
Panji terus mengasah kemampuan tenaga dalam dan kekuatan tenaga bathin nya, semua nya akan berpengaruh saat pertempuran melawan dewa sesat.
Setiap Panji berlatih selalu terjadi perubahan yang begitu nyata di sekitar kerajaan yang telah sepi. panas, dingin, angin ,air hujan datang silih berganti serta retakan retakan kecil di tanah. itulah lima unsur elemen yang di miliki oleh Panji.
Persiapan yang Panji siapkan semata mata hanya untuk melawan dewa sesat.
"yang mulia, mengapa yang mulia tak pernah berlatih dengan pedang dewa??" tanya Mahapatih Demar.
"aku tak ingin dewa sesat merasakan energi pedang dewa"
"jika dia merasakan energi nya maka dia akan bertarung dengan serius dari awal"
"aku akan menggunakan pedang dewa sebagai serangan kejutan" jawab Panji.
"jadi sekarang dimana pedang dewa yang mulia??"
"aku tak pernah lagi melihat nya"
"aku menyimpan nya di kantong semesta Mahapatih"
"kenapa??"
"apa paman masih ingin mencoba memegang nya??" tanya Panji
"tidak yang mulia, aku tak berani"
"itu sungguh pedang yang mengetahui siapa tuan nya"
"kenapa yang mulia tak menyimpan di tubuh yang mulai??" lanjut Mahapatih Demar dengan pertanyaan nya.
"tubuhku tak kuat paman"
"aku sudah mencoba nya, tapi kekuatan dari pedang dewa terlalu besar" jawab Panji
Mahapatih Demar sedikit kaget dengan jawaban Panji
"kenapa paman??"
"paman sepertinya kaget??"
"aku mengenal yang mulia, dan yang mulia lah manusia terkuat saat ini"
"saat yang mulia mengatakan tubuh yang mulia tak kuat menahan kekuatan pedang dewa, aku tak mampu membayangkan bagaimana besar nya kekuatan dari pedang dewa"
"sungguh pedang yang luar biasa" gumam Mahapatih Demar.
"pastilah mahapatih, pedang dewa penyatuan dari lima pusaka langit"
"jadi sudah pasti sangat kuat, di tambah dengan tambahan kekuatan dari Ki Sranggilangit, membuat pedang dewa benar benar senjata terkuat saat ini" jawab Panji.
"glaaarrrr...!!!!"
Petir membahana di kejauhan.
"dia semakin dekat paman" kata Panji.
"apakah dewa sesat maksud yang mulia??" tanya Mahapatih Demar.
"iya paman, tapi untuk saat ini dia berdiam diri"
__ADS_1
"aku tak tahu apa yang di lakukan nya, atau apa mungkin dia masih belum menguasai sepenuhnya seluruh kekuatan nya" kata Panji.
"itu bisa jadi yang mulia"
"kalau begitu bukankah ini waktu yang pas untuk menyerang nya yang mulia"
"tidak paman, aku akan bertarung dengan segenap kekuatan ku, dan aku harap dewa sesat juga begitu"
"kami akan bertarung secara ksatria"
"aku harap paman jangan ikut campur nanti ya"
"tapi yang mulia??"
"jangan membantah, kau hanya akan mengalihkan perhatian ku saja"
"aku harap paman mengerti" kata Panji
"baik yang mulia, saat pertarungan kalian aku akan menjauh"
"tapi kalau bisa apakah kalian nanti akan bertarung di tempat yang lapang??"
"kenapa harus di sekitar istana ini yang mulia??"
"kalau istana ini hancur, bisa bisa simbol kerajaan juga akan hancur yang mulia" kata Mahapatih Demar.
"kau benar Mahapatih"
"tapi untuk saat ini aku akan menunggu dewa sesat di sini"
"saat aku merasakan pancaran tenaga nya semakin dekat, aku yang akan menjauhi istana ini" jawab Panji.
"aku tak tahu mahapatih"
"seperti yang aku katakan, kau berharap bantuan dari para dewa"
"tapi yang mulia..!!"
"cukup bicara nya paman"
"sudah saat nya aku menyerap tenaga di alam ini untuk menambah tenaga dalam ku"
"aku harapkan paman tak menganggu semedi ku kali ini" potong Panji sebelum Mahapatih Demar berbicara lebih panjang.
