Perjalanan Menuju Langit

Perjalanan Menuju Langit
eps 136 kakek tua


__ADS_3

Pertandingan itu di mulai dan telah lima orang yang lolos ke babak berikut nya. tapi melihat itu bukan nya raja Baruna puas, raja itu merasa yang lolos tak masuk dalam kriteria nya.


Bagaimana dengan Panji??, Panji masih terus duduk di bawah pohon terus menonton pertandingan demi pertandingan.


"sebaiknya aku berjalan mencari si kilat, dia pasti di sekitar istana ini" gumam Panji berdiri


Panji dengan malas berjalan menyusuri keramaian, ratusan manusia itu menghalangi langkah Panji sehingga semua jadi sia sia.


"bodoh, harus nya aku tak perlu masuk istana ini"


"si kilat bagaimana ya??"


"tapi aku yakin dia baik baik saja, dia bukan kuda biasa"


"kuda terbaik yang di miliki oleh manusia"


"setelah keramaian ini selesai aku akan mencari nya"


"Gumilang ya??"


"kau telah mencari masalah dengan orang yang salah"


Panji kembali memilih duduk bersama kerumunan manusia.


"hey anak muda, apa kau tak ikut kompetisi ini??"


"aku merasa kau memiliki sedikit kemampuan" seorang kakek yang cukup berumur mengajak Panji bicara.


"tidak kek, aku tak pantas bersanding di sana" tunjuk Panji ke panggung kompetisi.


"kenapa??"


"siapa saja pun bebas untuk mengikutinya??"


"memang kek, tapi aku hanya akan mempermalukan diri ku sendiri"


"dalam sekali pukul aku pasti akan terkapar tak berdaya" kata Panji merendah


"kau terlalu merendah anak muda, tapi memang benar sih"


"semua yang masuk panggung itu pasti memiliki kemampuan yang cukup tinggi"


"jadi apa tujuan kemari??" kembali kakek tua bertanya.


"menonton dan mencari kuda ku"


"kuda??"


"kau ini seperti nya sangat aneh, orang kemari untuk berkompetisi kau malah mencari kuda" kakek itu malah menganggap Panji manusia aneh.


"terserah lah kek..!!" jawab Panji.


"hey ada lagi yang naik pentas, seperti nya memiliki kemampuan yang sangat tinggi" kata seorang penonton dan menunjuk arah panggung arena.


Panji menatap dan melihat seorang pemuda tampan berpakaian cukup bagus, warna merah pakaian nya menambah kegagahan dari pemuda itu.


"dia.., Gumilang"


"bagus, kau menampakkan batang hidung mu juga" gumam Panji.


Pemuda itu mulai bicara.

__ADS_1


"aku Gumilang, dari benua merah"


"aku menantang siapa pun yang akan berhadapan dengan ku" kata Gumilang lantang.


Dari arah lain seorang pemuda menaiki panggung dan menjura memberi hormat pada Gumilang.


"aku Parta, akan menghadapi mu"


"sebuah kehormatan berhadapan dengan seseorang dari benua merah" kata Parta.


Gumilang membalas menjura dan maju menyerang Parta. Parta membalas menyerang Gumilang, pertarungan kedua nya cukup berimbang, tapi Panji melihat Gumilang memiliki pengalaman bertarung yang lebih banyak dari Parta.


"dua jurus lagi akan kalah" kata Panji memprediksi.


Kakek tua di samping Panji menatap Panji tak percaya.


"bukkk...!!!"


Pukulan Gumilang menghantam Parta. Parta terjerembab jatuh di tengah panggung.


"aku menyerah, terima kasih telah memberikan aku pelajaran berharga" kata Parta mengaku kalah.


"terima kasih sudah mengalah" Gumilang membalas dengan rendah hati. cukup berbanding terbalik waktu Gumilang bicara dengan Panji.


"anak muda, kau mampu mengetahui kalau Parta akan kalah, kau seperti nya memiliki kemampuan tinggi??" kakek tua itu kembali mengajak Panji bicara.


"aku hanya melihat kalau Parta tak akan mampu meladeni Gumilang, hanya kebetulan saja" jawab Panji mengelak.


