
...***...
Joanne membuka kedua matanya, kedua tangannya yang terkepal erat menandakan kalau dirinya sudah benar-benar yakin kalau ia bisa melewati semua ini.
Joanne mengambil sedikit ancang-ancang sebelum kemudian berlari setelah memperhitungkan semuanya.
Joanne bergerak cepat, melintas satu kapak yang berada paling depan. Dan berhasil, selesai satu kemudian tinggal sisanya. Joanne berhenti sejenak sebelum kembali bergerak, ia mengatur napasnya sejenak.
"Baiklah, aku sudah berhasil melewati yang pertama. Kini hanya tinggal sisanya." Pikir Joanne. Gadis itu mengambil ancang-ancang sejenak sebelum kemudian bergerak melewati kapak kedua hingga tiba di seberang kapak kedua, tiba di sana; dirinya mendadak di kejutkan dengan sebuah mesin pemotong yang mendadak muncul dari lantai yang dipijaknya.
Joanne tersentak kaget, ia sampai tersungkur jatuh ke lantai. Begitu tubuhnya mendarat di lantai, Joanne nyaris terkena kapak yang masih bergerak. Beruntung Joanne bisa menghindarinya dengan cepat-cepat berbaring membuat kapak itu hanya melintasinya saja.
Kakinya selamat, tubuhnya pun selamat. Joanne bergegas bangun sebelum tubuhnya menghantam kapak yang terus bergerak tanpa henti.
Ia berdiri, nyaris sangat sulit bagi Joanne untuk menyeimbangkan tubuhnya saking dekatnya kapak kedua dengan mesin pemotong yang tadi nyaris melindas kakinya.
__ADS_1
"Sial, aku terjebak. Bagaimana ini?" Joanne tak bisa bergerak. Kedua benda di depan dan belakangnya terus bergerak, jaraknya sangat dekat dan nyaris menghimpit tubuh Joanne yang berada tepat di tengah-tengahnya.
"Kalau seperti ini, bisa-bisa aku mati." Pikir Joanne yang mulai panik. Keringat dingin sampai mengucur membasahi keningnya.
"Tidak. Aku tidak boleh berpikir begitu." Joanne menggelengkan kepalanya cepat, ia berusaha menepis setiap pikiran buruk yang baru saja hinggap di pikirannya.
"Aku harus yakin kalau aku mampu melewati semua ini," gumamnya.
"Aku harus bisa keluar dan mengambil Kane Collection itu, agar aku bisa membebaskan Neva."
Kedua mata gadis itu kini menatap ke arah mesin pemotong yang bergerak di hadapannya, gerakannya cukup cepat sampai-sampai membuat Joanne kesulitan menentukan pergerakannya dan menyamakannya dengan kapak lain di seberang sana. Sebelum melangkah pergi, ia harus bisa memperhitungkan keduanya sebelum akhirnya berlari ke seberang dan menyelesaikan bagian ini.
"Huft~" Joanne menarik napasnya beberapa kali sebelum mulai bergerak.
__ADS_1
Ia mulai menghitung dalam hatinya, kakinya bergerak mempersiapkan diri.
"Dalam hitungan ke tiga…" pikir Joanne.
Gadis itu mulai menghitung dalam hatinya, begitu hitungannya mencapai angka tiga; ia segera berlari sesuai dengan perhitungannya.
Joanne bergerak cepat, menyeberang ke arah sana. Namun tiba di sana, pergerakan kapak tak sesuai prediksinya sampai-sampai membuat Joanne nyaris terkena hantaman mata kapak yang tajam. Beruntung kakinya bisa berhenti dengan tepat waktu.
Tubuhnya tak seimbang, Joanne bersusah payah menopang tubuhnya yang hampir terjatuh ke arah belakang tempat ke arah dimana mesin pemotong itu bergerak melintas dari kiri ke kanan.
Beruntung Joanne berhasil menahan tubuhnya, hanya saja beberapa helai rambutnya terpotong akibat pergerakan mesin pemotong yang cukup cepat.
Joanne membenahi berdirinya setelah kapak itu kembali bergerak sesuai prediksinya. Ia berdiri untuk mengambil napas.
"Tadi itu nyaris saja," gumamnya pelan seraya mengusap dadanya yang berdegup kencang akibat shock.
__ADS_1
Joanne berusaha menenangkan diri sebelum kembali melanjutkan langkah kakinya.
...***...