Perjalanan Menuju Langit

Perjalanan Menuju Langit
episode 111 Ki bangke


__ADS_3

"bagaimana ini, kapan aku sampai kalau kau terus meminta istirahat"


"ini sudah yang ke tujuh kalinya kita istirahat" kata Panji sedikit kesal.


"eh kau menghitung nya??"


"aku aja gak tau"


"perhatian banget sih kamu" kata Welang dengan wajah semanis mungkin.


"kalau aku tahu akan begini aku tak akan mengajak mu"


"jadi kau menyesal??"


"menyesal berjalan dengan gadis secantik aku??" tanya Welang


"cantik??"


"beringas iya" kata Panji


jawab Panji membuat Welang memonyongkan bibirnya sedikit merajuk.


"udah mari kita teruskan perjalanan"


"aku merasa itu gunung yang kita tuju" tunjuk Panji ke sebuah puncak tinggi


"iya semoga memang itu, aku sudah capek dan ingin istirahat" kata Welang


"gendong boleh??" kata Welang manja.


"boleh Welang sayang"


"tapi gendong depan mau??" Panji mengikuti Welang Welang yang mencoba mempermainkan nya.


"aku jalan saja" kata Welang berjalan terlebih dahulu.


"gadis aneh" gumam Panji dan mengejar Welang.


keduanya terus berjalan dan menyusuri dingin nya perbukitan.


"hey Panji, aku melihat perkampungan" kata Welang menunjuk ke arah samping dan memang di sana ada perkampungan kecil.


"apa itu kampung??"


"ko seperti perkembangan saja, hanya ada lima rumah kecil"


"mari kita ke sana" kata Panji dan menarik Welang


kedua nya mendekati perkampungan kecil itu, dan melihat beberapa penduduk yang sedang beraktivitas.


"permisi paman, apa ini sebuah kampung??" Panji menanyakan pertanyaan bodoh.


"orang gila, kalau bukan kampung apa??" jawab orang yang di tanya Panji dan berlalu meninggalkan Panji.


"hahahaha"


"bagaimana rasanya di maki??" tanya Welang


sebelum Panji menjawab seorang yang cukup berumur mendekati mereka.


"kalian sedang mencari apa??"


"kami sudah tak memiliki apa pun" kata orang tua itu.


"perkenalkan ki saya Panji dan ini saudari saya Welang" Panji memperkenalkan dirinya.


"mari kita ke rumah, kita bicara di dalam saja"


"aku tahu kalian pasti capek" ajak orang tua itu dan membawa keduanya ke dalam sebuah rumah.


"minum dan istirahat lah sejenak"


"aku akan mempersiapkan makan malam"


"tidak us..."


"iya kek, aku sudah lapar" Welang memotong perkataan Panji.

__ADS_1


mendengar itu Panji melotot ke arah Welang.


"kau tak memiliki rasa malu ya??" tanya Panji berbisik.


"aku memiliki rasa malu, tapi perutku gak malu"


"aku sudah lapar dari tadi" jawab Welang.


sambil menunggu Panji berbaring dan membiarkan Welang berjalan jalan menikmati kampung kecil itu. dan tanpa di sadari Panji tertidur sampai malam tiba. Panji bangun saat makan malam telah siap dan langsung menyantap dengan lahap nya.


"katanya tadi gak usah, tapi ini paling banyak makan nya" goda Welang.


"kalau makan mulut jangan berisik, cukup gigi yang berisik" kata Panji dan itu sudah cukup membuat Welang diam.


"baik kemari lah, aku tahu kalian mencari sesuatu"


"apa yang kalian cari??" tanya orang itu.


"iya kek, kami memang mencari sesuatu"


"tapi sebelumnya nama kakek siapa??" tanya Panji


"hehehehe, bodoh nya orang tua ini"


"dari tadi belum memperkenalkan diri"


"panggil saja Ki bangke" jawab orang tua itu.


"Bangke??"


