
Panji mulai merasakan tubuhnya, pemuda itu membuka matanya dan dia telah berada di atas tempat tidur. Panji memandang ke sekeliling nya, raja muda itu berpikir bagaimana bisa dia sampai di tempat itu.
"aku dimana??"
"siapa yang telah membawa ku kemari??"
Panji bangkit dan dia merasakan tubuh nya terasa sangat ringan, luka di tubuhnya juga telah mengering.
"kau sudah sadar anak muda??"
Panji kaget karena suara itu dan menatap ke arah pintu. di pintu berdiri seorang lelaki yang seperti nya sudah sangat sepuh, jenggot nya saja sudah panjang dan memutih, di tambah baju usang yang di pakai nya semakin memperlihatkan usia nya yang sudah sangat tua.
"terima kasih sudah menolongku eyang" kata Panji.
"aku hanya sedikit membantu mu dan hanya mengobati luka luar mu saja, selebihnya karena memang semangat hidup mu yang begitu besar" jawab kakek itu.
"aku sebenarnya berada di mana eyang??"
"sangat banyak keanehan di tempat ini??" tanya Panji
" kau berada di kaki gunung Merbabu anak muda" jawab lelaki itu.
"Panji, nama saya Panji eyang"
"hehehehe, Panji ya"
"kau bukan manusia kutukan, apa tujuan kemari??" tanya lelaki itu.
"tujuan ku??"
"apa eyang yang bernama Ki Sranggilangit??" tanya Panji
"hey, dari mana kau tahu tentang Ki Sranggilangit??"
"siapa kau??" lelaki itu balik bertanya.
"sebelum aku jawab, apa eyang yang bernama Ki Sranggilangit??" tanya Panji ingin tahu.
"bukan, Ki Sranggilangit ada di puncak gunung Merbabu"
"sekarang jelaskan kau siapa??" tanya lelaki itu.
"aku kemari untuk menemui Ki Sranggilangit atas perintah dewa bumi" kata Panji.
Setelah itu Panji menceritakan semua nya awal pertarungan dengan raja kematian dan juga kebangkitan dewa sesat.
"kau ceroboh, seharusnya kau cukup menyegel raja kematian, kau telah melawan siklus dewa" kata lelaku itu sedikit menyesal karena Panji membunuh raja kematian.
"aku tak ceroboh eyang, aku memang sudah memutuskan nya untuk membunuh raja kematian, dan juga akan membunuh dewa sesat" jelas Panji.
"apa yang membuat mu berani mengambil keputusan itu, sementara orang orang sebelum kamu tak ada yang berani??" tanya lelaki itu.
"aku memikirkan anak cucu ku di masa depan eyang"
"aku tak menjamin seribu tahun yang akan datang anak cucu ku masih memiliki kemampuan seperti manusia sekarang"
"dan jika raja kematian kembali terbebas dari segel nya dan tak ada yang menghentikan nya seluruh benua akan dalam genggaman nya" jelas Panji
"kau terlalu berani mengambil resiko itu, jika kau membunuh dewa sesat kau akan mendapat kutukan"
"mungkin aku tak akan mengambil resiko seperti yang aku ambil Panji"
__ADS_1
"aku salut kepada mu"
"terima kasih eyang"
"baik, melihat semangat mu aku akan menemani mu menuju puncak gunung Merbabu"
"dengan aku di samping mu tak akan ada yang akan menganggu langkah mu"
"terima kasih eyang, terima kasih"
"tapi sebelum eyang ini siapa??" tanya Panji.
"ohohoho, dari tadi aku belum memperkenalkan diri ku ya"
"dulu orang orang menyebutku dewa obat"
"tapi itu hanya julukan saja" jawab lelaki yang ternyata dewa obat.
"dewa obat??"
"dimana aku mendengat nama itu??" gumam Panji mencoba mengingat.
"hahahaha, kau tak pernah mendengar nama ku anak muda, aku hidup ratusan tahun yang lalu, orang benua sekarang tak akan ada yang tahu tentang diri ku" kata dewa obat.
