
...***...
Akhirnya membuatnya harus merangkak untuk bisa lari. Tak lama, beast lain keluar. Tubuhnya lebih besar dengan perawakan seperti seorang pria jantan. Beast itu berdiri di ambang pintu dengan tangan memegang kapak besar di tangannya. Baju yang dikenakannya berlumuran dengan darah, hingga mencapai bagian wajahnya.
Beast itu celingukan mencari beast lain yang tadi bersamanya.
Joanne menelan saliva-nya susah payah, keringat dingin mulai mengucur deras membasahi wajah imutnya.
"Kau pergi kemana kau!" Teriak beast besar itu yang kemudian berjalan cepat menuju beast perempuan tadi.
"Tidak! Aku tidak mau!" Pekik beast itu ketakutan seraya mempercepat langkahnya yang merangkak.
"Kau tidak bisa lari begitu saja! Kau harus bertanggung jawab, karena kau sudah membuat kesalahan!" Beast itu menghampirinya. Mengangkat tubuhnya lalu membawanya seperti karung beras menuju ruangan tadi. Beast betina itu berteriak histeris dan minta untuk di turunkan, namun suaranya tak digubris siapapun.
Ia dibawa masuk, kemudian pintunya ditutup rapat agar tak ada orang yang melihat.
__ADS_1
Joanne mulai merasa gemetar, kakinya mulai terasa lemas dengan wajahnya yang semakin pucat pasi. Dari dalam sana, ia dapat mendengar suara gedebruk yang begitu keras, seperti seseorang yang hendak di eksekusi mati tapi berusaha memberontak sekuat tenaga.
"Diam!" Beast tadi di dengarnya membentak dari dalam sana.
"Tidak! Jangan!" Beast betina itu ketakutan. "KYAAAA!!!" Teriakan itu menggema seisi desa, bersamaan dengan itu; Joanne jatuh pingsan.
...*...
"Joanne!" Sekali lagi, suaranya kali ini terdengar lebih jelas.
Joanne perlahan membuka kedua matanya. Pandangannya kabur, membuatnya harus beberapa kali mengerjapkan mata hingga benar-benar bisa melihat keadaan sekitar dengan jelas.
Joanne tersentak kaget begitu mendapati seorang beast dengan wajah garang duduk memperhatikan dirinya di depan sana.
__ADS_1
Joanne memberontak, tubuhnya kali ini terikat di sebuah kursi kayu dengan bagian mulutnya yang kini tersumpal benda yang sama.
"Joanne!" Seseorang memanggilnya pelan, Joanne menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati Jackson serta Smith yang tengah duduk di sisi ruangan itu yang tak tersinari cahaya lampu.
Kedua rekannya juga terikat dengan posisi yang sama, hanya saja bagian mulut mereka tak disumpal dengan benda yang memenuhi mulutnya saat ini.
Seorang beast tiba-tiba keluar dari kegelapan dan menghampirinya, melepaskan tali yang menyumpal mulutnya itu. Joanne memuntahkan benda itu ke arah beast dihadapannya, melakukan hal serupa yang ia lakukan pada beast yang tadi dilihatnya ketika ia tersadar.
Tapi, tunggu. Dimana dia sekarang? Ruangan ini tampak asing. Ruangan gelap dengan hanya ada satu pencahayaan dari lampu yang kini berada tepat di bawahnya, entah kenapa tapi ia merasa seperti berada di dalam ruang interogasi dan duduk seakan-akan dirinya adalah seseorang yang telah lakukan tindakan kriminal dengan beast yang duduk dihadapannya seakan polisi.
Beast itu menghela nafasnya kasar, dari hembusan nafasnya; Joanne dapat melihat asap keluar dari kedua lubang hidungnya yang besar itu. O-ow, dia sudah membuat kesalahan. Beast itu kini tampak marah.
Joanne menelan ludah, beast itu bangun dan mendekatkan wajahnya ke arah Joanne membuat gadis itu spontan bergerak berusaha menjauhkan wajahnya agar tak bersentuhan dengan wajah berbulu beast itu.
"Katakan!"
__ADS_1
...***...