"hadeh, lagi lagi nama yang aneh"


"apa tak ada nama yang lebih bagus dari pada bangke" gumam Panji melotot ke arah Ki bangke.


"aku manggil kakek aja" kata Panji


"iya manggil kakek pun tak apa apa" kata Ki bangke.


"sebenarnya aku dari daratan benua kek" kata Panji memulai cerita.


"daratan benua??"


"kenapa kek??"


"apa kakek sudah tahu??"


"iya aku sudah tahu"


"apa kau mengetahui kenapa kami bertahan di kampung sekecil ini anak muda??" tanya Ki bangke


"kenapa kek??" tanya Welang


"karena dia"


"seribu tahun kami menunggu kedatangan mu mengambil mustika putih" kata Ki bangke


"jadi kakek sudah seribu tahun di tempat ini??" tanya Panji


"ya, saat mustika lima warna menyegel raja kematian kami di tugaskan resi raspati untuk menjaga dan menunggu orang yang akan mengambil mustika putih"


"itulah pesan terakhir resi raspati sebelum kematian nya" kata Ki bangke.


"jadi kakek mengenal eyang pariga??"


"pariga??"


"bocah itu masih hidup??"


"masih kek, dia yang menyuruhku mengumpulkan mustika lima warna" jelas Panji.


"baiklah anak muda, mungkin sudah takdirmu mengambil mustika putih"


"tapi pesan ku jangan bunuh raja kematian"


"karena membunuhnya hanya akan mendatangkan kejahatan yang lebih besar lagi" kata Ki bangke.


"tidak kek, aku akan membunuh raja kematian dan melawan kejahatan yang baru itu"

__ADS_1


"kau tak mengetahui bagaimana kehidupan seribu tahun lagi"


"jadi kau harus memastikan raja kematian tak akan bangkit lagi"


"kau akan menyesalinya anak muda"


"tapi semua tergantung kepada niat mu"


"tapi aku kembali mengingatkan mu"


"membunuh raja kematian dan kejahatan baru akan memberikan mu sebuah kutukan"


"pikirkan lah" kata Ki bangke


"kutukan??"


"demi kedamaian seluruh benua aku akan menanggung kutukan itu" jawab Panji mantap.


"kalau memang tekad mu sudah bulat, terserah padamu"


"asalkan jangan kau menyesal"


"tidak sedikit pun aku menyesal"


"tiga hari lagi akan bulan purnama, aku akan membawa mu dan mengambil mustika putih"


"sebelum itu pulihkan kondisi mu" kata Ki bangke.


"apa aku akan bertarung untuk mendapatkan mustika itu kek??" tanya Panji


"hahahaha, kau sudah melewati banyak pertarungan sebelum sampai kemari"


"aku rasa kau tak akan melawan siapa pun"


"cukup mengambilnya"


"itu pun kalau kau mampu"


"kalau mampu,??"


"maksudnya kek??"


"hanya orang yang yakin dan berhati bersih yang bisa memegang mustika putih"


"jadi bersihkan dulu hati mu"


"dan teguh kan pendirian mu"


"pikirkan lah tiga hari ini"


"baik kek, aku akan renungkan" kata Panji.


"istirahat lah"


"dan kau nona, silahkan tidur di kamar"


"aku masih ingin berbincang dengan pemuda ini" kata Ki bangke sedikit mengusir Welang.


"baik kek" Welang tau diri dan pergi meninggalkan Ki bangke dan Panji.


"memang nya kakek ingin bicara apa lagi dengan ku??" tanya Panji


"tidak ada, aku hanya tak ingin kalian berbuat kotor di rumah ku"


"aku tahu kalian pasangan kekasih" kata Ki bangke.


"ehhh, dasar bangke"


"otak mu aja yang kotor" gumam Panji dalam hatinya.


"aku tidur kek"


********************


like komen dan rate ya.


terimakasih.

__ADS_1


ikuti terus perjalanan masih panjang.


__ADS_2