Play To Win

Play To Win
Level 150 - Ukiran dinding


__ADS_3

...***...


BRUKK!!


Jackson, Joanne dan Smith jatuh bersamaan ketika mereka bertiga saling bertabrakan satu sama lain. Mereka meringis kesakitan, dan membuka keduanya spontan.


"Jackson."


"Joanne."


"Smith."


Ketiganya menyerukan nama masing-masing ketika mereka sadar siapa yang baru saja bertabrakan dengan mereka hingga terjatuh.


Mereka bangun spontan dan bergerak mendekat satu sama lain. "Akhirnya kita bertemu lagi." Joanne tersenyum ke arah kedua rekannya. Ia tak bisa membendung kebahagiaannya ketika pada akhirnya berhasil bertemu dengan kedua rekannya lagi.


"Aku bahagia bisa bertemu lagi dengan kalian." Jackson nyaris menangis. Entahlah, ia jadi sensitif kalau sudah berhubungan dengan perpisahan.


"Aku juga senang bisa bertemu kalian lagi." Smith tersenyum simpul.



Atensi mereka bertiga mendadak beralih ketika suara dari masing-masing makhluk yang mengejar mereka kembali terdengar membuat mereka sadar bahwa keadaan belum aman.

__ADS_1


"Kita tunda reuninya dulu, sekarang lebih baik kita masuk dan bersembunyi." Kata Smith pada kedua rekannya.


Mereka bertiga bangkit dari posisinya dan segera berlari masuk ke dalam bangunan tua yang semula mereka lihat berada di hadapan mereka.


Griffin, elang, dan si manusia burung akhirnya tiba di bangunan itu. Mereka tak bisa berbuat apa-apa selain terbang di sekitar tempat itu tanpa bisa masuk.


Larangan dan hukum yang akan mereka dapatkan akan membuat mereka binasa kalau melangkah masuk ke dalam sana.


Namun hanya berlaku bagi Griffin dan elang. Tidak bagi si manusia burung yang kini mengubah tubuhnya menjadi manusia dan berhenti di tempatnya sejenak.


Ia mendongak menatap Griffin dan elang yang tampak resah karena tak bisa masuk ke dalam sana.


"Kenapa ada Griffin dan elang juga di sini? Siapa yang mereka kejar? Apakah ada pencuri yang juga mengambil Kane Collection mereka?" Gumam si manusia burung.


...*...


"Mereka tak mengejar kita sampai kemari?" Gumam Joanne.


"Keadaan sudah aman. Sepertinya memang pilihan yang tepat kita datang kemari." Jackson tersenyum simpul.


"Lega rasanya tak perlu terus berlari lagi," gumam Joanne.


Sementara keduanya berbicara, beda halnya dengan Smith yang merasa ada sesuatu yang tidak beres. Instingnya mengatakan kalau tempat yang mereka masuki bukanlah tempat biasa.

__ADS_1


Smith mengeluarkan kristal rusa tanduk cahaya dan memakai benda itu sebagai penerangan di dalam ruangan yang begitu gelap itu.


Joanne dan Jackson spontan menggunakan kristal rusa tanduk cahaya ketika melihat Smith yang mengenakannya sebagai penerangan.


"Sepertinya lebih baik kalau kita keluar lewat pintu lain di sini." Kata Jackson.


"Ide yang bagus, dengan begitu mereka tak akan sadar kalau kita keluar dari sini." Joanne setuju.


Smith masih tak menghiraukan ucapan mereka berdua. Pria itu kini berjalan menghampiri dinding yang terasa aneh. Ada ukiran di dinding yang cukup unik.


"Teman-teman…" Smith memanggil kedua rekannya.


Joanne dan Jackson menghampiri Smith dan berdiri di sisi kiri dan kanannya.


"Ada apa?" Jackson mendongak menatap ke arah yang dilihat Smith.


"Lihat semua ini." Smith menunjuk ke arah ukuran yang ada di dinding.


"Ukirannya seperti sebuah ukiran yang aku lihat di museum ketika liburan dengan Neva." Gumam Joanne ketika melihat ukiran di dinding yang dilihatnya


"Ukiran ini…"


...***...

__ADS_1


__ADS_2