
...***...
Jackson terdiam di depan mulut goa, di sampingnya Laurence terdiam sembari berusaha menyalakan api unggun guna menghangatkan tubuh mereka berdua.
Malam semakin larut, si elang tak kunjung terlelap dalam tidurnya dan hal itu membuat Jackson kesulitan mengambil Kane Collection yang di jaganya.
Di depan mulut goa yang tidak terlihat ini, mereka berdua menatap bintang-bintang. Walaupun dari luar goa terlihat seperti tebing tanpa lubang, tapi jika dilihat dari arah lain; orang yang berada di dalam goa, bisa melihat dengan jelas ke arah luar.
"Untung saja elang itu adalah penjaga yang memang terkesan lambat menyadari sesuatu. Jadi kalau kita menyalakan api unggun di depan sini, dia tidak akan sadar walaupun asapnya ke dalam." Gumam Laurence pelan.
Jackson mendengar ucapannya tapi tak merespon dan lebih memilih menatap gemerlap cahaya bintang yang bertebaran indah di langit malam. Beradu sinar dengan bulan yang kini begitu terang.
"Entah kenapa… tapi aku rasa, aku merindukan mereka berdua." Jackson mendadak mengalihkan pembicaraan.
Laurence mendongak menatap ke arahnya yang baru saja berucap.
"Siapa? Joanne dan Smith? Kedua rekanmu itu?" Tanyanya. Jackson tak merespon, bahkan mengangguk saja tidak.
__ADS_1
"Walaupun kita bukan siapa-siapa, tapi beberapa Minggu bersama mereka membuatmu perlahan mulai merasa nyaman dan mulai terbiasa dengan kehadiran mereka berdua. Jadi ketika mereka tak ada di sisiku, aku merasa… ada yang berbeda."
Laurence terdiam memandangi Jackson yang entah kenapa mengeluarkan aura berbeda dari sebelumnya.
"Mungkin… kalau suatu saat semua ini berakhir dan kami kembali menjalani kehidupan normal kami… aku akan sangat merindukan mereka berdua dan saat-saat kita bersama." Jackson menundukkan kepalanya. Hati kecilnya tak kuat membayangkan semua itu terjadi.
"Kalau semua ini berakhir, itu artinya kita juga tidak akan pernah bertemu lagi." Kata Laurence. Si kakek tua berhasil membuat perhatian Jackson beralih padanya. "Mungkin aku juga akan merindukanmu," tutur Laurence. Jackson beradu pandang dengannya.
"Apa lagi yang kita butuhkan?" Tanyanya pada wanita yang kini berdiri di sampingnya. Wanita itu tampak cantik dengan gaun yang melekat pada tubuh rampingnya, kulitnya putih dengan hidung mancung, mata indah serta rambut panjangnya yang tergerai menambah penampilannya semakin menawan.
"Kita membutuh…" wanita itu mendadak terdiam, matanya terpejam sedangkan tubuhnya mulai berusaha memperjelas energi yang di rasakannya.
"Putri?" Panggil si pelayan wanita yang sejak tadi mendampinginnya seraya membawa sekeranjang bunga dan tanaman ajaib yang mereka bawa ditangannya. "Apakah anda baik-baik saja?"
Wanita yang di pandangnya itu lalu menoleh seraya membuka matanya, menampakkan manik indahnya.
__ADS_1
"Apakah kau merasakan itu?" Tanyanya.
Si pelayan mengerutkan kening, telunjuknya menggaruk pipi kirinya. "Merasakan… apa?" Si pelayan balik bertanya, tak mengerti dengan ucapannya.
"Energi itu! Arahnya dari bagian hutan sebelah sana." Si putri menunjuk sembari berjalan cepat meninggalkan pelayannya dibelakang.
"Putri, anda mau kemana? Tunggu saya…"
Si pelayan berlari mengikuti si putri yang terus berjalan semakin menjauh dari posisinya berada.
Mereka berdua tiba di sisi lain hutan, keduanya memperlambat langkah mereka ketika si putri mulai bisa merasakan dengan lebih jelas energi yang dirasakannya berasal dari arah lain hutan.
"Putri kenapa kita kemari? Bukankah kita datang untuk memetik tanaman sihir? Kenapa kemari?" Tanya pelayan.
"Ssttt… aku menemukan yang lebih berharga."
...***...
__ADS_1