
"aku tak akan menjadi beban untuk mu"
"percaya deh" Welang meyakinkan Panji.
"baiklah..." Panji menghela napas panjang mendengar kata kata Welang.
"kami permisi kek" kata Panji kepada maung Jaya.
"tolong jaga putri kami" kata Sukasih kepada Panji.
"baru kali ini dia dalam perjalanan sejauh ini" sambung maung Angga.
Panji menatap Welang yang tersenyum menutupi kebohongannya.
"kau menipu ku"
"jadi bagaimana mungkin kita akan sampai dengan cepat jika kau pun tak tahu letak puncak gunung es"
"kita jalan saja terus pasti akan ketemu dengan gunung es"
"percaya deh" kata Welang dengan santainya dan berjalan dengan riang menyanyi nyanyi begitu senangnya karena akan berjalan jauh untuk pertama kalinya dan di temani pemuda tampan.
Panji melangkah dengan cepat dan tak memperdulikan Welang.
"hey tunggu aku, jangan terlalu cepat berjalan" kata Welang
"kenapa??"
"bukan kah kau bilang kau tak akan menjadi beban ku??"
"jadi berjalan lah dengan cepat" kata Panji.
"dasar kau ya, ternyata anak manusia itu memang jahat, seperti yang ayah bilang" kata Welang.
"aku pikir kau lain, ternyata kau sama saja" lanjut Welang
"aku tak peduli, cepat lah jalan mu atau kau akan ku tinggal"
"iya iya" Welang mempercepat langkahnya.
tapi belum seberapa jauh berjalan lagi lagi Welang melambat.
"kenapa melambat??" tanya Panji.
"kita istirahat bentar ya, aku capek" kata Welang.
"istirahat??"
"kita berjalan baru sebentar tapi kau sudah minta istirahat, kapan aku akan sampai di gunung es??" kata Panji tak setuju
"awassss"
Panji langsung menubruk tubuh Welang dan mereka jatuh berpelukan ke tanah.
"ada apa sih??"
"jauh jauh, kau hanya mencari kesempatan memeluk ku" kata Welang. tapi Panji tak peduli tapi terlihat dia meningkat kan kewaspadaannya.
"keluar lah, hadapi aku"
"jangan seperti tikus yang bersembunyi" kata Panji dengan suara keras.
"hahahaha"
"kau cukup berani memasuki wilayah Seloka" sesosok bayangan langsung datang dan berdiri di depan Panji.
"Seloka??"
"pembuangan ya??" gumam Panji.
"aku tak mengerti nama orang di sini aneh dan lucu" dan Panji tersenyum tipis.
"hey anak manusia apa yang lucu??"
"apa kau tak sadar kematian sudah di depan mata mu"
"aku adalah maut mu" kata Seloka
Panji yang waspada melirik Welang dan melihat gadis harimau itu diam dengan wajah pucat.
__ADS_1
"hey kau kenapa??"
"apa kau takut kepadanya??"
"kau kan memiliki kemampuan tinggi kenapa harus takut??" tanya Panji
"hahahahah"
kau pasti cucu si jaya keparat itu"
"baik, kau anak manusia boleh pergi tapi tinggalkan gadis perawan itu"
"hahahahah" Seloka tertawa begitu kerasnya.
"tidak"
"kau tak akan bisa menyentuhnya" jawab Panji dingin.
"kalau begitu mati lah" Seloka juga menyambut dingin.
"pedang langit"
Panji langsung menggenggam pedang langit karena teringat akan pertarungan nya dengan para beruang hanya pedang langit yang mempan terhadap beruang itu.
"dengan atau tanpa senjata kau tetap akan mati" kata Seloka dingin.
"banyak bicara"
hiaaaatt"
Panji menyerang terlebih dahulu, aura keemasan membaluti tubuh Panji.
sleppp" Panji mengayunkan pedang langit tapi dengan mudah Seloka mampu menghindari serangan Panji malah Seloka menyerang balik menggunakan pukulan nya ke perut Panji, tapi dengan mundur ke belakang Panji berhasil menghindari serangan Seloka.
Panji kembali maju, dan menyerang dengan jurus rajawali. rajawali memangsa. jurus ini benar benar sedikit merepotkan Seloka tapi itu tak mampu mendesak nya. bahkan sebuah jotosan nya menyerempet bahu Panji.
breeettt"
Panji sudah mencoba berkelit tapi jotosan itu tetap mengenai nya.
"dia hebat"
"Welang bantu aku" pinta Panji.