Panji bersila dan menutup mata nya, Panji menyerap kekuatan yang ada di alam dan mengubah nya menjadi hawa murni, hawa yang akan menguatkan tenaga dalam dan kekuatan pikiran bathin nya.
Setengah hari Panji bersemedi dan menyerap kekuatan alam, rasa nya tenaga hawa murni yang di kumpulkan nya ingin meledak di dalam tubuh nya. tapi dengan kondisi nya yang sekarang sebanyak apa pun hawa murni dan tenaga dalam yang masuk tubuh Panji sudah mampu menampung nya.
Panji membuka mata saat merasakan pancaran jahat dari kekuatan dewa sesat semakin dekat. tapi Panji heran dewa sesat belum sampai di tempat nya.
"jangan jangan dia juga sedang mengumpulkan tenaga dalam??"
"aku akan menunggu nya di sekitar bukit seribu" gumam Panji dan mempersiapkan diri untuk menuju bukit seribu.
"paman, paman..." teriak Panji memanggil Mahapatih Demar.
"ada apa yang mulai??"
"aku akan menuju bukit seribu, aku menitipkan istana ini untuk paman"
__ADS_1
"tapi yang mulia??"
"sudah paman, kali ini jangan membantah lagi"
"aku pergi paman" teriak Panji dan saat teriakan nya menghilang tubuh Panji sudah hilang dari pandangan Mahapatih Demar.
"sungguh kesaktian yang luar biasa"
"kesaktian nya bukan lagi milik manusia, tapi sudah mendekati tingkat yang lebih tinggi dari pendekar dewa" gumam Mahapatih Demar kagum.
"hati hati yang mulia" begitu lirih suara Mahapatih itu.
Setelah itu Mahapatih kerajaan Bintang kejora itu berpikir dan senyum tipis tergurat di bibir nya.
"aku juga akan ke bukit seribu, kenapa aku tak jadi penonton"
"aku yakin, aku akan mendapatkan tontonan yang menarik"
"dan aku juga yakin yang mulia pasti membutuhkan aku"
"aku harus berguna untuk mulia"
Mahapatih itu terbang menuju bukit seribu, mengikuti arah yang di tuju oleh Panji
Panji dengan kecepatan nya yang sukar di ikuti mata biasa sampai dengan cepat di bukit seribu. angin kencang menyambut kehadiran Panji di perbatasan dengan benua merah.
Panji berdiri tegak, menunggu lawan yang dia juga tak tahu entah dimana, tapi Panji merasakan jika pancaran tenaga dalam dewa sesat cukup dekat, dan itu memaksa Panji untuk tetap waspada.
Diam diam Panji menaikkan tenaga dalam nya, Panji mencoba memancing keberadaan dewa sesat, itu Panji lakukan untuk berjaga jaga jika dewa sesat tiba tiba menyerang nya, dengan begitu pelindung di tubuh Panji akan menjaga nya dari luka dalam yang parah.
Panji merasakan jika pancaran tenaga dari dewa sesat sudah semakin dekat, tapi pancaran tenaga itu sangat membingungkan Panji, kadang di kiri kadang di kanan, tapi kadang sudah berubah ke depan Panji.
"dia ingin membuat aku bingung"
"tapi aku tahu, kau hanya mencoba ku saja" gumam Panji yang semakin meningkatkan kewaspadaan nya.
Suasana berubah menjadi sepi, alam menjadi pertanda jika pertarungan penentuan benua akan di mulai.
"di kanan" Teriak Panji
Panji memajukan tangan nya.
Bammmmm.."
Dua pukulan bertenaga dalam tinggi bertemu, debu langsung beterbangan ke udara, membuat tempat itu gelap karena debu.
"depan..!!!"
Bammmmm..."
Untuk kedua kali nya, terjadi benturan tenaga dalam.
goncangan bagaikan gempa menggetarkan daerah di bukit seribu.
"heheheehh, tidak buruk untuk manusia seusia mu" suara serak tanpa wujud berbicara tak jauh dari telinga Panji.
*****
Like n komen sahabat.
__ADS_1