Perjalanan Menuju Langit

Perjalanan Menuju Langit
eps 165 utusan dari langit


__ADS_3

Jarak antara Agatha dan Panji hanya beberapa langkah, jari merah membara Agatha siap untuk menebas leher Panji.


"sleppp...."


Jari Agatha bergerak cepat, dalam waktu yang sepersekian detik nyawa Panji akan melayang.


"tranggg...."


Sebuah pedang menahan jari Agatha dan itu membuat Agatha mundur dan menarik jari nya sebelum jari nya putus terpisah dari tubuhnya.


Waktu yang sepersekian detik itu di pergunakan oleh Panji untuk dengan terpaksa memakai pedang dewa demi menyelamatkan selembar nyawa di tubuhnya.


Agatha bersalto mundur dan dengan mulus menghindar menjauhi Panji.


"senjata dewa??" desis Agatha tak percaya kalau Panji mengeluarkan senjata terkuat di seluruh alam semesta. wajah nya pucat tapi itu hanya sesaat, setelah itu Agatha mampu menguasai keadaan nya.


Keterkejutan Panji lebih dari Agatha, Panji tak menyangka ada orang lain di benua ini yang mengetahui tentang senjata dewa.


"siapa kau sebenarnya??" tanya Panji masih waspada. pedang dewa di silangkan di depan dada nya. meskipun itu hanya sedikit berpengaruh mengurangi tekanan dari aura Agatha.


"seperti nya kau memang yang telah membunuh dewa Alimpa"


"senjata dewa itu sudah cukup membuktikan nya" kata Agatha.


Setelah mengucapkan itu Agatha menarik semua aura yang menekan Panji sejak awal pertarungan. Panji merasakan kembali keadaan nya seperti sedia kala saat Agatha menarik aura penekanan kepada Panji


"kau memang luar biasa, sebagai manusia biasa kau mampu bertahan dari serangan ku"


"aku cukup terhibur" kata Agatha entah memuji atau menghina hanya Agatha yang tahu.


"aku tak tahu apakah itu pujian atau apa, yang pasti nya jika anda menyerang ku dengan serius aku mungkin tak akan bertahan dalam satu serangan" jawab Panji.


Panji yang sudah tak merasakan aura bertarung dari Agatha memutuskan untuk menyembunyikan senjata dewa ke dalam kantong semesta.


"kalau aku serius??"


"hahaha, kalau aku serius kau akan tewas sebelum kau menyadari serangan ku"


"kau memang kuat, terkuat dari seluruh manusia saat ini"


"tapi bagiku kekuatan mu itu hanya seperti kekuatan nyamuk"


"sekali tepuk akan tewas"


Panji tersenyum pahit.


"seperti nya yang di hadapan ku bukan sebangsa kami??"


"kalian bukan manusia??"


"iya kan??" tebak Panji


"tebakan mu tak sepenuh nya salah"


"tapi juga benar"


"maksudnya??"


"seperti yang kau lihat, saat ini kami manusia"


"jadi tebakan mu sudah salah"


"tapi jika bangsa, kami tak di anggap bangsa, atau pun ras" kata Agatha.


"jadi kalian ini apa??" tanya Panji


"kau seperti nya sudah pusing memikirkan kami siapa"

__ADS_1


"kami kemari memang hanya untuk menguji mu apa benar kau yang telah membunuh dewa Alimpa"


"kami utusan dari langit"


"utusan raja dewa"


"utusan raja dewa??"


"ya, aku dewa perang Agatha, orang pertama yang menggunakan senjata dewa" jawab Agatha dan memainkan jarinya.


Saat Agatha memainkan jarinya seperti menarik sesuatu, pedang dewa keluar dan sudah tergenggam di tangan Agatha.


Panji hanya geleng kepala.


"sekarang aku sadar perbedaan kekuatan kita, kekuatan mu jauh lebih kuat dari pada dewa Alimpa" Panji mengakui kekuatan dewa perang Agatha.


"hahahah, aku menyukai kejujuran nya, tapi seandainya raja dewa tak mengunci setengah kekuatan dewa Alimpa atau jika dewa Alimpa sudah memiliki semua tenaga dalam nya, kau bukanlah tandingan nya"


"asal kau tahu, saat bertarung dengan mu, dewa Alimpa belum sepenuhnya mendapatkan kembali tenaga dalam nya"


"mungkin baru seperempat yang sudah di pulihkan nya"


"jadi saat kalian bertarung, dewa Alimpa tak dalam kondisi prima"


"apa??"


