
"Sesulit apa dan sepenting apa pun urusan mu coba lah menikmati hidup mu"
Panji teringat akan kata kata eyang Sasongko.
"menikmati hidup ya??" gumam Panji
"baiklah"
Panji yang berniat terbang memilih untuk berkuda, dan berjalan menuju tempat penjualan kuda.
"paman, aku ingin seekor kuda"
"kuda ya, silahkan lihat sendiri"
penjual kuda itu menyadari Panji seorang pendekar karena melihat pedang yang tersarung di punggung Panji.
Panji berjalan dan melihat lihat kuda yang ingin di pilih nya. setelah melihat dan memilih Panji memutuskan untuk membeli seekor kuda abu abu.
"aku pilih kuda itu paman" tunjuk Panji
"kuda itu ya??"
"aku bukan nya tak memberikan nya tapi kuda itu sudah lama tak memiliki tuan"
"banyak yang ingin membelinya tapi dia sepertinya memilih tuan nya sendiri"
"kalau kau mau silahkan kau ambil sendiri" kata penjual kuda
"baiklah, aku akan mencobanya paman"
Panji mendekati kuda abu abu itu.
"apa kau mau menjadi teman ku, dan berpetualang bersama ku??"
Panji berbicara dengan kuda itu.
"aku akan memberikan nama untuk mu"
"apa ya??"
"kilat ya nama mu si kilat, bagaimana??"
"huueeekkkk"
kuda itu mangguk mangguk kepalanya.
"sepertinya kau suka ya??"
"baik aku akan membawa mu dan memberimu rumput yang segar"
"mari"Panji menarik tali kekang si kilat.
penjual kuda itu tersenyum dan menepuk bahu Panji.
" ternyata kau yang di tunggu kuda ini"
"tunggu di sini sebentar"
penjual kuda itu masuk ke rumah nya dan membawa sebilah golok dan sebuah buntalan kain kosong.
"empu terakhir kuda ini berpesan, aku harus menyerahkan golok petir ini untuk yang bisa menjinakkan kuda nya" kata penjual kuda dan menyerahkan golok petir kepada Panji.
"golok petir??"
"jangan jangan ini jodoh jurus jurus halilintar ku"
"tak ada salah nya mencobanya"
Panji menarik golok matahari dari sarung nya.
"blaaarrrr"
petir langsung menyambar begitu Panji mengeluarkan golok itu. dan tubuh Panji langsung di masuki aliran petir yang sangat besar, tapi karena tubuh Panji telah memiliki elemen petir tubuhnya dengan cepat merespon energi itu dan menyimpan energi itu.
"elemen petir ku semakin kuat"
"terima lah ini" kata penjual kuda lagi dan memberikan buntalan usang pada Panji.
Panji membuka buntalan itu dengan antusias dan menemukan kitab usang.
jurus jurus petir
__ADS_1
"apaaa??"
"ini jurus jurus petir tingkat tinggi"
"dan ini lanjutan dari jurus jari petir dan tapak petir"
"luar biasa"
"aku akan mempelajari jurus jurus ini dalam perjalanan ku" kata Panji berbicara sendiri.
"dengan ini tugas ku berakhir"
"akhirnya ada juga penerus mu guru" kata penjual kuda itu
"guru??"
"maksud paman apa??" tanya Panji heran
"pemilik golok itu seorang pendekar terhebat dari benua kuning"
"dia di juluki pendekar petir, kedigdayaan nya sempat menggegerkan seluruh benua, tapi setelah dia mengundurkan diri tak ada satu pun yang bisa memiliki golok petir dan elemen petir secara sempurna"
"jadi guru berpesan siapa saja yang bisa menjinakkan kudanya pasti dia memiliki elemen petir yang tinggi"
"kenapa paman tak mencoba memilik golok ini??" tanya Panji
"hahahaha, sejak aku mendapat amanah dari guru sudah puluhan bahkan ratusan kali aku mencoba menarik golok itu"
"tapi aku tak berjodoh dengan golok itu"
"aku belum tahu nama mu anak muda??"