"hanya orang yang memiliki pengalaman bertarung yang mampu memprediksi nya"


"kau tak bisa membohongi mata tua ku ini anak muda, siapa kau??" kakek itu mencurigai Panji


"jangan coba coba membuat keributan di pulau ini anak muda"


"maaf jika aku mencurigai mu" kembali kakek tua itu bicara.


"tidak apa apa kek, aku mengerti" Panji tetap sopan pada kakek itu.


"tapi dari cara mu bicara, kau seperti nya dari golongan putih, atau semua itu hanya mulut manis saja??" kembali kakek itu bicara dan kali ini benar benar mencurigai Panji.


"terserah pada kakek mau menilai aku apa, karena aku sudah menjawab apa tujuan kemari, tapi kakek tak percaya"


"ya sudah lah" jawab Panji mengangkat bahu nya.


Sepuluh peserta telah maju ke babak selanjutnya. hari mulai meninggi dan penonton juga semakin riuh meneriakkan yel yel penyemangat.


Penasehat kerajaan maju.


"kita akan hentikan kompetisi sampai makan siang selesai, tapi setelah itu kompetisi akan kita lanjutkan"


"dan kami harapkan pemuda pemuda tangguh lain nya"


"silahkan nikmati hidangan yang telah di sediakan istana"


para penonton bubar dan menikmati hidangan yang di sediakan oleh istana, tujuan lain penduduk selain menonton adalah menikmati hidangan istana yang sangat jarang di nikmati.


Panji berjalan dan mendekati Gumilang.


Panji menepuk pundak Gumilang.


"dimana kuda ku??" tanya Panji pelan

__ADS_1


Gumilang kaget dan tersenyum.


"kuda mu??"


"seperti nya kau salah orang kawan, kuda hitam itu sekarang milik ku"


"seharusnya kau menerima bayaran yang aku berikan"


"untuk sekarang penawaran itu sudah tak berlaku" kata Gumilang memperlihatkan sifat asli nya.


"hhuhhh, kau telah salah memilih lawan"


"baik, untuk saat ini aku diam karena ini istana"


"tapi setelah keluar istana ini kau tak akan bisa berbuat apa apa" kata Panji.


"kau mengancam ku??"


"apa yang miliki untuk mengancam ku??" tanya Gumilang sombong.


"aku memiliki segala yang kau miliki, tapi kau tak akan memiliki apa yang aku miliki"


"tunggu saja, kau akan menangisi perbuatan mu ini" kata Panji dan pergi meninggalkan Gumilang yang masih mencerna arti kata kata Panji.


Makam siang berakhir dan kompetisi kembali berlangsung. Panji kembali duduk di bawah pohon, Panji sudah malas untuk menonton, Panji hanya menunggu sampai penonton keluar dan dengan begitu dia akan mengambil kuda nya dari Gumilang.


"tak ku sangka kau di sini juga anak muda" kembali Panji bertemu dengan kakek yang terus mencurigai nya.


Panji menatap kakek itu dan menghela napas panjang.


"seperti nya kakek mencurigai aku terus ya??"


"apa kakek akan terus memata matai aku??" tanya Panji.


"kau salah sangka anak muda, dari tadi aku sudah di sini"


"kau yang datang kemari" jawab kakek itu.


"benarkah itu??"


"aku merasa dari tadi tak ada orang di bawah pohon ini" gumam Panji


"itu benar, dari tadi aku sudah di sini"


"malah aku sengaja menunggu mu di sini" jawab kakek itu karena mendengar perkataan Panji


Panji kaget dan menatap kakek itu, Panji tak menyangka kakek tua itu memiliki pendengaran yang begitu tajam


"siapa kau kek??" tanya Panji.


"aku hanya kakek tua, dan akk....!!!"


"hahahahahah"


Suara tawa bertenaga dalam tinggi menghentikan pembicaraan Panji dan kakek tua itu. secara bersama sama mereka menatap ke arah panggung. di panggung berdiri seseorang yang begitu jumawa.


"aku menantang semua peserta yang lolos ke babak berikut nya"


*****


like n komen ya sahabat

__ADS_1


__ADS_2