Play To Win

Play To Win
Level 112 - Reaksi


__ADS_3

...***...


Smith bangun dan membantu Joanne. "Sekarang bagaimana kita bisa menghindari tatapan matanya? Itu akan sangat sulit," tutur Joanne.


"Kita pasti bisa menghindari tatapannya dan menyerang tanpa perlu beradu pandang dengannya." Kata Smith.


"Ternyata kalian sudah tahu dengan kemampuanku…" si raksasa hitam itu bergumam.


Smith dan Joanne spontan menoleh ke arahnya.


"Sekarang yang harus kau ingat hanyalah jangan bertatapan dengannya!" Smith mengingatkan, Joanne menganggukkan kepalanya.


"Aku takkan membiarkan kalian lolos begitu saja." Ular itu bergerak menuju arah mereka.


Smith dengan cepat mengangkat pistol dalam genggamannya, menembak si raksasa hitam itu berulang kali. Tapi setiap kali, ia berusaha menyerangnya; setiap kali itu juga tubuhnya berubah membatu.


Joanne ikut menyerang, menembak si raksasa hitam itu berulang kali.


Ular itu berusaha menyerang mereka secara langsung, Smith dan Joanne bergerak ke arah yang berlawanan setiap kali ia menyerang.


Smith melompat, bergerak dari sudut yang satu ke sudut yang lain. Joanne terus menyerang, menembak berulang kali dari arah yang berbeda.


"Kalian tidak akan bisa mengalahkan ku!" Si ular kembali berucap.

__ADS_1


"Pasti ada cara untuk mengalahkanmu!" Smith menembaknya, sialnya setiap serangannya sama sekali tak mempan baginya.


Si ular bergerak ke arah Smith, menyerangnya berulang kali. Smith bergerak berusaha untuk menghindar, "aku akan mulai darimu!"


Si ular bergerak mengelilingi Smith, melingkari dirinya dan membuat Smith berada tepat di tengah-tengah tubuhnya.


"Lepaskan dia!" Teriak Joanne yang segera menembak si ular menggunakan pistolnya.


Fokus si ular beralih padanya. "Aku akan mengurusmu nanti," ucap si ular pada Joanne.


Smith menembak tubuh si ular dari dalam. Namun lagi-lagi tubuhnya mengeras menjadi batu.


"Kau takkan bisa menyakitiku." Tubuhnya mulai bergerak memperkecil ruang gerak Smith.


"Argh…" Smith tak bisa bergerak, tubuhnya di cengkram erat si hitam.


"Smith!" Joanne kelabakan mencari cara untuk membantu rekannya itu.


"Kalian sudah berani datang ke tempatku, dan sekarang kalian harus merasakan akibatnya." Ular itu mendekatkan kepalanya ke arah Smith. Matanya mulai berubah menjadi merah menyala.


Smith segera memalingkan wajahnya ke arah lain. "Aku jangan sampai beradu pandang dengannya." Smith terus merapal kalimat itu dalam benaknya.


Si ular menjulurkan lidah bercabangnya. "Tataplah mataku,"

__ADS_1



...*...


"Aku tidak bisa merasakan tubuhku sama sekali," pikir Jackson yang merasakan semua ular itu yang semakin erat melilit tubuhnya.


"Argh…" Jackson mulai kehabisan oksigen. Semua ular itu terus bergerak melilit tubuhnya.


Ular yang melilit tubuh Jackson tanpa sengaja membuat ramuan yang di dapatnya itu keluar dari dalam kantong pakaiannya.


Ramuan itu tumpah membuat semua ular itu seketika bereaksi, semuanya menggelepar bagaikan ikan yang kehabisan air untuk bernapas.


Lilitannya mendadak melonggar. Jackson kembali bisa bernapas lagi, dan ia mulai bisa merasakan tubuhnya lagi.


"Apa yang terjadi? Kenapa mereka semua bersikap aneh?" Batin Jackson.


Semua ular itu perlahan bergerak menjauh dari tempat Jackson berada saat ini, menyisakan dirinya dan beberapa ular yang telah mati di dekatnya.


Jackson beranjak bangun, ia memandangi botol berisi ramuan yang tinggal satu per empatnya lagi.


"Apakah gara-gara ini?" Jackson meraih botol itu, menggenggam seraya memandanginya sejenak.


...***...

__ADS_1


__ADS_2