Play To Win

Play To Win
Level 157 - Dinding


__ADS_3

...***...


"B-berubah lagi…" Joanne mulai panik. Rasa takut sudah semakin besar menyelimuti dirinya yang tersesat dalam labirin dewa-dewi dan tak kunjung menemukan jalan keluar untuk bisa bertemu kedua rekannya yang sama-sama hilang.


"Aku harus bagaimana sekarang? Bagaimana cara agar aku bisa bertemu dengan Jackson dan Smith serta keluar dari dalam labirin ini?"


Kedua mata Joanne berkaca-kaca. Ia jatuh terduduk di tempatnya berada dengan kepala tertunduk.


"A-aku takut…"



...*...


Smith masih tenang. Ia terus melangkah mencari jalan keluar serta mencari keberadaan kedua rekannya yang raib entah kemana.


"Mereka benar-benar tidak bisa aku temukan di manapun." Gumamnya pelan.


Smith berhenti sejenak di lorong sepi yang dilaluinya. Ia berdiri di sana seraya menatap lurus ke depan.


Di depan sana ada jalan bercabang yang entah akan membawanya kemana.

__ADS_1


"Pasti ada sesuatu dengan tempat ini yang membuatku tak bisa menemukan Jackson dan Joanne." Tuturnya.


Fokusnya beralih ketika suara benda bergerak di belakangnya membuat Smith terkejut. Ia menoleh spontan dan mendapati dinding yang telah berdiri kokoh tepat di belakangnya, menutup akses menuju tempat semula yang telah dilaluinya.


"Ini… apa yang terjadi?"


Smith menghampiri dinding dan berdiri tepat di depan benda itu. Tiba di sana, Smith berdiri seraya menatap dinding tersebut dari atas sampai bawah.


"Sejak kapan dinding ini ada di sini?" Gumam Smith pelan.


Atensinya berubah, ia berjongkok di depan dinding tersebut. Fokus matanya memandangi ukiran yang ada di dinding di hadapannya.


"Dinding ini bergerak," tuturnya begitu sadar dinding yang dilihatnya adalah dinding yang sama dengan yang terakhir kali ia lihat ketika dirinya masih bersama dengan Jackson dan Joanne.


"Apakah mungkin…" Smith beranjak bangun dari posisinya semula.


Ia menatap dinding di hadapannya, fokusnya beralih menatap ke setiap dinding yang berdiri kokoh tepat di sekelilingnya.


"…Setiap dinding di ruangan ini, terus bergerak sesuai dengan seberapa banyaknya aku bergerak?"


...*...

__ADS_1


"Mungkinkah hanya perasaanku saja?" Gumam pria itu seraya menatap ke arah dimana ia datang. Setelah cukup lama terdiam menatap ke arah belakang, ia lantas berbalik siap untuk melanjutkan langkahnya.


Suara itu kembali di dengarnya, pria itu berbalik spontan dengan lebih cepat begitu suara tersebut di dengarnya dan kali ini ia melihat tembok di belakangnya bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain.


Pria itu berlari menghampiri tembok yang semula menjadi jalan masuknya.


"A-apa yang terjadi? Kenapa dindingnya bergerak?" Si manusia burung terkejut bukan main.


Ia berdiri di dekat dinding, menempelkan kedua telapak tangannya ke arah dinding dan berusaha untuk menggeser dinding itu ke tempat semula.


"Tidak bisa," ucapnya dengan raut wajah yang mulai panik.


Si manusia burung kembali mencoba menggeser dinding yang tadi dilihatnya bergerak. Tapi mendadak dinding lain di dengarnya juga bergerak dari satu sudut ke sudut lain.


Pria itu menoleh cepat, sekarang dua jalan keluarnya sudah tertutup; menyisakan beberapa lorong saja.


"Sial! Dindingnya terus bergerak," tuturnya.


Ia menghampiri dinding tadi, akan tetapi beriringan dengan langkah kakinya yang menghampiri dinding tadi; dinding lain yang tersisa di sekitarnya juga mulai bergerak membentuk kubus tanpa celah yang membuat pria itu terjebak di dalam dan mustahil untuk keluar.


"Ini…" si manusia burung terdiam.

__ADS_1


...***...


__ADS_2