
...***...
"Tidak terasa, perjalanan kita ternyata terus berjalan tanpa kita sadari, dan dengan semua kekacauan yang kita alami… perlahan kita mulai bisa melupakan sejenak mengenai masalah yang kita hadapi. Seperti kehilangan orang-orang yang kita sayangi…" Joanne menundukkan kepalanya, ia kembali teringat akan Neva yang masih belum bisa ia selamatkan. Jackson dan Smith menoleh ke arahnya serentak, raut wajah gadis itu tampak murung.
"Ya… kau benar." Sahut Jackson.
"Perjalanan kita masih sangat panjang. Masih ada banyak rintangan di depan sana yang terus menghadang, tapi aku yakin… semua kerja keras kita ini… pasti akan terbayar dengan apa yang selama ini kita inginkan," ujar Smith.
...*...
"Aku lelah." Poo mendaratkan bokongnya di atas undakan yang ada di sana.
__ADS_1
"Bukan hanya kau yang lelah, aku juga sama lelahnya denganmu." Lulu menghampirinya lalu duduk tepat di sampingnya.
Sudah satu Minggu berlalu semenjak mereka mendapatkan hukuman dari kepala desa, dan sudah satu Minggu juga mereka menjalani masa hukumannya.
Saat ini Poo dan Lulu sedang berada di padang tak jauh dari desa, mereka sedang berburu untuk mendapatkan rusa agar nanti malam; mereka bisa makan.
"Hari sudah mulai berakhir, tapi kita belum menangkap satu ekor rusa pun," gumam Lulu, matanya menatap ke arah barat dimana matahari terasa lebih terik di sana.
Langit sudah mulai tampak perlahan berubah gelap, sudah berjam-jam lamanya mereka berkutat di sana untuk menangkap rusa. Tapi usaha mereka sama sekali belum membuahkan hasil, rusa-rusa itu terus berlarian dan menjauh dari mereka. Itu cukup untuk membuat mereka berdua frustasi, ditambah lagi dengan alat yang diberikan kepala desa… oh semakin berat usaha mereka.
Lulu menoleh ke arahnya. "Sudahlah jangan menyesali apa yang telah terjadi. Semuanya sudah berlalu dan tidak akan ada yang bisa diubah. Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menjalani apa yang harus kita jalani, kalau kau terus meratapi yang telah terjadi maka kau tidak akan pernah bisa beranjak dari tempatmu saat ini." Lulu bangun dari tempatnya, menggenggam pisau di tangannya erat. Matanya mengedar mencari rusa yang hendak di tangkapnya.
Poo mendongak memandangi Lulu, selama ini beast itu selalu ada untuknya tak peduli susah maupun senang. Beast itu senantiasa menemaninya dan tetap bersamanya walaupun harus menghadapi banyak kesulitan dan masalah yang telah diciptakannya.
__ADS_1
Semenjak kehilangan kedua orangtuanya, Poo dan Lulu tak pernah terpisahkan dan terus bersama.
Poo beruntung memiliki Lulu di sampingnya.
"Lulu…" panggil Poo. Beast yang di panggilnya lalu mendongak menatap Poo. "Terima kasih sudah selalu ada untuk menemaniku."
"Itulah gunanya sahabat." Lulu tersenyum. Poo balas tersenyum ke arahnya.
"Sudahlah, ayo kita pergi dan kita tangkap rusa-rusa itu. Kita harus harus menangkap mereka sebelum malam tiba," ujar Lulu penuh semangat.
Poo beranjak bangun dari tempat duduknya. "Baik, ayo!" Sahutnya seraya mengangguk mantap.
Mereka berdua lalu beranjak pergi dari sana dan mulai berlarian berusaha untuk menangkap rusa-rusa yang berkeliaran di padang rumput.
__ADS_1
...***...