
Sepuh Kesuma yang sudah merasakan tenaga dalam dewa sesat sangat kaget, dia langsung melesat ke arah eyang pariga.
"kita hadapi sama sama" kata sepuh Kesuma.
"percuma, kita bukan lawan nya" kata pariga yang masih ketakutan.
"kau takut??"
"baru kali ini aku melihat mu ketakutan eyang"
"mungkin ini jalan mu menuju alam terkahir" kata sepuh Kesuma
"aku ini, kau menginginkan aku mati dengan cara mengenaskan"
"baiklah, dengan memberikan nya satu atau dua luka itu sudah cukup menurut ku" kata eyang pariga bersemangat.
"blarrr..!!!"
Saat kedua nya berbincang dewa sesat mengirimkan pukulan jarak jauh, untung sepuh Kesuma dan pariga menghindar. pukulan jarak jauh itu langsung menghancurkan dinding istana.
Dua bayangan putih sama sama melesat dengan kekuatan penuh ke arah dewa sesat. Kesuma dan pariga menyerang bersamaan.
"ayo kemari lah, terima kematian kalian"
Dewa sesat sedikit pun tak memandang dua sosok sakti yang menyerang nya.
"bammmm...!!!!"
dua tangan dewa saat menahan pukulan dari Kesuma dan pariga, sedikit pun dia tak bergeming dari tempat nya.
"hiattt..!!!"
dewa sesat menambah tenaga dalam di kedua tangan nya, dan itu sudah cukup melemparkan Kesuma dan pariga. pariga yang memiliki tenaga dalam lebih tinggi dari Kesuma mampu menguasai diri nya, tapi beda dengan Kesuma, yang jatuh terjerembab.
"mati lah"
Dewa sesat bergerak bagaikan angin dan sudah berada di dekat sepuh Kesuma. tangan nya bergerak cepat mengincar leher sepuh Kesuma, sepuh Kesuma melompat menghindar.
dewa sesat tersenyum saja saat Kesuma menghindar dari serangan nya, Kesuma menghindar ke kanan tapi dengan mata terbelalak dan tak menyangka dewa sesat sudah menunggu nya di sana.
Sepuh Kesuma tak memiliki pilihan selain memapak tangan dewa sesat.
"prakkk...!!!!"
Sepuh Kesuma kalah jauh dalam tenaga dalam, dewa sesat menahan tangan sepuh Kesuma dan semua terjadi dalam sekejap saja.
Eyang pariga melesat terbang ke arah dewa sesat, tapi semua sudah terlambat. tangan dewa sesat telah mencengkeram kuat leher sepuh Kesuma.
Pariga berdiri mematung memandang tak berani menyerang.
"giliran akan tiba"
"krakkk..!!!"
mata sepuh Kesuma hampir keluar saat menahan sakit di lehernya. sepuh Kesuma tewas dengan mudah di tangan dewa sesat, tewas dengan leher patah.
"berikutnya giliran mu" kata dewa sesat dengan suara yang sangat serak menyeramkan.
Dewa sesat melemparkan mayat sepuh Kesuma ke arah pariga bagaikan benda tak berharga. pariga menangkap nya dan mayat sepuh Kesuma menghalangi pemandangan mata eyang pariga.
saat pariga menangkap tubuh sepuh Kesuma, tangan dewa sesat yang sudah di aliri tenaga dalam tinggi, bahkan tangan itu sampai berwarna merah karena pancaran tenaga dalam yang sangat besar.
__ADS_1
Tangan dewa sesat sudah mengarah ke arah eyang pariga. ayang pariga merasakan pancaran energi yang besar, setelah menangkap tubuh Kesuma, eyang pariga bersalto ke udara menghindari serangan dewa sesat.
tapi dewa sesat tak membiarkan begitu saja mangsa nya terlepas, belum bisa bernapas lega eyang pariga merasakan dewa sesat telah berada di dekat nya.
Eyang pariga menutup mata nya, pasrah karena memang sudah tak mampu lagi untuk menghindar.
"sampai jumpa di neraka" kata eyang pariga.
Tangan dewa sesat yang mengembang langsung menusuk masuk ke dada pariga tanpa tertahan, di dalam dada pariga dewa sesat memecahkan jantung pariga, pariga tewas dengan dada yang hancur dan bolong.
