Play To Win

Play To Win
Level 77 - Rasa takut


__ADS_3

...***...


"Apa yang harus kami lakukan?"


"Tidak mungkin kami diam saja 'kan?"


Satu persatu beast yang ada, mulai angkat bicara, berusaha untuk menumpahkan semua keresahan mereka. Kini semua penduduk desa sudah berada dalam ruangan rahasia di bawah tanah yang letaknya berada tak jauh dari desa berada.


"Prioritas utama kita untuk saat ini adalah melindungi Kane Collection yang ada dan menyelamatkan diri. Kalau Kane Collection itu tak berhasil kita jaga, maka akan jauh pada si taring emas." Kepala desa berucap.


"Tapi kita tidak mungkin diam saja seperti ini, apalagi di luar sana masih ada beast yang berkeliaran dan juga bagaimana dengan para pengembara itu?" Salah satu beast berucap mewakili beast yang lain.


"Pak kepala, aku memiliki ide. Izinkan aku untuk pergi keluar dan mencari beast yang tersisa serta mencari permata landak agung itu. Hanya itu yang mampu membantu kita saat ini." Si garang itu berucap.

__ADS_1


"Kalau begitu kirim aku untuk membantu para pengembara itu, bagaimana pun sejak awal. Pak kepala sudah memberikan tugas menjaga mereka pada ku, kalau aku gagal menyelamatkan mereka juga.  Itu akan membuatkan merasa bersalah."


"Aku tidak bisa membiarkan kalian pergi bertaruh nyawa ke luar sana sementara aku dan yang lain berdiam diri di sini. Aku akan ikut dengan kalian," ucap kepala desa.


"Ayah…" si betina merah muda itu menatap ayahnya cemas. "Jangan pergi, aku mohon." Tuturnya penuh harap.


"Aku tidak mungkin membiarkan rakyatku dalam bahaya sementara aku duduk diam di tempat ini. Sebagai tanggung jawabku, aku akan ikut pergi. Biar aku yang mencari liontin itu." Katanya.


"Tapi…"


"Baik." Willy mengangguk.


"Dan kau, cari beast yang tersisa dan bawa mereka kemari. Untuk urusan liontin itu, biar aku yang mencarinya." Ia menoleh ke arah si garang. Si garang mengangguk mantap. Detik berikutnya mereka bertiga keluar dari dalam tempat persembunyian untuk membantu dan mencari yang hilang.

__ADS_1



...*...


"Argh…" Smith memegangi lengannya yang terkena cakaran harimau itu. Pistol dalam genggamannya bahkan sampai terlempar cukup jauh dari tempatnya berada. Beruntung ia masih bisa selamat.


Joanne terduduk di sana, "aku tidak bisa diam saja. Aku harus bisa membantu Smith," ucapnya dalam hati. Ia memejamkan kedua matanya berusaha untuk melawan rasa takut yang sejak tadi menyelimuti dirinya.


"Aku harus bisa melawan. Aku harus bisa membantu Smith." Joanne terus merapalkan kalimat itu dalam hatinya, ketika kedua matanya terpejam menampakkan kegelapan; di saat itulah bayangan sahabatnya muncul. Wajahnya yang tengah tersenyum membuat Joanne seakan di tarik menuju ingatan ketika mereka bersama.


"Neva…" gumamnya pelan. "Aku harus melawannya." Joanne membuka kedua matanya spontan, "ini adalah ujian, semua ini rintangan yang harus aku hadapi agar aku bisa kembali bertemu dengannya…" Joanne mengepalkan kedua tangannya erat.


"Demi Neva… dan demi kebebasan," tuturnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2