"akkkhhh, aku ingat, eyang Sasongko"
"apa eyang mengenal eyang Sasongko??" tanya Panji.
"Sasongko??"
"bagaimana kau mengenalnya??" dewa obat sangat kaget saat Panji menyebut eyang Sasongko.
Karena pertanyaan itu membuat Panji kembali harus menceritakan tentang pertemuan nya dengan eyang Sasongko.
"ternyata kau bukan pemuda sembarangan"
"tak ada salah nya aku memberikan mu sedikit bekal mengarungi dunia persilatan"
"ini terima lah"
Dewa obat memberi segumpal gulungan kecil kepada Panji.
"apa ini eyang??" tanya Panji.
"lihat saja, tak perlu banyak bertanya" jawab dewa obat.
Panji membuka gulungan itu.
"kitab seribu satu obat"
Panji terbelalak karena kitab yang sekarang ada di tangan nya merupakan kitab dari cikal bakal ilmu pengobatan di dunia persilatan.
"apakah eyang yakin akan memberikan ini kepada ku??" tanya Panji tak yakin.
"simpan lah sebelum aku berubah pikiran"
"hanya itu yang bisa aku berikan untuk mu"
"pelajari dan pergunakan dengan baik baik" kata dewa obat.
"baik, terima kasih eyang" kata Panji dan menyimpan nya di balik baju nya.
__ADS_1
"seandainya aku bisa menggunakan kantong semesta di sini, sudah pasti gulungan berharga ini aku sembunyikan di situ" gumam Panji.
Panji dan dewa obat masih terus berbicara.
"bersiaplah kita akan berangkat sekarang" kata dewa obat tiba tiba.
"sekarang??"
Panji tak menyangka dewa obat akan mengajak nya pergi dengan tiba tiba.
"iya sekarang, saat ini semua makhluk buas sedang tidur, jadi hanya saat ini kita akan ada waktu melewati daerah kekuasaan mereka" jelas dewa obat
Walaupun Panji tak mengerti tapi Panji memilih mengikuti perkataan dewa obat. untuk saat ini Panji hanya bisa mempercayakan segala nya kepada dewa obat.
Dewa obat mulai berjalan, langkah nya terlihat pelan tapi Panji harus berlari untuk mengikuti langkah kakek sepuh itu.
"cepatlah, atau kau akan aku tinggalkan"
"aduh eyang, aku sudah sampai keringatan mengejar mu" kata Panji.
"apa kau tak memiliki ilmu meringankan tubuh??" tanya dewa obat.
"aku memiliki nya, tapi di tempat ini semua kemampuan ku seperti tak berguna" jelas Panji
"dasar kau Sranggilangit, segel nya memang sangat kuat" gumam dewa obat
Dewa obat menyentuh kening Panji.
"sekarang pergunakan ilmu meringankan tubuhmu, aku sudah menghapus segel penutup Ki Sranggilangit dari tubuhmu" kata dewa obat
"eh semudah itu kah??" kata Panji dan mencoba menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Panji mulai melayang mengikuti dewa obat.
"apa kau tahu, tubuhmu sekarang sudah memiliki api naga??" tanya dewa obat.
"api naga??"
"apa itu??" Panji tak mengerti
"buah yang kau makan itu adalah buah api"
"dan sini itu di sebut buah api naga"
"itu akan memperkuat elemen api dalam tubuh mu"
"saat kau kembali ke benua kau akan merasakan perbedaan nya"
"itu juga akan berpengaruh dalam pertarungan mu nanti melawan dewa sesat.
"bersiap lah kita sudah sampai di pendopo Ki Sranggilangit.
"bersiap untuk apa??"
Belum hilang ucapan Panji dua manusia bertopeng telah menghadang langkah mereka.
"pergunakan seluruh kemampuan mu, yang ada di sini membunuh dan di bunuh" teriak dewa obat dan menyerang salah satu dari dua orang yang menghadang mereka.
"baik, aku siap untuk bertarung"
*******
__ADS_1
Like n komen ya sahabat.