
Langit biru mulai tertutupi oleh gelapnya, awan. Langit yang mempermainkan keindahan akan indahnya mayapada.
Gunung Tandur, sebuah gunung yang berdiri angkuh. Gunung yang menaungi belasan desa di bawah kaki gunung itu.
Jledaaarrrrrrr.
Petir biru menyambar tepat di mulut gunung itu, dan sesuatu terjadi pada gunung yang sudah lama tidak mengeluarkan laharnya.
"Ada apa ini?" teriak warga desa yang bermukim di kaki gunung Tandur.
Terjadi goncangan yang sangat kuat. Dan itu karena goncangan dari gerakan gunung Tandur yang seolah akan meledak.
"Lari! gunung Tandur mengamuk!" teriak beberapa warga yang mulai merasakan akan adanya bahaya dari gunung itu.
Salah satu desa yang berdiri tepat di kaki gunung itu, desa Bambu, desa yang seluruh penduduknya hanyalah penduduk miskin.
"Dimana putraku? Dimana putraku?" teriak seorang ibu yang terus saja mencari keberadaan putranya.
Dia terus mencari ke segala arah. Tapi jangankan menemukan putranya, bau putra pun tidak bisa dia rasakan.
"Surena! Surena Aganta!" teriak perempuan lemah tanpa daya itu.
"Hei ibu tua! Segera tinggalkan desa ini. Apa kau ingin mati?"
"Tidak! aku masih harus menemukan putriku!"
"Tidak mungkin bisa kau menemukan putramu lagi. Apa kau tidak lihat, lahar panas sudah mulai turun dari mulut gunung Tandur?"
"Aku tidak peduli. aku hanya ingin menemukan putraku!" Kata ibu tua itu.
__ADS_1
"Sudahlah! Jika dia tak peduli, tinggalkan saja dia. Mungkin dia memilih untuk bunuh diri!"
Tanpa memaksa lagi, orang-orang yang ada di desa bambu meninggalkan ibu tua yang masih terus mencari keberadaan putranya.
Hingga lahar panas datang, dia masih tetap ada di desa itu.
"Surena!" teriak ibu tua itu.
"Ibu! Surena disini!" Teriak seorang anak kecil membalas teriakan ibunya.
Dengan segera ibu tua itu memeluk putranya, menarik anak yang belum genap berusia delapan tahun ke dalam dekapannya.
"Ibu! Surena takut!" Ucap pemuda Kecil itu.
"Jangan takut! seorang laki-laki tidak boleh merasakan takut!" Kata perempuan tua itu.
"Ibu Awas!" Teriak anak kecil itu saat melihat lahat semakin dekat.
"Tapi bagaimana dengan ibu?"
"Ini akan baik-baik saja. kau sekarang yang penting!" Kata ibu tua itu.
"Tapi ibu?"
"Jangan membantah Ibu, segera naik ke Batu besar itu!" Kata ibu tua itu.
Tak ingin melawan perintah ibunya, Surena Aganta, nama anak kecil itu. Dia naik ke Batu besar yang berada tepat di belakangnya.
"Ayo ibu! ibu juga harus naik kemari!" Teriak Surena.
__ADS_1
"Jika kita berdua berada di atas batu itu, maka kita tidak akan muat di atas batu itu, putraku!" kata ini tua itu.
"Jadi ... jadi ibu akan tetap ada di bawah? ibu bisa mati!" Kata Surena Aganta.
Ibu tua itu tersenyum. Dia tersenyum pada putra kecilnya yang berhasil dia selamatkan.
"Ibu! jika ini mati, siapa yang akan jadi Ibu Surena?"
"Putraku! pergilah ke kota Sambra. Cari orang yang bernama Ki Patu. Katakan ibu yang menyuruhmu!" kata ibu tua itu.
"Tapi ibu, Surena hanya ingin bersama dengan ibu!"
"Jangan manja putraku! ibu mungkin hanya sampai saat ini bisa menemani dirimu. Hidup terus putraku!"
"Ibu! Ibu!" jerit anak kecil itu.
Tapi pada saat itulah, lahar yang panas menyeret tubuh wanita tua yang sudah memiliki daya itu.
"Ibuuuu!"
***
***
Sepenggal novel baru Author.
Lama gak menyapa nih Sahabat semuanya. Maaf authornya sedikit sibuk. Sok kenal banget ya author ini. Hehe
"Bagaimana kabarnya? Apakah masih baik?"
__ADS_1
"Author berharap semuanya baik-baik saja sih!"
Eh, disini author memberitahukan, kalau novel baru author udah rilis tuh. Judulnya masih sama. Perjalanan Menuju Langit. Kalau sempat mampir ya. tetap di noveltoon sih. Terimakasih