
Di sebuah alam yang begitu luas tanpa batas seorang pemuda membuka matanya.
"aku dimana??"
Pemuda itu memandang ke sekelilingnya, tapi yang nampak hanya awan putih, pemuda itu berjalan dan mencari orang yang bisa di tanya, tapi sampai lelah mencari dia tetap tak menemukan apa pun kecuali awan putih dan lembah lembah gersang.
"aku dimana sih sebenarnya??" gumam pemuda itu.
Saat pemuda itu termenung merenung tentang keberadaan nya sesosok bayangan menyerang nya dengan membabi buta. tapi dengan langkah langit pemuda itu mampu menangkis dan menghindari semua serangan pembokong itu.
"apa maksud mu meny.!!!"
"raja kematian???"
Pemuda yang ternyata Panji kaget bahkan mundur ke belakang saat melihat orang yang menyerang raja kematian Habiyang.
"hahahahah"
"di sini aku akan membalas kekalahan ku" kata raja Kematian.
"kau masih ingin mencoba"
"baik..!!" Panji menerima tantangan raja kematian.
"hiatttt..!!"
Panji melesat dan memberi pukulan keras ke dada raja kematian, pukulan itu begitu telak, tapi di luar dugaan pukulan Panji mental dan seperti membentur karet tebal. Panji terdorong dan terlempar karena pukulan nya menghantam kembali ke tubuhnya.
"hahaha, ternyata kau belum mati"
"dan aku akan memastikan kematian mu di sini" kata raja kematian dan menyerang Panji.
Panji tak berani melawan karena setiap serangan nya kembali kepadanya dan itu membuat nya semakin terdesak.
"brakkk..!!!"
pukulan raja kematian menyentuh punggung Panji, pemuda itu terdorong jauh, dan dia merasakan seluruh tubuhnya rasa nya remuk.
"huaakkk..!!!"
"kau bagaimana bisa menyerang ku??" tanya Panji dengan mulut berlumuran darah.
"hahahah, aku sudah mati, sedangkan engkau masih dalam tahap mendekati kematian"
"tapi aku akan memastikan kematian mu di sini"
raja Habiyang kembali menyerang Panji, saat serangan nya hampir mengenai Panji sosok putih menahan serangan raja kematian.
"kau....!!!"
raja kematian mundur saat melihat sosok putih yang membantu Panji.
"kenapa Habiyang??"
"apa kau masih ingin berbuat kehancuran walaupun kau sudah mendekati neraka??" tanya sosok itu.
__ADS_1
"diamm..!!!"
raja Habiyang memilih mundur dari pada harus bertarung dengan sosok itu, lagian karena kehadiran sosok itu Panji akan mampu memukulnya, itu alasan utama raja Habiyang meninggalkan Panji dan sosok itu.
"resi Raspati???" Panji kaget karena dapat bertemu kembali dengan resi yang telah meninggal itu.
"aku berada dimana resi??" tanya Panji.
"saat ini kau berada di alam roh, jiwa mu mengembara karena pukulan dewa sesat"
"tapi percaya lah semua itu sudah kehendak dewa"
"ayo ikuti aku, aku akan mempertemukan mu dengan dewa bumi" kata resi Raspati.
Resi Raspati terbang dan di samping nya Panji mengikuti, Panji melihat begitu banyak sosok yang di kenal nya dan memandangnya dengan tatapan sinis, merek ingin rasanya mengoyak tubuh Panji. dari gagak Ireng, pendeta sesat dan raja Habiyang Panji melihat merek berkumpul seperti menunggu sesuatu.
"apa yang di lakukan tokoh hitam di sini resi??" tanya Panji.
"mereka menunggu giliran untuk reinkarnasi"
"Reinkarnasi??"
"apa mereka akan bereinkarnasi tetap menjadi sosok hitam juga??" tanya Panji.
"tidak, tergantung kepada mereka"
"asal kau tahu hitam dan putih harus seimbang, agar benua tetap stabil"
"kita sudah sampai, mari temui dewa bumi" kata resi Raspati.
Resi Raspati membawa Panji memasuki sebuah ruangan yang begitu hangat, bahkan bisa di bilang panas.