"dewa Alimpa tak dalam kondisi prima??"


"iya, kalau dia dalam kondisi terbaik nya, kau hanya mainan bagi dewa Alimpa"


Panji terdiam dan membayangkan jika dewa Alimpa dalam kondisi prima, mungkin dia sudah tewas.


"jadi apa tujuan kalian kemari??" tanya Panji.


"seperti yang sudah kami katakan, kami utusan dari raja dewa"


"jadi kami tak sembarangan kemari jika bukan karena hal yang sangat penting"


"kau mengerti bukan??"


"iya kau mengerti, pasti kedatangan kalian karena aku membunuh dewa Alimpa bukan??" tanya Panji.


"tepat, kau cukup pintar juga ya"


"seperti nya kau juga sudah mengetahui konsekuensi dari membunuh dewa, meskipun dewa Alimpa dewa yang membelot, tapi tetap saja kau akan mendapatkan hukuman" kata dewa perang Agatha.


"hukuman apakah itu dewa??"


"aku siap menanggungnya" jawab Panji pasrah.


"Siap atau tidak itu sudah menjadi hukuman bagimu"


"kami para dewa akan memberikan mu tiga kutukan"


"dan itu harus kau jalani" kata dewa perang Agatha.


"iya kau tahu, aku tahu aku akan menjalani tiga kutukan"


"apa saja itu wahai dewa??" tanya Panji.


"sebelum kami memberikanmu kutukan apa yang harus kau jalani, terlebih dahulu kami memberikan kesempatan untuk meminta sesuatu kepada kami"


"para dewa juga berterima kasih karena kamu sudah membunuh dewa yang membelot"


"silahkan katakan permintaan mu"


"aku tak akan meminta sesuatu, tapi aku ingin menanyakan sesuatu"

__ADS_1


"menanyakan sesuatu??"


"tanyakan..." pinta dewa perang


"apa itu simbol iblis dan bagaimana cara membunuh iblis Gondomayit??" tanya Panji


"itu sudah dua pertanyaan, hanya satu saja yang akan aku jawab"


"tidak, aku ingin para dewa menjawab nya"


"aku mohon" pinta Panji.


"kenapa kau ingin mengetahui tentang iblis Gondomayit??"


Panji tak menjawab tapi membuka baju nya.


"dewa Alimpa memberikan aku warisan ini"


"dewa Alimpa bukan membelot, tapi terpaksa membelot" kata Panji dan menutup kembali baju nya.


"begitu ya??" gumam dewa perang Agatha sambil mengelus jenggot putihnya.


"hahahaha, kau sudah di jebak oleh dewa Alimpa"


"baiklah, aku akan menjawab pertanyaan mu untuk mengganti kesalahan dewa Alimpa yang sudah menjebak mu"


"dengarkan baik baik"


"simbol iblis Gondomayit simbol orang pilihan yang akan menjadi penerus tangan nya di benua, tangan nya untuk menghancurkan kebaikan"


"cara untuk membunuhnya hanya dengan jika kau memiliki kekuatan seperti dewa"


"ada tiga senjata yang harus kau cari untuk membunuh nya"


"pedang panas matahari"


"pedang dingin bulan"


"dan pedang ini" kata dewa perang Agatha menunjukkan pedang dewa kepada Panji.


"pedang panas matahari??"


"pedang dingin bulan??"


"dimana senjata itu berada??" tanya Panji.


"hahahaha, kau tak mengetahui apa yang dewa tahu anak muda"


"sebelum kau menanyakan itu, semua sudah kami ketahui"


"dan semua sudah ada dalam rencana para dewa"


"sebaiknya kau bersiap saja menjalani kutukan mu"


"karena kutukan mu berhubungan dengan semua yang kau tanyakan"


"kutukan berhubungan dengan semua yang aku tanyakan??"


"bagaimana bisa??" tanya Panji.


"kami dewa, dan kami bisa melakukan apa pun"


"jika iblis Gondomayit membuatmu utusan nya, kami juga akan membuat mu jadi utusan kami"


"kau akan jadi tangan kami untuk membunuh iblis Gondomayit" kata dewa perang Agatha.


"aku jadi utusan iblis dan utusan dewa??" gumam Panji bingung.

__ADS_1


***************


like n komen ya sahabat.


__ADS_2