
...***...
Jackson beralih menatap semua ular yang ada di sana. Semuanya tampak ketakutan, bersembunyi di setiap celah yang ada seraya menjulurkan lidah mereka sesekali.
"Jadi, ini reaksinya terhadap mereka semua? Kalau mereka sampai kena cipratan ramuan ini, mereka bisa mati?" Gumam Jackson.
"Bagus. Itu berarti sekarang aku bisa membantu Joanne dan Smith."
Jackson berlari dari ruangan itu, pergi menyusuri lorong berharap bisa menemukan jalan yang tepat menuju keluar dari dalam tempat yang gelap itu.
...*...
"Lepaskan dia!!!" Joanne terus menembak si ular, berharap dia mau melepaskan Smith dari lilitannya.
"Argh!" Joanne kesal sendiri jadinya. Ia tak berhenti, dan terus menembak. "Aku akan membuatmu melepaskan dia bagaimanapun caranya!" Joanne kini beralih menembak bagian wajah si ular.
"Lepaskan dia!" Teriak Joanne lagi yang berhasil membuat fokus si ular beralih padanya.
__ADS_1
Joanne memejamkan kedua matanya dengan tangan yang terus menembak, jika ia beradu tatap dengannya; maka ia akan berubah menjadi batu.
Si ular menjulurkan lidahnya, ekornya bergerak cepat menghantam Joanne yang dalam sekejap tersungkur jatuh di lantai dengan posisi terkapar.
"Argh…" Joanne meringis kesakitan, layar sistem mendadak muncul menampakkan persentase energi yang ia miliki. Hanya tinggal 29,0% lagi. Sesuatu yang benar-benar mengejutkan.
Joanne berusaha untuk bangun dari posisi jatuhnya. Tubuhnya benar-benar terasa sakit akibat hantamannya keras dari si ular hitam raksasa.
"Sudah aku bilang, aku akan memberikanmu nanti!" Tukas si ular yang kembali beralih fokus pad Smith uang tengah di lilitnya.
Joanne meringis, tubuhnya terasa remuk hanya karena kibasan ekornya.
"Darah…" lirihnya.
Joanne menatap si ular yang kini menggerakkan ekornya, meraih dagu Smith dan memaksanya untuk menatap padanya.
Kedua tangan Smith yang tak bisa di gerakan sama sekali, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Berulang kali Smith berusaha untuk menghindar, memejamkan kedua matanya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sialnya si ular berhasil mengambil kendali atas tubuhnya.
"Smith… tidak…" Joanne berusaha untuk bangun, aksinya tertahan rasa sakit yang menjalar pada tubuhnya.
__ADS_1
Ular itu mendesah. Smith membuka kedua matanya spontan seakan-akan suara desisnya mengandung mantra yang membuat setiap mata yang terpejam langsung terbuka.
Mata si ular kembali bersinar, berubah mereka. Smith beradu pandang dengannya dan perlahan tubuhnya mengeras menjadi batu.
"Smith!!! Tidak!" Joanne meratapi nasib rekannya. Tubuh Smith semakin tak bisa bergerak hingga akhirnya berubah menjadi batu dalam seketika.
Selesai mengubah Smith menjadi batu, si ular kini beralih fokus pada Joanne yang terkapar di sana.
"Kau telah membuat rekanku menjadi batu, akan aku beritahu kalau apa yang kau lakukan adalah kesalahan besar." Joanne bangun tertatih, darahnya masih mengalir di keningnya.
Tubuhnya sakit, tapi Joanne berusaha untuk tak menghiraukan semua rasa sakitnya itu.
Hatinya sesak, melihat Smith menjadi batu rasanya sama seperti saat ia melihat sahabatnya Neva hilang tepat di depan matanya.
Joanne tak bisa membiarkan semua itu. "Akan aku balas…" Joanne meraih pistolnya, mengencangkan cengkramannya.
"Akan aku bunuh kau!!!" Joanne berlari ke arah si ular, menembak si hitam itu berulangkali.
...***...
__ADS_1