
Jauh di benua putih. setelah kepergian dewa sesat Mahapatih Jampar membantu raja Mahameru dan keluarga keluar dari tempat persembunyian.
Mahapatih Jampar berjalan keluar dan menemukan di antara mayat mayat prajurit dua mayat berpakaian putih terbujur kaku dengan kematian yang sangat mengenaskan.
Mulut mahapatih jampar Kelu saat melihat dua mayat itu, mayat yang sangat banyak membantu kembali nya keluarga kerajaan ke istana. mayat sepuh Kesuma dan eyang pariga.
"kalian meninggalkan aku??" Kata Mahapatih Jampar, air mata nya jatuh berlinangan.
"mengapa sepuh??"
"eyang??"
Mahapatih Jampar dalam kesedihan nya memanggul kedua mayat itu masuk ke dalam istana dan membaringkan nya di sebuah dipan.
Wajah raja Mahameru juga langsung berubah rona saat melihat mahapatih meletakkan dua mayat tak jauh dari tempat dia berdiri.
"sepuh Kesuma???"
Raja Mahameru mendekat dan menyentuh wajah pucat sepuh Kesuma.
Sungguh kesedihan yang teramat dalam, bukan hanya keluarga istana, tapi seluruh rakyat benua putih akan merasakan kehilangan sosok sepuh Kesuma.
"siapkan pemakaman untuk mereka berdua, layaknya pemakaman seorang bangsawan" perintah raja mahameru.
"Sepuh..!!!"
Permaisuri juga tak bisa menutupi kesedihan nya, air mata mengalir dari pipi nya.
"guru...!!!!"
pangeran Candra yang paling histeris.
"guru, maafkan murid yang bodoh ini"
"murid belum mampu mengemban dan meneruskan semua tekad mu"
"guru..."
Pangeran Candra bersimpuh di dekat mayat sepuh Kesuma,
Sementara Diyah Pitaloka walaupun mengeluarkan air mata putri keraton itu masih mampu menguasai keadaan diri nya. mungkin karena putri kerajaan itu tak memiliki sebuah ingatan untuk sepuh Kesuma.
"putra ku sudah, jangan terus menangisi kepergian guru mu"
"jika kau masih hidup sampai matahari terbenam besok hari, berikan dia penghormatan yang layak"
"lanjutkan perjuangan guru mu" kata raja Mahameru menenangkan pangeran Candra
"kenapa ayahanda??"
__ADS_1
"kenapa??"
Pangeran Candra masih menangisi kepergian sepuh Kesuma.
"setiap kehidupan akan ada kematian"
"setiap pertemuan akan ada perpisahan" jawab raja Mahameru
"tapi guru tak pantas mendapatkan kematian se kejam ini ayahanda"
"guru tak layak seperti ini"
pangeran Candra sangat tak terima cara kematian guru nya.
"kau harus bangga putra ku"
"guru mu meninggal secara ksatria"
"meninggal karena membela kebenaran" kata raja Mahameru
Kabar kematian sepuh Kesuma memang sungguh sebuah pukulan besar bagi rakyat benua putih. air mata dari rakyat tak tertahan begitu kabar itu terdengar luar.
Bendera putih tanda berkabung berdiri tegak di jalan jalan seluruh tempat di benua putih. tak ada yang rela jika sepuh Kesuma akan pergi begitu cepat.
Keesokan harinya. hari pemakaman sepuh Kesuma dan eyang pariga
Sebagai seorang bangsawan mayat sepuh Kesuma akan di bawa ke tengah ruangan pemujaan para dewa, dan tubuhnya akan di bakar, abu nya akan di bagikan bagi siapa pun yang ingin memiliki abu mayat nya.
pangeran candra berjalan lesu, pangeran kerajaan itu maju ke depan dengan telanjang dada, sebuah ikat kepala dari kain putih terikat kuat di kepala nya. lagi lagi kain putih tanda berkabung.
Mata pangeran Candra masih bengkak menandakan dia masih menangisi kepergian guru nya.
Pangeran Candra mengangkat mayat sepuh Kesuma dan berjalan tangga demi tangga. bunga putih dari para pemuka agama beterbangan di lemparkan ke tubuh sepuh Kesuma. penghormatan tertinggi bagi keluarga kerajaan.
Pangeran Candra meletakkan tubuh sepuh Kesuma.
"selamat jalan guru"
"sampai bertemu di istana dewa"
"saksikan lah guru, murid mu ini akan meneruskan perjuangan mu"
kembali air mata pangeran Candra jatuh.
Api mulai membakar tubuh sepuh Kesuma dan perlahan lahan tubuh sepuh Kesuma hilang di makam api dan berubah menjadi abu.
Pangeran Candra mengambil sebuah gentong besar, dan mengisi gentong itu dengan abu sepuh Kesuma.
Pangeran Candra turun dengan membawa gentong kecil itu.
__ADS_1
"aku tahu kalian semua menginginkan abu guru ku"
"tapi aku sebagai murid nya, sebagai bukti cinta kepada guru ku"
"aku akan menyimpan abu ini"
"aku akan menjaga abu ini seperti aku menjaga diri ku sendiri"
"seperti aku menjaga keluarga ku" kata pangeran Candra dengan suara yang sangat lantang
Bisik bisik dari penduduk langsung terdengar riuh saat mendengar perkataan pangeran Candra, sampai salah satu bicara dan itu cukup di setujui.
"kalau pangeran ingin menyimpan kami setuju, tapi permintaan kami sebagai orang yang juga mencintai sepuh Kesuma beda dengan pangeran"
"kami rakyat benua putih ingin abu sepuh Kesuma di tempatkan di ruang pemujaan"
"sehingga jika kami ingin melihat sepuh Kesuma kami akan melihat nya di ruang pemujaan para dewa"
"aku harap pangeran mengerti dengan permintaan kami" kata orang yang menjadi wakil penduduk itu.
Pangeran Candra diam dan menatap ayahanda nya. raja mahameru paham maksud pangeran Candra.
Raja mahameru berdiri.
"para rakyat ku, jika memang itu sudah keputusan kalian, kami keluarga kerajaan akan menuruti permintaan kalian"
"tapi ada baiknya, kita melakukan upacara jika meletakkan abu sepuh Kesuma di ruang pemujaan"
"sampai pemujaan itu kita laksanakan, ijinkan putra ku pangeran Candra menyimpan abu guru nya" jawab raja Mahameru menjawab perkataan perwakilan penduduk.
Kembali keriuhan terjadi.
"baik yang mulia, kami menerima perkataan mu"
Setelah itu Mahapatih Jampar maju, dan seperti hal nya pangeran Candra, mahapatih jampar mengangkat dan membawa eyang pariga ke ruang pemujaan.
"kau memang tak di kenal penduduk eyang"
"tapi kau tetap berjasa untuk negeri ini"
"selama jalan"
Saat sore menghampiri malam, pemakaman keduanya berakhir, para penduduk satu per satu meninggalkan halaman istana.
Hari itu, salah satu hari ter sedih yang di alami benua putih.
********
like n komen ya sahabat.
__ADS_1