"nama ku Panji paman"
penjual kuda itu melihat dan memperhatikan ciri ciri Panji dan mundur beberapa langkah.
"kau si pengacau itu"
"luar biasa aku bisa bertemu dengan mu"
"pengacau??"
"apa maksud paman??"
"pengacau dari benua hitam"
"apa??"
"pengacau dari benua hitam??"
"julukan yang aneh" gumam Panji
"tapi tak buruk, ya kan paman??"
"hahaha, kau sangat menarik anak muda"
"apa alasan mu mengacau di benua itu??"
"keberanian mu itu membuat orang berpikir kau itu gila"
"suatu saat paman akan mengetahui nya"
"aku akan meneruskan perjalanan ku paman"
"mari kilat"
Panji menarik tali kudanya, kuda mengikuti bahkan mendekat dan menjilati Panji karena mendapatkan tuan baru.
"teruskan perjuangan pendekar petir Panji"
"guru ku itu harus kau harumkan julukan nya"
"pasti paman"
"paman lebarkan lah telinga paman tak lama lagi pendekar petir akan kembali terdengar"
"baikkkkk"
"aku menunggu nya"
"guruuuu"
__ADS_1
"penerus mu telah datang"
"saksikan lah dari sana dia akan meneruskan perjuangan mu" teriak penjual kuda itu berlinangan air mata menangis bahagia dan terharu.
"aku tak menanyakan nama paman itu"
"kenapa aku begitu tak berbudi kilat??"
Panji bicara kepada kuda nya.
"huueeekkkk"
"pergilah makan"
"kita akan istirahat di sini"
"aku akan mempelajari jurus jurus petir ini"
Panji bersujud untuk pendekar petir.
"pendekar petir"
"aku akan meneruskan perjalanan mu dan melanjutkan perjuangan mu"
"aku akan memastikan seluruh benua ini akan damai"
Panji membuka kita petir dan melihat ada tujuh jurus.
"tiga jurus sudah aku kuasai, sisa empat lagi"
"sekarang aku akan meneruskan jurus ke tiga"
"Sambaran petir"
Panji memainkan jurus berat seperti dalam kitab petir.
Sampai jurus ke enam Panji tak menghadapi kendala apa pun.
"pukulan halilintar ini memang jurus pamungkas dari jurus petir ini"
"aku tak menyangka akan mendapatkan salah satu jurus terhebat selain jurus tarian naga"
Panji mengulangi semua jurus jurus petir dari jurus pertama jari petir sampai jurus pamungkas pukulan halilintar. tempat latihan Panji porak poranda hangus karena pukulan elemen petir Panji begitu kuat.
"dengan ini aku semakin yakin mampu menghadapi panglima panglima benua kegelapan"
"bersiap lah menghilang dari seluruh benua ini"
"dan aku juga sudah memutuskan akan membunuh raja kematian"
"aku tak akan menyegelnya"
"karena aku tak tahu bagaimana keadaan seribu tahun yang akan datang"
"siap siap lah kalian" teriak Panji
"saat nya menemui Ki Jabat"
"kilattt"
Panji memanggil kudanya, mendengar teriakan itu kilat langsung datang.
"bawa aku ke kota"
"berlari lah seperti kilat"
Panji melompat ke punggung si kilat dan memegang tali kendali nya.
"wuuuuussss"
kuda itu benar benar seperti namanya, melaju dengan kencang seperti kilat.
"kuda yang luar biasa"
penampilan Panji juga sudah berubah, dari awalnya pedang darah di punggungnya mengeluarkan hawa kejahatan, tapi karena pedang telah di simpan di kantong semesta dan di ganti golok petir membuat aura dari tubuh Panji berubah menjadi hangat seperti matahari pagi.
saat sore Panji sampai di kota, kota raja ibu kota kerajaan Bintang kejora. saat ini Panji berdiri di depan sebuah gedung sederhana.
"paman, apa paman mengetahui di mana Ki Jabat??" tanya Panji kepada penjaga.
dua penjaga pintu memandang Panji.
__ADS_1
"masuk lah, dan jangan sebut nama Ki Jabat sembarangan"
"ehhhh"