"baik" Welang langsung menuju ke arah Panji dan berdiri di samping Panji.
"kalian mau mengeroyok ku??"
"percuma, dan kau anak manis, sabar ya"
"sebentar lagi kita akan bersenang senang" kata Seloka kepada Welang dan menjilat bibirnya sedikit memanas manasi Welang.
"serang"
Panji memberi aba aba dan maju di ikuti Welang menghadapi Seloka. kedua nya bekerja sama menyerang pertahanan Seloka tapi tetap saja tak mampu mendesak Seloka, bahkan Seloka sedikit mempermainkan Welang dengan menyentuh bagian bagian sensitif Welang.
"setan"
Welang emosi karena merasa di lecehkan dan itu membuat serangan nya tak terarah dan hanya serangan membabi buta.
"Welang tenangkan diri mu"
"dia hanya ingin membuat mu emosi" kata Panji dengan suara keras.
"ehh...!!!" teriakan itu membuat kewaspadaan Welang menurun.
"tukk tukk"
dua totokan Seloka tepat di dada Welang dan itu sudah cukup melumpuhkan gadis harimau itu.
"sekarang tinggal kau seorang"
"pergilah sebelum aku berubah pikiran" kata Seloka.
"aku ingin menikmati gadis perawan ini" lanjut Seloka
"menurut mu aku akan menuruti kemauan iblis mu itu??"
"aku mau lihat sekuat apa sih dirimu"
__ADS_1
Panji meningkatkan kekuatannya.
"aku mau lihat sejauh mana jubah harimau menjaga tubuhku" gumam Panji dan melesat menyerang Seloka.
"bammmm"
Seloka menahan hantaman Panji, tapi serangan Panji belum habis dengan pedang langit Panji menyabet ke arah kaki Seloka tapi Seloka menarik kakinya, namun tiba tiba arah pedang Panji berubah.
"breetttt"
"akh...."
Seloka merintih pelan saat pedang langit melukai pahanya. Seloka mundur ke belakang dan menjauhi Panji dan saat itu lah Panji mendekati tubuh Welang dan membuka totokan di tubuh Welang.
"kau tak akan bisa mem...!!"
"apa??"
"bagaimana bisa??"
Seloka kaget karena Panji mampu membuka totokan pada Welang.
"kenapa??"
"apa kau kaget??"
"sudah terlambat" kata Panji dan melesat ke arah Seloka.
"ternyata kau tak sehebat yang aku bayangkan" kata Panji meremehkan Seloka.
"keparat" Seloka marah karena telah diremehkan Panji.
"hiatt...!!!"
Seloka menyerang dengan jurus yang penuh tipu daya dan berbekal pengalaman bertarung mampu mendesak Panji, tapi dengan pedang langit Panji mampu bertahan. pertarungan terus berlanjut, tendangan Seloka mengarah dada Panji tapi tangan nya mampu menahan tendangan itu dan saat itu lah Panji menyabetkan pedang langit dengan cepat.
Seloka mencoba menangkis dan bersalto ke udara tapi suara di belakang nya membuat dia pasrah.
"kau lambat" kata Panji saat setelah berada di belakang Seloka dan tanpa ampun pedang Panji menusuk punggung Seloka dan tembus sampai ke dada Seloka.
"akhh akkhhhh"
Seloka hanya bisa melihat pedang itu tembus di dadanya.
saat Panji menarik pedangnya darah langsung mengucur dari luka Seloka, dan lelaki itu jatuh menggelepar di tanah sebelum tewas dengan mata melotot. Panji memasukkan pedang langit ke kantong semesta dan menemui Welang.
"kamu tidak apa apa??" tanya Panji.
"ehhh, tidak" Welang bersemu merah dan kaget saat Panji telah ada di depan nya.
"ganti lah pakaianmu"
"sepertinya nya yang kau pakai sudah berantakan" kata Panji.
Welang kaget dan melihat bagian dada nya hampir menyembul karena robek.
"kau... kau menyukai nya kan dan menikmati robekan baju ku ini" kata Welang sedikit malu.
"ya ya ya ya"
Panji berbalik dan menunggu Welang mengganti baju nya.
"udah belum, kalau udah aku berbalik nih" kata Panji mempermainkan Welang.
"belum, jangan coba mengintip"
"siapa pula yang mau mengintip gadis pemarah seperti mu" kata Panji pelan.
"plakkkkk" kepala Panji kena tampar dari belakang.
"kauuuu..."
"hhhmmm, sudahlah"
***********
tolong donk rate nya bintang lima.
like dan komen ya
__ADS_1