
...***...
Wajahnya yang besar dihiasi dengan taring panjang nan tajam yang mencuat keluar dari mulutnya. Matanya satu dan tampak menyeramkan, apalagi dengan kepala botak dan perut buncitnya.
Sebelah tangannya menggenggam sebuah gada besar yang terbuat dari kayu dengan ujung yang berduri.
"O-oww…" Jackson melangkah mundur secara perlahan, ia hendak melarikan diri sebelum makhluk itu menyadari kehadirannya.
Pergerakannya yang lambat dan terkesan diam-diam justru menyita perhatian makhluk itu, ia menatap Jackson dan bergerak cepat menuju arahnya.
Jackson berlari sekuat tenaga, makhluk itu bergerak mengikutinya dari arah belakang.
"Sial! Aku pikir tadi adalah jalan yang tepat, ternyata jalan yang salah." Jackson terus berlari sekuat tenaganya, berusaha meloloskan diri dari makhluk besar menakutkan itu.
Makhluk itu terus bergerak, mempercepat langkahnya agar bisa menangkap Jackson yang berlari menjauh.
"Berhenti di sana kau!" Teriak makhluk itu padanya.
"Dia bisa berbicara?" Jackson semakin bergidik ketakutan.
__ADS_1
Ia mempercepat langkah kakinya, tapi langkahnya yang tergesa-gesa membuat Jackson secara tidak sengaja tersungkur jatuh hingga tak bisa bergerak.
"Argh…" Jackson meringis kesakitan. Ia refleks mengubah posisinya, menghadap ke arah makhluk tadi yang kini terus bergerak semakin cepat menuju arahnya.
"Kau takkan bisa lari lagi." Makhluk itu semakin dekat ke arah Jackson.
Jackson berusaha untuk bangun dari posisinya, tapi kakinya yang terluka membuat Jackson tak bisa bergerak sama sekali bahkan hanya untuk bangun dan kembali berlari dari tempatnya saat ini.
"Sial, kaki ku tak bisa digerakkan. Bagaimana sekarang?" Jackson berusaha berpikir jernih. Ia mulai panik bukan main saat sadar makhluk itu terus bergerak dan semakin dekat ke arahnya.
"Aku harus menahannya." Jackson bergumam pelan. Otaknya terus berputar mencari cara agar bisa meloloskan diri.
...*...
Smith yang terus melangkah dalam kegelapan akhirnya tiba di sebuah ruangan yang letaknya jauh dari tempatnya tadi jatuh.
Ruangan itu begitu luas, Smith terdiam. Matanya kini menatap ke arah dimana beberapa patung pahat berukuran besar berdiri tegak di hadapannya.
__ADS_1
"Ini…" Smith melongo menatap patung-patung besar yang tampak indah itu. Ia nyaris tak bisa berkedip melihat apa yang ada di hadapannya.
"Patung-patung ini…"
"…Bukankah semua patung ini adalah patung yang sempat aku lihat saat di pintu masuk labirin?" Smith terdiam berusaha mengingat-ingat lagi, dan ternyata benar. Semua patung yang berdiri di hadapannya itu adalah patung dewa-dewi yang terlukis dalam ukiran dinding yang berada di pintu masuk saat pertama kali dirinya melihat ukiran di dinding.
"Jumlahnya benar-benar ada tujuh," gumam Smith pelan.
Ia melangkah perlahan menghampiri setiap patung yang ada di sana.
Patung itu benar-benar besar, tinggi dan ukurannya sama seperti patung Liberty yang ada di Amerika.
Smith menghampiri satu patung, di sana terukir beberapa lambang dan gambar lain yang tampak berisi isyarat yang sama seperti lambang-lambang lain yang terukir di dinding yang tadi dilihatnya.
Smith memperhatikan satu ukiran berbentuk benda yang ia perkirakan sebagai Kane Collection yang ada di dalam sana.
Smith menatap ukiran tersebut lekat. Ukiran itu tampak berbeda dari yang pernah dilihatnya sebelumnya. Ukiran berbentuk benda yang ia perkirakan Kane Collection itu bersinar terang.
"Ini…" Smith mengusap pelan ukiran Kane Collection tersebut.
__ADS_1
...***...