimau"
"jadi dia sudah keluarga kita, mungkin dia memiliki hubungan dengan keluarga kita dari benua" jawab maung Jaya.
"sebaiknya kita tunggu anak manusia itu sadar barulah kita bertanya kepadanya apa hubungannya dengan siluman harimau dari daratan benua" lanjut maung Jaya.
"seperti nya akan lama ayah, dan apa mungkin dia selamat??"
"aku lihat tadi luka nya sangat parah" kata maung Angga.
"mata mu masih awas seperti biasa putra ku"
"tapi melihat dia mampu kemari itu artinya kemampuan nya tak biasa"
"dia pasti memiliki kemampuan tinggi"
Maung Angga terdiam dan hanya menggelengkan kepalanya. tak berapa lama Welang keluar dari ruangan batu dan menemui kakeknya.
"ayah ibu.!!!"
"putri ku, kenapa kau keluar dari sini tanpa memberi tahu ibu??" tanya Sukasih ibu nya Welang.
"Welang bosan terus di sini Bu, sembunyi" Welang sedikit mengerutkan wajahnya.
"iya ayah" Welang pergi meninggalkan kediaman kakeknya.
"cucuku sudah dewasa, mulai melawan" maung Jaya terkekeh.
"ayah terlalu memanjakan nya"
"padahal masih ada cucu mu yang lain"
"eh apa salah nya aku memanjakan cucu perempuan ku itu"
"hanya dia anak perempuan kalian satu satu nya" jawab maung Jaya tak mau di salahkan oleh putranya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
tiga hari tiga malam Panji berjuang dalam ruang hawa, ruang pengobatan khusus siluman harimau. ruangan yang memiliki aura pengobatan, setiap yang terluka dalam akan di masukkan dalam ruangan itu dan semua tergantung bagaimana kondisi tubuhnya mampu atau tidak menahan segala beban dari pengobatan di ruangan itu.
"dimana kau, apa aku masih hidup??" gumam Panji lirih saat dia membuka mata nya. yang Panji lihat hanya ruangan kecil seperti gua. Panji mencoba bangkit dan merasakan tubuhnya ringan tanpa luka.
"semua luka dalam ku sembuh, menyisakan luka luar"
"siapa yang mengobati ku"
Panji berjalan menuju pintu dan celengak celenguk mencari orang.
"kemarilah" suara itu mengagetkan Panji dan mendengar suara seseorang yang cukup berumur di temani dua orang duduk di sebelah ruangan.
Panji berjalan ke ruangan itu.
"siluman harimau" kata Panji lirih.
__ADS_1
"duduk lah, makan dan minum untuk menyegarkan kondisimu" kata maung Jaya.
"terima kasih kek, apa kakek yang telah menolong ku??" tanya Panji
"bukan, tapi cucu ku" kata maung Jaya.
"ohhh, saya Panji kek" Panji memperkenalkan dirinya.
"kami banyak pertanyaan untuk mu anak manusia"
"aku harap kau menjawabnya dengan jujur" kata maung Angga.
"Angga, biarkan dia menikmati makan nya terlebih dahulu, setelah itu baru lah tanyakan semua yang ada di benak mu" kata maung Jaya kepada putranya.
"tidak apa apa, aku sudah selesai kek" kata Panji mengakhiri makan nya.
ke empat orang dalam ruangan itu terdiam dan belum ada yang berniat membuka suara, suasana hening dan canggung.
"paman tadi ingin bertanya, aku sudah siap menjawab pertanyaan paman" kata Panji membuka pembicaraan.
"apa hubungan mu dengan siluman harimau??" tanya maung Angga
"hubungan ya??"
"aku belajar elemen angin dari paman maung Sabda jawab Panji.
"hanya itu??"
"kalau hanya itu kau tak mungkin memiliki jubah harimau dan cincin harimau"
"kamu mencurinya??" tanya maung Angga lebih jelas.
"tidak paman, paman maung Sabda yang memberikan langsung kepada ku lewat tangan Dinda Laras"
"apa kau mengetahui keistimewaan jubah mu itu??"
"seandainya kau mengetahui nya tubuh luar mu tak akan separah itu" tunjuk maung Jaya ke tubuh Panji yang penuh luka.
"paman Sabda hanya mengatakan tubuhku akan memiliki pertahanan yang lebih kuat lagi, hanya itu kek"
"hhhhmmmm selalu ceroboh"
"dari dulu Sabda Maung memang ceroboh"
"asal kau tahu jubah itu akan menahan serangan luar, hanya kemampuan di atas mu yang seharusnya mampu melukai tubuh luar mu"
"besok aku akan membuka kunci jubah mu" kata maung Jaya.
"eh, kenapa kakek begitu baik kepada ku??"
"apa karena aku memiliki tanda siluman harimau??" tanya Panji
"bukan, asal kau tahu Sabda Maung adik ku"
"dan putri nya berarti cucu ku" jawab maung Jaya.
"adik??"
"cucu??"
"aku tak paham kek??" tanya Panji lagi
"hadeh, kau bertunangan dengan cucu ku jadi sudah pasti kau cucu ku"
"APA??"
__ADS_1
"BERTUNANGANN??"
*****************