Perjalanan Menuju Langit

Perjalanan Menuju Langit
eps 173 Pitaloka dan Laras


__ADS_3

Dua sejoli berjalan menuju kerajaan Bintang kejora. kedua nya terlihat sangat serasi, pemuda tampan dan gadis nya sangat cantik, bedanya gadis itu memakai pakaian yang lain, pakaian yang tak pernah di pakai oleh penduduk benua kuning.


"masih jauh kah kakang??" tanya gadis itu.


"tidak Dinda, kita sudah sampai" jawab pemuda itu, mereka memegang telah berdiri di depan sebuah gerbang istana.


Pemuda dan pemudi serasi itu Panji dan Laras. setelah menyelesaikan pertarungan di di dimensi siluman, Panji membawa Laras tanpa ada lagi yang berani untuk menahan langkahnya.


Pembicaraan mereka terhenti saat sebuah teriakan penuh kerinduan terdengar di depan mereka.


"kakang panjiii...."


Seorang gadis yang melebihi kecantikan dari Laras berlari ke pelukan Panji.


"Dinda Diyah..." seru Panji dengan wajah yang begitu sumbringah.


Keduanya berpelukan cukup lama, sampai membuat Laras jengah.


"ehemm..."


Laras yang merasa di acuhkan mendehem.


Pitaloka melepaskan pelukan nya.


"siapa dia kanda??" tanya Pitaloka dengan raut wajah yang cemburu.


Panji menggaruk kepala nya yang tak gatal.


"mari kita bicara di dalam saja" ajak Panji pada Pitaloka dan Laras.


Laras langsung memegang lengan Panji, tapi Pitaloka tak mau kalah, dia juga memegang lengan Panji, kedua nya berjalan mempet di dekat Panji, membuat raja muda itu sulit untuk berjalan.


"apa kalian akan menghimpit ku seperti ini??" tanya Panji yang kesulitan untuk berjalan.


"dia itu kanda.." tunjuk Pitaloka ke arah Laras menyalakan gadis harimau itu.


"aku??"


"itu karena kau.."


"aku lebih dulu memegang tangan kanda..."


"sudah, kalian jangan ribut"


"lepaskan, aku bisa berjalan sendiri"


Laras dan Pitaloka tak mau melepaskan pegangan nya dari tangan Panji.


"hmmmm...."


Panji mengambil napas panjang.


"hupppp...."


Panji melompat dengan cepat dan memanggul Pitaloka dan Laras di pundak nya, kiri dan kanan.


"kandaaaaa....." Teriak keduanya menahan takut.


"Raja kita ternyata sangat beringas ya??"


"memiliki dua kekasih"


"apa yang mulia akan kuat melayani mereka??"


"husss, jaga ucapan mu"


"bagaimana jika yang mulia mendengar nya??"


"yang mulia lagi sibuk, mengurusi dua gadisnya" jawab prajurit itu.


Para prajurit menggunjing raja mereka dengan senyum lucu.

__ADS_1


Panji sampai di kamarnya dan menurunkan Pitaloka dan Laras.


"kanda kau..."


"diam dan dengarkan aku" potong Panji saat Laras ingin berucap protes.


Beda dengan Pitaloka yang masih gemetaran karena Panji terbang dengan kecepatan yang sangat cepat, Pitaloka merasa bagaikan melesat bagaikan angin.


"Dinda Pitaloka, perkenalkan, ini nama nya Laras"


"dan Laras ini Pitaloka" ucap Panji yang tak tahu harus bicara apa.


"aku sudah tahu kakang, kakang udah cerita" jawab Laras jutek.


"jadi hanya aku yang tak tahu??" tanya Pitaloka juga dengan wajah yang judes.


"waduh, tak semudah yang aku bayangkan rupanya"


"wajah mereka sangat menakutkan, apalagi wajah Dinda Pitaloka" gumam Panji.


"aku harus mencari cara bicara berdua dengan Pitaloka, jika tidak aku tak akan bisa bicara terus terang"


Panji melirik ke arah Laras.


"tuk tuk tuk..."


Jari Panji sangat cepat, bahkan Laras tak sadar jika dia sudah di titik oleh Panji, gadis harimau itu langsung tak sadar dan hanya menatap ke depan tanpa tahu apa yang terjadi.


"sekarang kita bisa bicara berdua Dinda, Laras tak akan mendengarkan nya lagi" kata Panji.


"kakang, Dinda ingin jawaban apa sebenarnya dan siapa dia??" tanya Pitaloka.


