Play To Win

Play To Win
Level 107 - Tupai


__ADS_3

...***...


Jackson mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia berusaha untuk mencari sesuatu yang dapat ia gunakan untuk naik ke atas sana.


"Aku tidak akan bisa naik ke atas sana, apalagi tanpa kristal laba-laba," gumamnya pelan.


"Sepertinya aku harus mencari cara lain untuk keluar dari dalam sini." Jackson mengeluarkan kristal rusa tanduk cahaya dan menggunakannya untuk bisa mencari jalan keluar.


Perhatian Jackson mendadak beralih ketika ia melihat banyak sekali barang berkilauan di dalam kegelapan sana begitu ia menggunakan kristal rusa tanduk cahaya dalam tubuhnya.


"Woah… tempat apa ini?" Jackson berdecak kagum, ia melangkah perlahan menghampiri benda-benda berkilauan yang dilihatnya, menembus masuk lebih dalam di antara kegelapan.


Semakin jauh Jackson melangkah, semakin ia menemukan banyak barang yang berkilauan yang berupa dari emas dan permata.


"Tempat apa ini? Kenapa ada tempat seperti ini di sini?" Jackson menghampiri salah satu emas di sana, mengusapnya pelan guna memastikan keasliannya.


"Semuanya asli?" Jackson tertegun. Harta di sana sangat banyak, hampir di setiap sudut yang ia lewati penuh dengan permata, emas dan perak yang berkilauan.


Jackson terus melangkah hingga ia menemukan sebuah tempat yang berada jauh di dalam tanah.

__ADS_1


Ruangannya lebih gelap dibandingkan sebelumnya, tapi beruntung Jackson bisa melihat dengan jelas seisi ruangan itu.


Jackson menghentikan langkah kakinya begitu matanya tak sengaja melihat sebuah botol yang melayang di udara di tengah ruangan yang ia lewati. Botol itu berisi sebuah cairan berwarna putih yang bercahaya.


"Itu… benda apa?"


Jackson menatap benda itu dari kejauhan, rasa penasaran semakin menyelimutinya; membuat Jackson akhirnya memberanikan diri untuk melangkah lebih dekat dan melihat lebih jelas cairan dalam botol tersebut.


Jackson berdiri tepat di depan botol yang kini melayang di udara. Jackson memperhatikannya lekat.


"Ini… apa?" Jackson masih bertanya-tanya. Ia mengerutkan keningnya.



...*...


Joanne mulai terpojok, apalagi ketika si tupai kini terus menghampiri dirinya.


"Kenapa makhluk ini begitu kuat?!" Gerutunya kesal. Ia terus menembaknya berulang kali, tapi bukannya terluka; tupai dihadapannya justru tidak merasa kesakitan sama sekali.

__ADS_1


"Aku harus mencari cara untuk mengalahkannya…" pikir Joanne, mendadak tanpa aba-aba lebih dulu; tupai itu menyerangnya. Menggunakan ekor berbulunya itu untuk menyerang Joanne hingga membuat gadis itu terpental jatuh dengan keadaan pistolnya terpental jauh.


"Argh…" Joanne meringis kesakitan saat tubuhnya bergesekan kasar dengan lantai kayu.


Tupai itu bergerak menuju arahnya. Joanne berusaha meraih pistolnya; sialnya benda itu terlalu jauh dari jangkauannya.


"Sial! Aku harus bagaimana?" Joanne menahan sakit.


Tupai itu semakin dekat ke arahnya. Tangannya perlahan terangkat siap untuk mencakarnya, Joanne menelan ludahnya susah payah. Ia tidak bisa lari lagi sekarang.


"Joanne!" Panggil Smith, Joanne menoleh bersamaan dengan itu sesuatu terikat pada pergelangan tangannya dan spontan menarik Joanne pergi dari sana.


Sebelah tangan Joanne meraih pistolnya, sedangkan si tupai kini bergerak berusaha untuk menyerangnya.


Joanne menembak tupai itu berulang kali dengan pistolnya, hingga akhirnya ia tiba di dekat Smith yang berdiri di dekat lubang yang di maksud.


Smith mengangkat sebelah tangannya, menembak ke arah langit-langit di lubang itu dan menarik tubuh mereka naik sebelum si tupai sampai di dekat mereka.


"Kau tidak akan bisa mengejar kami!" Joanne tertawa meledeknya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2