"ohohohoho, akhirnya aku bertemu dengan mu"
"kau sungguh berani membebaskan dewa sesat"
"apa kau ingin kehancuran pada benua mu??" tanya dewa bumi.
"tidak dewa, aku ingin membebaskan benua ku dari ketakutan yang terjadi, setiap seribu tahun akan terjadi perang besar"
"aku tak ingin anak cucu ku mengalami nya dewa" jawab Panji.
"tapi kau telah membangkitkan dewa sesat, percuma usaha mu itu" dewa bumi.
"aku akan membunuhnya" kata Panji.
"apa kau yakin??"
"membunuh dewa bukan perkara mudah, dia itu tetap dewa walaupun telah membelot, jika kau membunuh nya kau akan mendapat kutukan dari raja dewa, apa kau siap menerima kutukan itu anak muda??" tanya dewa bumi ingin melihat keteguhan Panji.
"seberapa sakit pun kutukan itu akan aku lalui dewa, tapi apa yang bisa aku lakukan untuk membunuh dewa sesat??" tanya Panji.
"hanya satu senjata yang mampu membunuh dewa sesat, pedang dewa"
"pedang dewa??"
__ADS_1
"dimana aku menemukan pedang itu??" tanya Panji
"asal kau tahu empat senjata dalam tubuhmu merupakan pecahan dari pedang dewa, tapi pecahan terakhir telah di bawa dewa perang ke istana dewa, aku tak tahu apakah dewa perang akan memberikan senjata nya untuk mu"
"maksud nya bagaimana dewa??" tanya Panji.
"dewa sesat dahulu sudah dikalahkan oleh dewa perang dengan pedang dewa, setelah membunuh dewa sesat, dewa perang memecah pedang dewa"
"empat pecahan pedang dewa sekarang ada dalam diri mu, sementara satu pecahan lagi yaitu tombak gading putih di bawa dewa perang dan di jadikan nya senjata nya sampai hari ini"
"apa kau paham??" tanya dewa bumi.
"jadi bagaimana aku akan melawan dewa sesat jika pedang dewa tak aku miliki??"
"percuma kau melawan nya tanpa pedang dewa"
"aku akan memohon kepada raja dewa untuk meminta kepada dewa perang, aku yakin raja dewa akan membantu"
"lalu bagaimana cara melebur kembali pedang dewa??" tanya Panji.
"pergilah ke pulau pelangi, temui Ki Sranggilangit di gunung Merbabu, minta kepada nya untuk melebur semua senjata mu menjadi pedang dewa"
"hanya dia yang memiliki kemampuan seperti dewa yang mampu melebur semua senjata dewa menjadi pedang dewa" kata dewa bumi.
"Ki Sranggilangit??"
"gunung Merbabu??"
"pulau pelangi??" Panji menyebut nya untuk mengingat semuanya.
"sekarang kembali lah, saat aku berhasil mendapatkan tombak gading putih, aku akan mendatangi lagi"
Dewa bumi menjentikkan jari nya, selarik sinar putih menyelubungi seluruh tubuh Panji dan tubuhnya di tarik masuk ke dalam sebuah lubang, setelah itu semua nya gelap.
Di alam nyata, tubuh Panji jatuh dari ketinggian tapi dengan cepat mahapatih Demar menangkap tubuh raja nya itu. Mahapatih Demar kembali membaringkan Panji.
"yang mulia??" kata Mahapatih Demar bersorak saat melihat Panji membuka matanya.
"Mahapatih??"
"aku dimana??" tanya Panji.
"yang mulia sudah dalam istana, tiga hari yang mulia tak sadarkan diri, seluruh rakyat gelisah menunggu kesadaran yang mulia" kata Mahapatih Demar.
"tiga hari??"
"aku merasa hanya beberapa saat saja di sana" gumam Panji.
"dimana yang mulia??" tanya Demar heran.
"eh bukan dimana mana"
"Suruh dayang siapkan makan, aku lapar"
"hahahah, yang mulia ternyata merasakan lapar juga" kata Mahapatih Demar dan menyuruh prajurit menyiapkan makan untuk raja Satria.
__ADS_1
"Ki Sranggilangit, gunung Merbabu, pulau pelangi"
"besok aku akan menanyakan itu kepada Demar, saat ini aku masih harus istirahat"