Panji menceritakan semua nya, awal pertemuan nya dengan Laras, juga menceritakan jika dia sudah bertunangan dengan Laras meskipun dia tak menginginkan nya.


"sekarang kanda tanya, apa kau tetap mau menjadi istri kanda??" tanya Panji.


"dia bagaimana kanda??" tanya Pitaloka menunjuk kepada Laras.


"dia bersedia untuk menjadi saudara mu"


"dia saja mampu kanda, apalagi Pitaloka"


"tapi Pitaloka ingin, Pitaloka yang jadi permaisuri" pinta Pitaloka.


"permintaanmu akan kanda turuti, dan permintaannya juga sama dengan mu"


"kanda tak bisa menolak permintaan kalian berdua, kalian berdua akan jadi permaisuri kerajaan ini"


"apa kanda mencintainya??" tanya Pitaloka.


"heheheh..."


Panji hanya cengengesan.


"berarti memang kanda yang buaya, kanda jahat" kata Pitaloka sedikit merajuk.


Panji membuka totokan Laras. Laras heran karena melihat Pitaloka tersenyum sangat bahagia.


"aku Pitaloka" Pitaloka menjulurkan tangannya ke arah Laras.


Laras heran dengan perubahan pada Pitaloka, tapi Laras menerima uluran tangan dari Pitaloka, keduanya mencoba untuk akrab.


"kanda??"


"apa ada gadis lain lagi di luar sana??" tanya Laras.


"gadis lain??" tanya Panji yang kembali teringat pada Welang dan juga Delima.


"kalau ada akan aku racuni" kata Pitaloka.


"iya, aku bantu untuk membuat racun nya" kata Laras mendukung Pitaloka.

__ADS_1


"sudah, kalian berdua yang akan selalu di hati ku"


"tak ada lagi yang lain" jawab Panji


"Pitaloka dengarkan" Panji berubah serius.


"iya kanda, ada apa??" tanya Pitaloka.


"Sebenarnya waktu kita bersama tak lebih dari tiga purnama"


"apa maksudnya kanda??" tanya Pitaloka yang tak mengerti.


Panji merasa berat untuk bercerita.


"kanda merasa sulit untuk bercerita"


"biarkan aku dan Pitaloka yang bicara kanda" kata Laras


Panji menatap Laras yang berniat untuk membantu nya untuk menceritakan kepada Pitaloka.


"Pitaloka semakin tak paham kanda??"


"apa maksud dari kanda hanya akan bersama Dinda tak lebih dari tiga purnama??"


"apa kanda mengalami luka parah??"


"setiap luka pasti ada obatnya kanda"


"Dinda tak mau berpisah lagi dari kanda"


Pitaloka berbicara tak berhenti, bahkan air mata nya jatuh beruraian membasahi lantai kamar Panji.


"kakang Panji tak mengalami luka Pitaloka"


"sebaiknya kita bicara berdua saja"


"mari kita jalan jalan" ajak Laras pada Pitaloka


"tapi..." Pitaloka berniat menolak.


"ayo lah, biarkan kanda Panji istirahat"


"Panji sudah sangat kelelahan" kata Laras yang mengerti kondisi Panji.


"ayo..."


Ajak Laras dan menarik tangan Pitaloka.


Meskipun berat Pitaloka terpaksa mengikuti kemauan Laras.


Panji yang tinggal sendiri di kamar, bukannya istirahat tapi menemui tamu nya, tamu yang juga akan jadi mertuanya, raja Mahameru.


"yang mulia" kata Panji begitu bertemu dengan raja Mahameru.


"hahahah, posisi kita sudah sama Panji"


"kau benar benar telah jadi raja"


Kedua nya berbicara panjang lebar, Panji juga menceritakan tentang Laras, dan raja Mahameru mengerti dan menerima jika Pitaloka akan menikah dengan Panji, meskipun itu artinya Pitolaka dan Laras akan istri Panji.


Sementara itu, Laras yang menarik Pitaloka membawanya ke taman kerajaan nya. keduanya masih diam tak tahu harus bicara apa.


"apa kau mencintai kakang Panji??" tanya Pitaloka.


"sangat, aku sangat mencintai kakang Panji, kau bagaimana??" tanya Laras balik bertanya.


"aku juga, saat pertama bertemu aku sudah jatuh cinta padanya, waktu itu dia belum jadi raja"


"tapi kita akan menderita karena cinta" ucap Laras dengan wajah sedih.


"kenapa sebenarnya dengan kakang??"

__ADS_1


"kakang Panji di kutuk" ucap Laras pendek.


"di kutuk???"


__ADS_2