"sampaikan salam ku kepada dewa penjaga neraka"
"aku akan datang ke sana setelah aku membunuh bocah itu" kata dewa sesat bicara pada mayat pariga yang melotot.
"hahahahaha"
dewa sesat tertawa puas karena telah membunuh dua tokoh sakti golongan putih. dewa sesat tertawa bagaikan orang gila, dan perlahan lahan tubuh nya menghilang entah kemana.
*************
Seekor kuda hitam berlari dengan sangat cepat dan sampai di kota raja.
"itu kan panglima Andar??"
"apa yang telah terjadi dengan nya??"
"ayo kita bawa ke istana" kata seorang penduduk
para penduduk langsung menuntun kuda yang membawa panglima Andar.
"ada apa??"
"kenapa kalian ramai ramai menuju istana??" tanya prajurit penjaga gerbang
"panglima Andar??"
"bukan kah dia panglima yang jadi utusan yang mulia raja Satria ke benua putih??"
"buka gerbang..!!!"
Begitu gerbang terbuka penduduk kembali menuntun kuda dan prajurit langsung menurunkan panglima Andar yang terluka begitu parah.
"yang mulia, yang mulia"
"lapor yang mulia"
prajurit istana datang tergopoh gopoh dan menemui Panji yang sedang bersantai di taman istana.
"ada apa prajurit??"
"minum dulu..!!!" kata Panji dan memberikan secangkir air putih.
"panglima Andar yang mulia, panglima Andar"
kata prajurit itu masih tak bisa menguasai keadaan nya.
"panglima Andar??"
"bukan kah dia aku utus ke benua putih" kata Panji
"panglima Andar kembali dengan luka yang sangat parah" kata prajurit itu.
__ADS_1
"APAAA????"
Panji tak mempedulikan prajurit itu lagi, Panji langsung mengerahkan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuhnya. Panji melesat cepat bagaikan angin dan sudah sampai di halaman istana.
"yang mulai"
penduduk langsung berlutut saat menyadari kehadiran Panji.
"dimana panglima Andar??" tanya Panji cemas.
"sudah di bawa ke ruang pengobatan yang mulia" jawab prajurit.
Mendengar jawaban itu kembali Panji melesat bagaikan angin.
"cepat sekali gerakan yang mulia" puji para prajurit.
Panji sampai di ruang pengobatan dan melihat tabib istana sedang memeriksa keadaan panglima Andar. di sana juga ada Mahapatih Demar.
"yang mulia" tabib istana dan Mahapatih langsung memberi hormat saat menyadari kedatangan Panji.
"bagaimana keadaanya tabib Somali??" tanya Panji pada tabib istana.
"sangat parah yang mulia, dan aku tak akan mampu menyelamatkan nyawa nya"
"luka nya terlalu parah, racun dari luka nya hampir menggerogoti jantungnya" kata tabib Somali
Panji berjalan ke arah panglima Andar.
"awas sedikit, aku mau memeriksa keadaan nya"kata Panji
Tabib Somali dan Mahapatih Demar memberi ruang untuk Panji.
Panji menempelkan telapak tangan nya di dada panglima Andar. Panji menyalurkan hawa murni nya untuk membantu mempertahankan hidup panglima nya itu.
"tabib, siapkan bahan bahan ini"
Panji menyebutkan beberapa macam tanaman obat.
Tabib Somali hanya diam tak menjawab, dia berpikir untuk apa semua itu, yang dia tahu raja nya itu tak mengerti ilmu pengobatan.
"kenapa diam saja??"
"cepat siapkan" kata Panji dengan suara yang keras.
"ba..baik yang mulia" kata tabib Somali sangat gugup.
"apa yang mulia akan mengobatinya??" tanya Mahapatih Demar tak percaya.
"iya paman, aku akan berusaha mengobatinya" jawab Panji
"apa yang mulia mengetahui ilmu pengobatan??"
"iya paman, aku belajar ilmu pengobatan dari raja obat" jawab Panji.
"raja obat??"
"siapa dia??" gumam Mahapatih Demar berpikir panjang.
"memang raja yang penuh misteri"
************
__ADS_1
like n komen ya sahabat.