Play To Win

Play To Win
Level 164 - Satu jalan


__ADS_3

...***...


Tembok di sekitar mereka terus bergerak dari posisi semula, Jackson sudah tidak lagi memperhatikan dinding yang terus mengubah letaknya. Kini dirinya dan Laurence lebih memilih terus fokus berjalan mencari lorong yang tepat yang akan membawa mereka menuju Kane Collection yang dicarinya.


"Aku merasa berjalan tanpa tentu arah dan tujuan," gumam Jackson setelah hening beberapa saat. Laurence yang berada di dekatnya itu menoleh ke arahnya.


Si kakek tua itu masih setia berada di posisi terlentang menatap langit-langit labirin yang hanya di terangi oleh cahaya remang-remang di sepanjang jalan.


Si kakek tua sibuk menggerakkan telunjuknya, menggambar sesuatu di udara dengan asap yang keluar dari jarinya.


"Aku tahu, itu karena kau tidak kunjung menemukan jalan yang tepat menuju Kane Collection yang kita cari 'kan?" Tuturnya yang kembali fokus pada langit-langit labirin yang dilihatnya.


"Iya, begitulah." Kata Jackson.


Pria itu terus melangkah hingga tiba di sebuah jalan pertigaan dengan salah satu bagian jalan yang lebih gelap di bandingkan jalan yang dilewatinya.

__ADS_1


Jackson menghentikan langkah kakinya. Bersamaan dengan itu, dinding yang tadi terus bergerak; kini berhenti setelah membentuk jalan terakhir dan menutup semua akses jalan yang mampu dilewatinya.


Jackson terdiam, kini hanya ada satu jalan yang tersisa; dan itu adalah jalan yang berada tepat dihadapannya. Jalan yang begitu gelap dengan tanpa pencahayaan sama sekali.


Laurence setelah merasakan ada yang tidak beres, lalu segera mengubah posisinya yang semula terlentang jadi tengkurap. Si kakek tua ini benar-benar suka mengubah posisinya.


"Kenapa berhenti?" Tanya Laurence seraya menatap Jackson.


"Ada yang tidak beres, kenapa hanya jalan gelap ini yang tersisa sementara jalan lain yang bisa aku akses tiba-tiba tertutup?" Jackson menatap Laurence dengan raut wajah bingung.



"Aku tidak tahu, aku tidak terlalu akrab dengan si roh ilusi. Kami bahkan jarang bertemu satu sama lain, selain tempat tinggal kita yang memang berjauhan satu sama lain; si roh ilusi juga tidak pernah mengundangku untuk datang berkunjung ke tempatnya. Satu-satunya informasi yang aku miliki semuanya telah aku ceritakan padamu." Jelas Laurence padanya.


"Begitu rupanya… jadi kau tidak tahu kenapa semua akses jalan tertutup dan hanya tersisa yang ini?" Jackson menyimpulkan, Laurence menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.

__ADS_1


Jackson terdiam sejenak. Tak lama, ia lantas menghela napasnya pelan. "Sepertinya memang tidak ada pilihan lain."


Jackson mengeluarkan kristal rusa tanduk cahaya miliknya dan menggunakan kristal itu untuk menerangi langkahnya agar bisa tiba hingga ke ujung dan bebas dari tempatnya sekarang. Tidak ada jalan lain yang mampu ditempuhnya.


"Baiklah, ayo pergi."


"Sebentar." Si kakek tua mengubah dirinya menjadi asap yang bersinar. Melihat si kakek tua Laurence berubah seperti ini membuat Jackson teringat akan pertama kalinya mereka bertemu. Saat itu, Laurence tampak seperti saat ini.


"Ayo." Laurence menoleh padanya. Jackson mengangguk pelan, sejurus kemudian Jackson dan Laurence melangkah menuju kegelapan yang tadi mereka lihat.


Keduanya berjalan secara perlahan, bersamaan dengan itu; tembok di belakang mereka kembali bergerak mengikuti arahnya berjalan.


"Aku bisa merasakannya…" gumam Laurence pelan. Fokus Jackson beralih padanya yang baru saja berucap.


"Apa?"

__ADS_1


"Kane Collection yang kita cari." Jawabnya.


...***...


__ADS_2